“Mari Jo… Brenti Perkosa Teluk Manado”

Teluk Manado

Teluk Manado

SulutToday – Kalau Anda kebetulan mampir di Kota Manado sekarang ini di mana-mana ada tulisan kampanye antimabuk, dengan ajakan berbunyi: “Mari Jo … Brenti Bagate.”

Banyak sekali tulisan itu dan hampir ada di setiap sudut kota, pada reklame, pada poster ukuran besar maupun kecil, sehingga timbul kesan bahwa mabuk sedang benar-benar mewabah di antara masyarakat Kota Manado.

Kampanye itu didukung Pemda Manado dan badan-badan pemerintah lainnya. Tetapi entah apa yang sedang dilakukan aparat untuk mendukung warganya berhenti mabuk-mabukan itu.

Kalau kita punya waktu sedikit untuk berjalan kaki dari ujung barat sampai ujung timur Teluk Manado yang segaris dengan Boulevard Jalan Piere Tendean, maka kesan yang muncul adalah justru Pemda abai terhadap potensi yang justru bisa membantu warga menghentikan dan melupakan aksi mabuk itu.

Teluk Manado itu begitu indah, baik di pagi hari maupun petang hari. Di sana kita bisa menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Teluk Manado yang ombaknya juga tidak terlalu besar benar-benar merupakan berkah dari Tuhan untuk dipandangi atau untuk dimanfaatkan bagi kepentingan ekonomi warga.

Kalau kita berdiri di pantai Teluk Manado, kita bisa menyaksikan di kejauhan Gunung Manado Tua yang menyembul bagai segitiga raksasa dari laut. Di sebelah kanannya tampak Pulau Bunaken dan Siladen – dua lokasi yang sudah menjadi ikon wisata di Sulawesi Utara.

Tetapi berkah itu rupanya tidak disyukuri. Buktinya, hampir seluruh bibir pantai ditutupi warung kopi dan warung berbagai jenis makanan. Kasihan warga Manado yang hendak menikmati berkah Tuhan, pemandangan laut di pagi dan petang hari tadi, malah disuguhi bangunan-bangunan yang berantakan, tidak tertata rapi, terutama yang berada di belakang Bahu Mall.

Di belakang Bahu Mall itu sebenarnya juga ada Patung Ikan Laut Raja yang berpotensi menjadi ikon Teluk Manado, seperti halnya patung singa yang lama kelamaan menjadi ikon Singapura. Tapi patung ikan purba yang khas ada di Sulut itu tampak tidak diurus untuk dijadikan ikon dan tempat wisatawan domestik berfoto-foto untuk membuat kenangan indah tentang Teluk Manado.

Ke sebelah barat patung ikan itu, kita bisa berjalan di bibir pantai karena kebetulan ada floor datar di atas bebatuan besar pendukung reklamasi pantai itu. Jumat pagi, saya berpapasan dengan seorang ibu hamil yang berjalan-jalan memanfaatkan floor memanjang tersebut. Saya juga berpapasan dengan serombongan anak-anak muda berwajah Ambon sedang berlatih taekwondo.

“Selamat pagi. Kami sedang latihan taekwondo, Pak! Ini tempatnya lumayan enak,” ujar salah seorang pemuda itu ketika saya mencoba menyapa mereka. Artinya ada kebutuhan warga Manado untuk menjaga kebugaran dengan memanfaatkan lokasi pantai. Namun floor itu tampak tidak dirancang atau dimaksudkan sebagai jogging track sebab ketika dilintasi sungai, floor itu buntu dan patah tidak dibuatkan jembatan.

Di ujung barat, floor itu buntu sama sekali. Ada pagar besi yang menghalangi pejalan kaki untuk menelusuri pantai lebih ke barat lagi, sejajar dengan Jalan Wolter Monginsidi. Tapi di ujung floor yang buntu itu, saya berpapasan dengan enam warga yang duduk santai di kursi dan bangku menghadap laut. Satu di antara mereka berseragam olahraga, lengkap dengan sepatunya. Mereka bercerita juga kekecewaan mereka terhadap keberadaan warung-warung itu.

