Demo Faked Unsrat, Seorang Dokter Patah Tulang Rusuk

demo-faked-

MANADO – Unjuk rasa mahasiswa, alumni dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi kembali terjadi. Mereka kembali menuntut Rektor Prof Dr Donald Rumokoy dan Dekan Fakultas Kedokteran Prof Dr Ralp Kairupan mundur dari jabatannya, Kamis (27/2). Namun demo kali ini menyisakan korban.

Massa sejak pagi sudah berkumpul di Aula Faked, para demonstran secara bergantian melakukan orasi. Awalnya massa menggelar mimbar bebas, kemudian mencoba masuk ke ruang Dekan Faked di lantai satu kampus tersebut. Saat itu, Ralp Kairupan ada di ruangan tersebut.

Bentrok terjadi antara massa dengan sekitar 20 Satpam kampus yang melakukan penjagaan. Dua dosen, Dr Richard Sumangkut SpB dan Dr Ronny Mewengkang SpOG mengalami luka serius. Kedua dokter terkenal itu diduga terkena pukulan.

Orasi pun dilanjutkan di depan ruang dekan, namun Ralp Kairupan memilih tetap berada di dalam ruangan. Massa semakin merangsek dan suasana bertambah panas.

Tiba-tiba botol-botol minuman air mineral beterbangan di kerumunan massa. Suasana chaos, massa dan Satpam saling dorong dan bahkan ada aksi pemukulan. Bahkan ada teriakan, “Awas, ada strum.” Di antara massa pun ada yang terjatuh.

Kedua kubu saling teriak. Satpam kampus memaksa massa membubarkan diri. Selama lebih dari tiga jam, tak terlihat ada aparat kepolisian di kampus. Aksi dorong-dorongan itu menelan korban.

Menurut informasi yang didapat dari seorang demonstran, dua dosen, Dr Richard Sumangkut Spesialis Bedah-Konsultan Bedah Vaskuler (Staf/Dosen Bagian Ilmu Bedah) mengalami patah tulang rusuk.

Kemudian Dr Ronny Mewengkang Spesialis Obstetri-Ginekologi Konsultan (Sesepuh/Dosen Senior) di Bagian Kebidanan dan Kandungan juga mengalami luka. Diduga keduanya terkena pukulan.

Dokter Enrico Rawung menyebutkan, Richard Sumangkut yang datang mengikuti aksi damai itu menjadi korban karena mengalami patah tulang rusuk. “Aksi damai dilakukan demokratis bukan dengan kekerasan yang mengakibatkan jatuh korban,” tutur Rawung saat di lokasi demo.

Richard dilarikan ke rumah sakit dan menjalani pemeriksaan dada di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Kandou Manado. Selain itu juga melakukan foto rontgen. Seorang dokter di rumah sakit tersebut menolak memberikan keterangan, namun membenarkan jika Richard melakukan pemeriksaan.

Sementara itu, ketika demo sudah reda, Dekan Faked, Ralp Kairupan muncul. Dia mempersilakan ada demo, selama tidak mengganggu aktivitas perkuliahan.

“Intinya memang fenomenanya terjadi seperti ini. Saya tetap akan memimpin Faked. Mengenai demo, asalkan tidak mengganggu perkuliahan,” ujarnya seraya menambahkan, dirinya hanya menjalankan amanah.

“Selama saya sudah ditunjuk oleh Rektor, tetap jalan. Kalau ada hal-hal yang dianggap mereka ilegal, dibuktikan di jalur PTUN atau jalur hukum. Jangan ada kegiatan demontrasi lagi yang mengganggu akademik.” katanya.

Dia juga mengaku mendapat telepon dari orangtua mahasiswa yang berharap tak ada demonstrasi lagi. “Pasti semuanya akan berakhir dan indah pada waktunya,” tandasnya.
(tribun/ar)

iklan1
iklan1