MANUSIA, POLITIK dan TRISAKTI

Albert W Kusen (Foto Ist)

Albert W Kusen (Foto Ist)

MANADO Manusia Itu Pada Hakekatnya Tidak Sempurna? Manusia sebagai makhluk organik secara simultan senantiasa berubah baik berubah dilihat dari segi fisik (usia dan bentuk tubuh), maupun berubah dari segi non-fisik (mental atau cara berpikirnya; budayanya senantiasa dinamis, cair dan sementara). Kedua hal ini (fisik dan non-fisik) berinteraksi yang disebut bio-budaya.

Mengapa manusia tidak sempurna? Karena sejarah bio-budaya manusia, sekalipun pada usia dini melewati tahapan sosialisasi yang berperan membentuk corak manusia seperti kertas putih (the great socialization). Tapi, mengingat determinisme lingkungan sosial (dunia materi) begitu kuat mempengaruhi jalan hidup manusia, maka manusia yang sebelumnya seperti kertas putih, pada akhirnya terkena juga bercak tinta hitam.

Maka, pandangan teoritis di atas sesuai dengan pernyataan mendiang Marvin Harris (1990) antropolog amrik bahwa kondisi-kondisi materi masyarakat menentukan kesadaran manusia, bukan sebaliknya. Dalam ungkapan populer pada umumnya ulah atau perilaku manusia UUD alias ujung-ujung duit. Hal ini tidak lepas kaitannya dengan risalah politik Lord Acton bahwa politik atau kekuasaan itu cenderung korup; dan secara mutlak memang korup.  (***)

 

Oleh : Albert W.S Kusen (Penulis Artikel merupakan Dosen FISPOL Unsrat Manado).

iklan1
iklan1