Kepemimpinan 1 Tahun Jokowi, Apa yang Telah Dilakukannya?

Logo PRD (Foto Ist)

Logo PRD (Foto Ist)

Satu Tahun Jokowi-JK: Bukan 1 Tahun tapi 50 Tahun? Satu tahun pemerintahan Jowowi-JK? Iya, tapi bisa jadi juga 50 tahun dibukanya investasi atau modal asing ke Indonesia. Sebagaimana sudah banyak disampaikan bahwa Oktober 1965, 50 tahun yang lalu adalah titik perubahan yang menentukan bagi Republik dan Rakyat Indonesia. Segala sesuatunya berbeda 180 derajat dengan masa sebelum Oktober 1965. Rejim lama tak begitu ramah dengan investasi asing yang dianggap hanya akan mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia sementara Rejim baru justru mengundang Investasi asing. Arah perubahan menuju penggelaran karpet merah bagi investasi asing itu pun dibuka dengan kekerasan yang brutal; meminta korban jiwa jutaan rakyat Indonesia dan merusak dasar pergaulan sosial budaya yang dikenal ramah dan gotong-royong.

Tahun 1965 pun menjadi tahun tragedi kemanusiaan yang berdampak panjang hingga hari ini. Bagi Indonesia jelas: selain kejahatan terhadap kemanusiaan terjadi juga kerusakan yang parah di bidang sosial dan budaya terutama rasa keterpecahbelahan sebagai bangsa sehingga menghambat kemajuan bangsa. Tetapi bagi negara-negara kapitalis yang melihat hilangnya ancaman komunis, tanpa peduli dengan penindasan dan kejahatan kemanusiaan, tahun 1965 adalah tahun bisnis yang menjanjikan untung besar. Berbagai Kredit dan bantuan investasi pun diberikan pada rejim baru yang menyebut dirinya Orde Baru. Orde Baru jelas melihat prospek pembangunan ekonomi yang jelas dengan modal yang juga jelas berupa bantuan kredit dan investasi asing tersebut.

Malcolm Caldwell & Ernst Utrecht mencatat: “pemerintahan baru menerima syarat-syarat yang segera disodorkan oleh negara-negara asing: pengakuan hutang-hutang lama, ganti rugi atas nasionalisasi sebelumnya. Selain itu kebijakan anggaran belanja negara yang seimbang karena tidak mungkin ada yang menanamkan uang di suatu negara dengan moneter yang kurang stabil. Anggaran belanja yang seimbang dijadikan prasyarat untuk investasi dan pinjaman asing. Karena itu dikenalkan kebijakan moneter yang tidak menguntungkan industri dalam negeri: sebagian besar kebutuhan publik tidak lagi mendapat subsidi negara, impor bahan-bahan mentah untuk industri dalam negeri tidak disubsidi lagi, dan kredit untuk para usahawan nasional dihentikan. Selain itu, pasar lokal dibanjiri dengan barang impor murah sebagai usaha memotong harga” (Malcolm Caldwell & Ernst Utrecht, Sejarah Alternatif Indonesia, Djaman Baru, 2011;287) Apakah model pembangunan Orde Baru dengan mengundang dan mengandalkan investasi asing ini berhasil? Ya. Orde Baru pun mulai bisa mengendalikan situasi, menenangkan rakyat dan mengatasi kekacauan ekonomi di awal pembangunan Orde Baru hingga tiga dekade kemudian.

Seiring dengan kejatuhan Orde Baru, semakin terbukalah jati diri ekonomi Orde Baru yang sebenarnya. Pembangunan ekonomi Orde Baru yang tampak berhasil tersebut tidak mempunyai kaki-kaki nasionalnya sehingga rapuh ketika terjadi krisis ekonomi global. Pembangunan Orde Baru tidak berhasil membangun ekonomi nasional tetapi justru semakin terperosok ke dalam jeratan utang luar negeri yang seakan mengembalikan ke alam ekonomi kolonial. Situasi ini terus terjadi hingga hari ini di bawah pemerintahan Jokowi-JK dengan perkiraan utang luar negeri sudah semakin dekat dengan angka 4000 trilyun. Jadi apa yang berhasil dari 3 dekade kejayaan ekonomi Orde Baru yang dibangun dengan landasan penyingkiran orang-orang yang dianggap dapat menghambat investasi modal asing ini? Kemudian menjalankan ekonomi dengan bantuan utang luar negeri, mengeksploitasi sumber daya alam kalau akhirnya justru terus-menerus menambah utang, kebanjiran barang impor dan kemiskinan-pengangguran tetap menghantui? Satu tahun pemerintahan Jokowi-JK harus melihat bukti empiris yang nyata ini.

Tanpa ancang-ancang untuk keluar dari jeratan pembangunan model Orde Baru yang mengandalkan semata-mata investasi asing dan eksploitasi sumber daya alam ini, Republik Indonesia hanyalah akan jatuh ke lubang yang sama yang justru semakin dalam dan semakin dalam yang tak beda dengan bangsa-bangsa yang terjajah. Semangat pembangunan model Orde Baru ini adalah tindakan khianat terhadap cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dengan begitu semoga saja satu tahun Pemerintahan Jokowi-JK bukanlah kelanjutan dari ancang-ancang para penjajah yang sudah ditanam 50 tahun lalu. Fokus terhadap kemandirian pangan dan tidak gegabah melakukan impor beras adalah hal yang positif bagi pembangunan bangsa secara kebudayaan dan ekonomi. Keberhasilan di bidang ini akan menandai ancang-ancang Pemerintahan Jokowi-JK menggulung karpet merah investasi asing yang digelar 50 tahun lalu.

Oleh: Robyantoro H. Hulopi, Bendahara KPW PRD Sulawesi Utara

iklan1
iklan1