“Tapi saya dengar itu nanti akan dibongkar. Cuma entah kapan,” kata Freddy, salah satu di antara mereka.

Memang di pantai itu sedang dibangun Star Square dan apartemen Lagoon Tamansari. Melihat maket apartemen itu ada gambar perahu-perahu layar di pantai di depannya. Logikanya warung-warung itu nanti dibongkar ketika apartemen sudah berdiri. Tapi itu masih lama, paling cepat setahun ke depan.

Suasana di Pantai Teluk Manado sungguh jauh berbeda dengan suasana di Pantai Losari Makassar, apalagi di Pantai Kuta Bali – di mana Pemda menghargai indahnya pantai dan berusaha mendukung warganya untuk hidup sehat dengan membangun jogging track di sepanjang bibir pantai.

Pantai Losari dan Kuta memberikan kesempatan kepada warga dan turis untuk berolahraga, hidup sehat, atau menikmati akhir pekan, berpiknik dengan santai dan murah.

Sabtu pagi, dari depan Quality Hotel, tempat saya menginap di sisi barat Boulevard Jalan Piere Tendean, saya berjalan ke arah timur, berusaha menelusuri pantai Teluk Manado hingga ke ujung. Dan, di ujung timur saya bertemu rombongan senam, persis di depan gerai McDonald.

Sepanjang menelusuri bibir pantai ke arah timur, perasaan sedikit lega karena pemandangan laut bisa dinikmati di belakang Manado Town Square, yang disingkat Mantos. Di bibir pantai kebetulan ada jalan beraspal. Di sana tidak dibangun warung-warung, sehingga jalan beraspal dimanfaatkan warga sebagai jogging track, sambil mereka menikmati pemandangan laut, yang biru.

Tetapi kemasygulan muncul lagi ketika kita berjalan lebih lanjut dan menemukan kembali bangunan kafe sepanjang bibir pantai di belakang Mega Mall. Cafe-cafe itu bahkan didirikan semi parmanen. Memang lebih rapi daripada warung-warung yang berderet di belakang Bahu Mall tadi.

Pemandangan yang menyegarkan baru muncul lagi setelah melewati gedung Youth Center Manado hingga gerai McDonald, karena di bibir pantainya tidak lagi ada cafe-cafe itu. Depan McDonald dan KFC merupakan pemandangan terbaik di ujung timur bibir pantai Teluk Manado. Rupanya pemilik kedua gerai tersebut lebih mengerti kebutuhan warga Manado daripada aparat Pemda.

Di pagi dan petang hari ketika pantai Teluk Manado sedang memancarkan keindahannya, warga justru tidak bisa menyaksikannya dengan bebas, dengan lepas, untuk menyegarkan pikiran dan menyehatkan badan. Warung dan cafe itu tutup atau tidak berkegiatan saat warga melek.

Warga Manado malah seperti dipaksa untuk makan-makan dan minum-minum di warung dan cafe yang pasti tidak menyehatkan di malam hari, bersama dengan gelapnya Teluk Manado.

Putar balik dari seputar McDonald, saya kembali ke hotel menelusuri boulevard Jalan Piere Tendean. Banyak anak-anak bermain bola plastik, ada yang bersepeda, ada juga yang menari massal di sepanjang jalan. Rupanya hari itu sedang berlaku kebijakan car free day.

Sampai di hotel, seperti kemarin, saya kembali menikmati bubur manado yang enak dan menyehatkan karena banyak sayur di dalamnya.

Tapi selagi menikmati bubur manado itu, pikiran saya terus melayang-layang di seputar Pantai Manado.

Kapan keindahan Teluk Manado tak diperkosa lagi oleh kepentingan bisnis segelintir orang, yang menguasai warung-warung itu.

Saya juga jadi ingin membuat kampanye “Mari jo… brenti perkosa Teluk Manado!

Sumber : Kompas.com

Editor : Agung Yulianto Nugroho

iklan1
iklan1