Senin, Rupiah Menguat Setelah Sepekan Tertekan

rupiah

JAKARTA – Nilai tukar rupiah akhirnya bergerak menguat dan keluar dari level US$ 12 ribu per dolar AS, setelah tertekan selama sepekan.

Penguatan di awal pekan ini lebih didorong faktor eksternal berupa rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan penurunan.

Data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), menunjukkan rupiah bergerak menguat di level 11.969 per dolar AS di awal pekan. Padahal sepanjang pekan lalu, rupiah terus tertekan dan berada di atas level US$ 12 ribu per dolar AS.

Senada dengan kurs JISDOR BI, data valuta asing Bloomberg juga menunjukkan adanya penguatan nilai tukar rupiah. Setelah dibuka menguat di level 12.015 per dolar AS, rupiah masih terus berfluktuasi menguat hingga ke level 11.921 per dolar AS pada pukul 10.20 waktu Jakarta.

“Penguatan rupiah hari ini lebih karena digerakkan pengaruh eksternal karena PDB AS menurun dan melemahkan nilai tukar dolar pada sejumlah mata uang negara lain seperti rupiah,” tutur Ekonom Rully Nova, Senin (30/6/2014).

Sementara dari faktor internal, Rully menjelaskan, para pelaku pasar masih menanti laporan data ekonomi Indonesia yang rencananya dirilis awal Juli. Data ekonomi yang positif dipastikan dapat mendongkrak naik nilai tukar rupiah.

“Neraca perdagangan Mei diperkirakan surplus Sementara pergerakan inflasi masih terkendali,” ungkapnya.

Selain itu, para pelaku pasar juga masih menanti kepastian politik atas pemilihan calon presiden yang rencananya akan digelar pada 9 Juli mendatang. Tak heran, sejauh ini sentimen positif dari faktor politik masih belum banyak terasa.

Prediksi Rupiah
Nilai tukar rupiah diprediksi akan menguat sepanjang perdagangan hari ini dan bertengger di kisaran 11.950 per dolar AS. Lompatan pergerakan nilai tukar rupiah baru akan terjadi setelah pemerintah mengumumkan data ekonomi nasional.

“Rupiah hari ini masih akan berada di bawah level 12 ribu per dolar AS, tak akan bergerak jauh. Rupiah akan bertengger di level 11.900-an,” tuturnya.

Kendati demikian, kombinasi defisit neraca perdagangan, data ekonomi yang positif dan kepastian politik mampu mendongkrak nilai tukar rupiah hingga ke level 11.000 per dolar AS.

(les/rr)

iklan1
iklan1