BANGKITLAH KAUM MUDA INDONESIA

Masril Karim, aktivis HMI dan mahasiswa Fispol Unsrat Manado

Masril Karim, aktivis HMI dan mahasiswa Fispol Unsrat Manado

Kaum muda pada masa-masa awal kemerdekaan Negara Repoblik Indonesia akan sangat jauh berbeda dengan pemuda-pemudah yang hidup pada masa yang akan datang (masa sekarang), dan bahkan berbeda dengan Negara-Negara maju.Bung Hatta.

MANADO – Sebuah pernyataan yang di ungkapkan oleh wakil presiden pertama RI Bung Hatta diatas merupakan sebuah pemikiran yag telah dipikiran bagimana pemuda hari ini diperhadapan dengan berbagai penuh tantangan. Makna dari ini semua adalah hanya ingin membedakan atara pola pemikiran kaum muda yang penuh dengan berbagai gejolak pada masa itu dibandingkan dengan pemuda yang sekarang ini.

Sejarah bangsa Indonesia telah tertulis bahwa sejakawal kemerdekaan bangsa ini kaum muda selalu menjadi aikon dalam berbagai perubahan keadaan. Sejak abad ke 19 bangsa ini mengenal momen kebangkitan nasional, kaum muda bangsa Indonesia menjadi bagian penting dalam momen tersebut, kaum muda yang menjadi pioneer bagi proses bangkitnya bangsa Indonesia untuk melakukan perlawanan secara sistematis terhadap imperialisme.

Dalam beberapa dasawarsa kemudian tepatnya pada tanggal 28 Oktober tahun 1928 beberapa kaum muda pada zaman itu telah menguncang sejara dengan mendeklarasikan sumpah pemudah ini menjadi bukti bahwa pemuda selalu menjadi inspirator. Sebuah manifesto (pengunguman) yang sangat heroic (gagah berani) mengajak segenap bangsa untuk melepaskan keberadaan mereka dan telah menjadi satu dalam ikatan/bingkai Indonesia. Dari tahun 1908 hingga kemerdekaan 1945 dari malari 14 januari 1974 hingga pada tahun 1998 kembali kaum muda Indonesia turun kejalan dan menentang seorang tirani yang berkua saselama 32 tahun pun tumbang dan membuka suatu lembaran baru dengan memberi nama pada lembaran baru tersebut dengan sebutan Era Reformasi.

Agenda reformasi pun telah berahkir dan memberikan amanah perubahan kepada pemuda hari ini, sebuah amanah yang diberikan oleh pemudah hari ini merupakan suatu tanggung jawab yang harus di terima dalam rangka untuk merubah nasib bangsa ini kearah yang lebih bai klagi. Sebuah nama atau sebutan pemuda yang disebut oleh Ortega G. Yasset adalah sebagai agent of change (agen perubahan) yang pada pundaknya dibebani dengan harapan – harapan sebuah bangsa. Bila kaum muda memilki kabaplitas, visi, dan kinerja maka semua bangsa akan menuai keberhasilnya, menurut Dr Azis Syam Suddin dalmbukunya kaum muda menatap masa depan Indonesia mengatakan yang paling layak untuk menjadi agen perubahan adalah kaum muda dari bangsa itu sendiri pendapat ini bagi rakyat Indonesia sudah tidak bisa diraguakan lagi, karena sudah terbukti dalam sejarah bahwa kaum muda selalu menjadi peran utama dalam kemerdekaan bangsa ini.

Beban yang diberikan kepada pemuda hari ini seakan terlalu berat untuk dipikul bagi kaum muda, hal ini terjadi karena amanah yang diberikan ini hanya dipikul oleh segelintir orang yang masih mau menutut perubahan, seiring dengan pergantian zaman yang membuat pemuda hari ini tidak mampu memanfaatkan zaman yang modern iniuntuk kemajuan bangsa agar terwujudkan cita – cita bangsa, kemajuan dan perubahan agar terciptanya cita-cita bangsa ini merupakan suatu keinginan Rakyat Indonesia yang selama ini di idam-idamkan, namun pemuda hanya membiarkan keinginan rakyat ini berjalan sendiri tanpa ada tanggung jawap sebagai kaum muda (agenperubahan).

Kini eksistensi pemuda sebagai pembaru dan penerus generasi untuk masa depan atau masa mendatang kian lumpuh dan rapuh. Pandangan ini bisa ditopang oleh keanyaan bahwa pemuda dominan terjerembab dalam perilaku yang tidak lagi produktif. Mereka terkadang cenderung konsumtif dalam segala hal. Serangan budaya populer yang menyerang gaya hidup pemuda menjelma menjadi fakta sosial yang menghimpit dan dan menekan perilaku kaum mudah bangsa dewasa ini. Misalnya penyalah gunaan narkoba, alkohol dan perilaku seks bebas yang terus meningkat yang selalu mejadi pemicu dan penghambat dalam kamajuan bangsa atau daerah.

Wacana kebangsaan dan nasionalsime seakan pudar atau tak lagi menjadi topik  pembicaraan atau bahan diskusi bagi pemuda dalam hal memikirkan nasib bangsa ini. Pemuda telah larut dalam kebanggaan budaya pop atau mualai terpenagaruh dengan budaya luar semacam hodenisme, pragmatisme, fashion dan lain-lain yang telah mengikis semanagt nasionalisme atau telah mampu mempengaruhi sprit kaum mudah. Niali –niali taridis yang menjadi kebanggaan pemuda yang telah  di ukir oleh para pemudah terdahulu dalam hal mempertarukan semangatnya untuk merebut kemerdekaan untuk bangsa ini telah hilang. Semangat senasip dan sepenanggungan sebagai satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa terkesan tidal lagi menguat bahkan justru sudah mualai memudar. Solidaritas dan semangat gotong royong untu sama-sama membangun bangsa ini suda meulai meluntur karena kepantingan diri dan kelumpok sudah diletakkan diatas kepentingan bersama, bangsa dan negara.

Tantangan pada masa bagi bangsa indonesia jauh lebih besar dari pada satu abad yang lalu. Kondisi ekonomi yang terus dihimpit oleh kapitalisme/neoliberalisme di Indonesia, dimasa yang akan datang akan menjadi ledakan besar yang dapat mengancam keutuhan negara indonesai jika tidak di antisipasi dengan kualitasi pemudah. Jika kaum muda indonesia masi dihisai oleh perilaku yang tidak lagi produktif dan apatis akan kondisi bangsanya maka akan dipandang sebelagh mata dan akan digilas oleh kekuatan-kekuatan bangsa – bangsa lain

Kiranya  sumpah pemuda yang ke 86 ini diharapkan bisa menjadi momentum untuk meneguhkan semangat menjadi satu dalam menghadapi berbagai macam persoalan bangsa dan negara. Tuntutan semangat persatuan untuk membangun bangsa semakin dibutuhkan dalam menghadapi berbagai tantangan yang rumit ditengah dunia yang terus berubah. Tak akan tercapai bila tidak ditopang dengan semangat persatuan dan merasa senasip dan sepenangungan sebagai satu bangsa. (**/Faruk Umsangaji)

 

Artikel oleh : Masril Karim

(Wasekum Pengembangan Aparatur Oraganisasi HMI

Cabang Manado )

iklan1
iklan1