Sejumlah Guru di Kotamobagu Mengaku Kehilangan Jam Mengajar

guru-mengajar

KOTAMOBAGU – Dinas pendidikan pemuda dan olahraga (disdikpora) kota Kotamobagu dinilai diskriminatif terhadap sejumlah guru. Bukti dugaan, melakukan mutasi guru di SMP 9 Kotamobagu yang mengakibatkan sejumlah guru kehilangan hak mengajar.

“Saya dipindahkan tiga empat bulan lalu. Tapi di tempat saya dipindahkan, saya tidak bisa mengajar karena guru mata pelajaran seperti saya sudah penuh. Akibatnya jam mengajar saya tidak ada,” ucap salah satu guru korban dugaan praktek diskriminasi disdikpora.

Setelah ditelusuri lebih jauh, Sekolah tempat asal guru yang dipindahkan justru kekurangan guru mata pelajaran IPS. “Sejak ada mutasi lalu, guru IPS disini tinggal satu orang, padahal idealnya harusnya dua. Makanya guru-guru disini heran soal mutasi yang terjadi,” ujar salah satu guru SMP 9 Kotamobagu.

Kondisi tersebut dinilai tidak sesuai dengan program pemerintah kota Kotamobagu yang ingin distribusi guru ke semua sekolah merata.

“Tidak salah lagi disdikpora telah mengangkangi keinginan pemerintah kota. Mutasi yang dilakukan disdikpora hingga guru kehilangan hak mengajar adalah pelanggaran berat yang telah mencederai dunia pendidikan,” ujar mantan Ketua BEM Stie Widya Dharma, Arman Mokoginta.

Kepala Disdikpora Rukmini Simbala melalui Moh Aljufri Ngandu berupaya mengelak terkait masalah tersebut. Ngandu mengaku baru akan mengkroscek informasinya.

“Nanti kami cek dulu baru kami kabari. Selama ini tidak ada informasi kalau ada guru yang tidak ada jam mengajarnya,” katanya.
(hs-tco/rr)

iklan1
iklan1