Singapura Duduki Peringkat Atas Jumlah Investasi di Sulut

Lynda Deysi Watania MM MSi (Foto Ist)

Lynda Deysi Watania MM MSi (Foto Ist)

MANADO – Perkembangan penanaman modal asing (PMA) tersebar di daerah ini cukup pesat. Bidang usaha atau sektor garapan bervariasi di berbagai sektor. Antara lain, perikanan-kelautan, pariwisata, industri pengolahan ikan, perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan jasa. Data diperoleh, Negara Singapura menempati pole position (terdepan dan terbanyak) soal jumlah investasi di Sulut. Total sekira 39 perusahaan asal negara berjuluk Kota Singa tersebut. Dimulai sejak 2005-2014.

Jumlah perusahaan asing tersebut disusul Tiongkok (26 perusahaan), gabungan negara (16), Inggris (14), serta Belanda dan Filipina (masing-masing 11). Terkait ini, Pakar Ekonomi Dr Joubert Maramis saat ditemui sejumlah Wartawan Jumat (31/7/2015) mengatakan, Singapura merupakan pusat keuangan, investasi, jasa, dan perdagangan di Asia. Selain posisinya yang strategis.

“Modal investasi dunia banyak diputuskan oleh kantor pusat atau perwakilan perusahaan di Singapura,” ucap Maramis, sembari menilai, saat ini investasi paling dibidik Singapura adalah listrik. Dia menambahkan, pemerintah pusat dan Sulut harus meningkatkan kepercayaan dan jaminan kepada investor asing (FDI). “Jika ingin investasi survival di Sulut sampai masa depan,” imbuhnya.

Menanggapinya, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Sulut Dra Lynda Watania MM MSi menuturkan, secara umum banyaknya investasi masuk ke Sulut, tidak lepas dari gencarnya promosi terpadu. Mulai dari pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten dan kota.

“Kegiatan promosi ini dilaksanakan di dalam negeri maupun luar negeri dengan ditunjang perencanaan matang. Berdasarkan Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM),” ungkap Watania.

Sementara itu dia juga menambahkan, gencarnya Singapura melakukan investasi di Sulut dipengaruhi beberapa faktor penentu. Di antaranya, keamanan kondusif, kepastian hukum seperti penerbitan Perpres Nomor 97/2014 tentang PTSP dan lainnya. Kemudian adanya infrastruktur penunjang seperti jalan tol, jalur kereta api, Hub Port Bitung, bendungan multifungsi Kuwil, PLTP Lahendong lima dan enam di Tompaso, hingga regular flight ke Singapura.

“Keramahtamahan masyarakat Sulut juga jadi penunjang, dan juga ketersediaan fasilitas yang ada,” tutupnya. (Fajri Syamsudin)

iklan1
iklan1