Nonton Balapan Roda Sapi Digelar di Minahasa Utara

Balapan Roda Sapi

Balapan Roda Sapi

MINAHASA UTARA,  – Kalau di Madura ada karapan sapi, maka di Minahasa Utara ada balapan roda sapi. Yang membedakan dari kedua lomba ini, adalah tempat berdirinya joki.

Di Minahasa Utara joki berdiri di atas sebuah gerobak yang punya dua buah roda dari kayu yang ditarik oleh dua ekor sapi, seperti yang terlihat pada balapan roda sapi yang digelar di Desa Kolongan, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara, Sabtu (5/10/2013).

“Lokasi balapan ini namanya Mega Kapuk, tanah ini milik Olly Dondokambey yang dia izinkan untuk digunakan menggelar lomba yang sudah menjadi tradisi di sini,” ujar salah satu warga yang tidak mau disebutkan namanya.

Tanah lapang hijau yang sangat luas itu memang terletak tidak jauh dari rumah Ketua Komisi XI DPR sekaligus Bendahara Umum PDI-P yang beberapa pekan lalu digeledah KPK.

Menurut warga, Olly telah mengizinkan penggunaan tanahnya itu sejak dari beberapa tahun lalu. Warga merasa sedang karena punya lokasi yang luas untuk menggelar tradisi yang sudah turun menurun itu.

“Lomba pacuan roda sapi ini sudah sejak nenek moyang kami. Kami ini tinggal meneruskan saja. Beruntung ada lokasi yang luas seperti ini. Kami berharap pemerintah daerah bisa memfasilitasi event tahunan yang bisa menarik kunjungan wisata dengan tradisi lomba ini,” ujar Lidya Ransun, seorang anggota panitia kepada Kompas.com.

Menurut Lidya, dalam dua hari belakangan ada 46 pasangan roda sapi yang diperlombakan. Hari ini merupakan babak final dari pasangan roda sapi yang lolos dalam babak penyisihan sebelumnya.

Beberapa nomor perlombaan digelar seperti nomor 250 meter, 200 meter dan 150 meter. Masing-masing juara di setiap nomor disediakan hadiah dan juga piala. “Untuk pemenang terbaik kami sediakan hadiah berupa sapi unggul yang bisa dijakan sebagai sapi balapan di kemudian hari,” tambah Lidya.

Menurut Lidya sapi-sapi yang diikutkan dalam lomba balapan tersebut merupakan sapi pilihan yang dirawat secara khusus. Satu ekor sapi unggul yang sudah sering menang bisa berharga sekitar Rp 50 juta.

Lidya juga mengaku bahwa keluarga mereka turun temurun senang dengan tradisi balapan roda sapi tersebut, sehingga dalam setiap kesempatan mereka selalu ikut berpartisipasi, bahkan tidak segan-segan ikut menjadi penyandang dana.

“Dua hari ini ada enam ekor sapi kami yang ikut dalam lomba, walau beberapa diantaranya kalah tetapi kami senang karena bisa menjaga tradisi ini dan menghibur masyarakat,” tambah Lidya.

Lomba balapan roda sapi itu memang sudah selayaknya mendapat perhatian dari pemerintah daerah agar bisa lebih dimaksimalkan penyelenggaraannya. Terbukti dalam dua hari ini ratusan warga berbondong-bondong datang menonton.

Sumber : Kompas.com

iklan1
iklan1