Cagar Bahasa Minahasa di Kampung Jawa

111232_jatonTondano – Di sebuah dataran tinggi Tondano, terselip pemukiman yang disebut warga sebagai Kampung Jawa. Para pemukimnya mengenakan beskap dan blangkon dalam acara adatnya, namun mereka tidak berbahasa Jawa, tapi Minahasa.

Maklum saja Kampung Jawa yang sudah berusia hampir 200 tahun ini berada di Minahasa. Persisnya tidak jauh dari Danau Tondano, Tondano, Sulawesi Utara. Mereka menegaskan identitas etnisnya sebagai Jawa Tondano alias Jaton.

Lantas mengapa berbeda dengan banyak komunitas lain keturunan Jawa di luar Jawa yang berbahasa Jawa dalam pergaulannya seperti Jawa Deli di Sumut? Bahkan para keturunan Jawa yang berada di Suriname, Belanda dan Cape Town, Afrika Selatan, masih fasih berbahasa Jawa.

“Nenek-nenek moyang kami yang dibuang ke mari oleh kolonial Belanda, spontan melebur dengan suku-suku lokal,” jelas Sukirman Haji Djafar Maspeqih Wonggo, sesepuh Jaton.

Pria yang sekilas mirip mantan Gubernur Lemhannas, Muladi, ini kemudian memaparkan asal muasal Jaton yang merupakan subetnis Minahasa. Nenek moyang etnis Jaton adalah 63 orang pasukan perang Pangeran Diponegoro yang ditangkap kolonial Belanda pada 1928 dan setahun kemudian dibuang ke Tondano.

Pasukan perang ini buang bersama Muslim Muchammad Chalifah, salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Baru pada 1830 mereka dipertemukan lagi dengan Pangeran Diponegoro yang juga dibuang ke Tondano.

Berkat tindak tanduknya yang sopan dan merendah, mereka si mendapat simpati kepala-kepala suku Minahasa. Proses asimilasi yang menjadi asal muasal lahirnya etnis Jaton dimulai perkawinan antara si panglima perang dan buahnya dengan wanita etnis Minahasa.

Kawasan tempat keluarga baru Jawa-Minahasa ini dinamakan Kampung Jawa. Di kampung itu Muslim Muchammad Chalifah berganti nama menjadi Kyai Modjo sembari menyebarluaskan ajaran Islam.

“Sesuai ajaran Islam, di mana bumi dipijak di situ langitnya dijunjung. Termasuk soal bahasa,” sambung Sukirman di Kampung Jawa, Tondano, Sulawesi Utara, Minggu (5/5/2013).

Karena aktif berbahasa Minahasa, generisi penerus Jaton tidak bisa berbahasa Jawa. Bahasa daerah Minahasa yang digunakan punya unsur serapan dari kosa-kosa kata bahasa Jawa melengkapi kata-kata yang tidak ada di dalam bahasa Minahasa.

Bahasa daerah Minahasa Jaton ini hanya sedikit berbeda dari bahasa Minahasa asli. Tapi uniknya justru bahasa Minahasa Jaton yang ada di Kampung Jawa ini lebih lestari dibandingkan bahasa Minahasa asli dari daerah mana pun di Sulawesi Utara.

“Di tempat lain yang dipakai kan bahasa Melayu dialeg Menado. Jadi orang-orang tua bilang kalau mau belajar bahasa Minahasa, ya harus ke Kampung Jawa,” papar Sukirman.

Sayangnya sejarah, keunikan dan semangat perjuangan dari nenek moyang, semakin kurang dipahami oleh generasi muda Jaton. Situasi ini yang dikhawatirkan sesepuh Jaton bisa menjadi masalah atau benih perpecahan di masa-masa mendatang.

Sumber : detik.com

iklan1
iklan1