Archive for: Januari 2016

Ketua Sinode GMIM Ingatkan Jemaat Gereja Waspadai Gafatar

Pdt H.W.B Sumakul (Foto Ist)

Pdt H.W.B Sumakul (Foto Ist)

MANADO – Berkembangnya informasi terkait hadirnya pengarus Ormas Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang diduga menjadi salah satu aliran organisasi sesat, mendapat beragam tanggapan. Menurut Pdt DR. H.B.W Sumakul, MTh, Ketua Sinode GMIM Pdt DR. H.B.W. Sumakul MTh, warga dan warga jemaat yang ada di Sulawesi Utara (Sulut) agar tidak terlibat dengan yang namanya Gafatar. Hal tersebut dikarenakan Gafatar tersebut sangan bertentangan dengan ajaran yang diajarkan oleh Tuhan.

”Patut diwaspadai adanya Ormas yang belum diketahui kebenarannya, Kita sebagai orang kristen tidak boleh masuk dalam organisasi yang menamakan Gafatar. Sebab Gafatar untuk orang kristen sangat bertantangan. Jadi jauhi itu,” ujar Sumakul saat menghadiri HUT Kota Tomohon ke-13 belum lama ini.

Lanjut ditambahkannya, palagi akhir-akhir ini melalui pemberitaan sejumlah media massa tentang persoalan organisasi kemasyarakatan yang identitasnya menyimpang dari agama atau ada istilahnya Radikalisme. Tentunya, kata Sumakul mereka sebagai pemimpin agama wajib menyampaikan kepada masyarakat agar dapat dan terus berperan di tengah masyarakat, gereja dan didalam keluarga.

”Apa yang menjadi aturan masyarakat, yang menilainya kita sendiri, Agama sebagai benteng kekuatan Iman tentunya sebagai jemaat harus mendukung dan terus mengawasi keadaan disekeliling kita. Kita tentunya akan mampu mengatasi persoalan ini Gafatar untuk Orang Kristen Sangat bertentangan,” ucap Sumakul.

Ditambahkan Sumakul bahwa sebagai umat yang percaya, harus menciptakan suasana hidup rukun dan damai antar sesama umat beragama. ”Untuk menjadi manusia yang beraklhak harus selalu pegang teguh Iman percaya kita,” paparnya menutup. (Tim Redaksi)

Implementasi Pilwako Manado dalam Pusaran Kepentingan Elit

Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

MENGUTIP istilah yang populer bagi kalangan politisi yakni ‘tak ada pertemanan yang abadi, dan yang abadi hanyalah kepentingan’. Kalimat sederhana yang memiliki cakupan luas, ternyata terus relevan dalam tiap langkah para politisi, bahkan hingga pada praktek keseharian kita. Kali ini, penulis berkesempatan membedah bagaimana alur politik lokal di Kota Manado saat ini bergerak, berhenti dan bahkan sengaja dihentikan karena hal-hal yang menurut dalih sebagian masyarakat dilakukan demi supremasi hukum. Kian buram, menurut pengamatan penulis bahwa posisi penegakan hukum dan intervensi politik dijalankan di negeri ini, sehingga perlu dilakukan reposisi, bagaimana kedua komponen penting ini diletakkan pada keberadaannya yang semestinya.

Menegaskan hukum dengan perspektif hukum yang murni, tentu membutuhkan konsistensi di era modern yang penuh dengan tipu muslihat saat ini. Namun, penulis juga sedikit tergoda untuk tidak optimis dengan kondisi perbaikan tatanan hukum di negeri ini, dimana ditengah banyaknya aktor (praktisi) hukum yang terkesan mengabaikan norma-norma hukum yang berlaku. Nasib ini nyaris sama dengan politisi serta masyarakat yang mempermainkan hukum. Politik yang ditarik masuk pada sendi-sendi hukum dengan interpretasi yang sering tidak objektif, nilai hukum dipolitisasi dengan argumentasi tertentu, alhasil urgensi hukum menjadi tidak berdaya ketika diterapkan secara benar.

Perjalanan Pilwako Manado yang berdasarkan jadwal dihelat pada 9 Desember 2015, dan dengan tahapan yang dilaksanakan akhirnya tertunda karena ‘masalah hukum’, seolah menjadi pentas terindah dalam kita mengenal demokrasi kekinian di Kota Manado (baca, politik tarik ulur). Selanjutnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Manado diperhadapkan dengan gelombang masalah, seperti itupula Panwaslu Manado yang lebih runyam lagi masalahnya hingga di non-aktifkan DKPP. Peristiwa politik di Kota Manado kali ini merupakan prodak realitas demokrasi baru di daerah yang dikenal sangat plural dan menjunjung tinggi persaudaraan ini, dimana mulai dari perubahan status calon Walikota, terjadinya perbedaan pandangan soal penetapan pelaksanaan Pilwako Manado yang dilakukan KPU Manado, Rabu 17 Februari 2016 membuat cerita demokrasi kita menjadi makin sexi disimak.

Dipastikan semua akan bermuara dan ada yang menggerakkannya, sampai pada segmentasi ini bagi penulis ada dua varian yang memiliki pengaruh dominan yakni elit politik dan kepentingan rakyat. Dimana elit politik didalamnya sudah terakomodir kepentingan para kompetitor Pilwako Manado, sementara disisi lain kepentingan masyarakat yang diharapkan diperjuangkan pemerintah (DPRD, KPUD dan Panwas) secara institusional terlihat masing-masing tidak solid memperjuangkan kepentingannya.

Elit partai politik (parpol) untuk hal munculnya friksi politik dan kepentingan, maka menjadi wajar manakala ‘mereka’ ini bertarung hingga adanya pemenang. Tapi, ironisnya jika rakyat kemudian tidak menyatu, rakyat dikotak-kotakkan, dihasut sehingga menjadi terdikotomi. Padahal, kalau sedikit saja kita mengerti spirit politisi tentang ‘teman abadi dan kepentingan abadi’, maka akan kita temukan, siapa yang harus dimusuhi rakyat dalam hal ini, rakyat wajib memarahi para politisi yang hanya kerjanya memprovoksi dan membuat rakyat tidak bersatu. Apapapun itu, kedaulatan rakyat itu harus benar-benar diterapkan dengan baik untuk kepentigan semua golongan, bukan atas kepentingan identitas kelompok, apalagi rakyat tersandera dengan kepentingan warna bendera parpol.

Sudah seharusnya Pilwako Manado, 17 Februari 2016 disukseskan, jangan lagi masyarakat ‘dibelah’. Sebab, masyarakat membutuhkan pemimpin yang defenitif, pemimpin yang benar-benar merepresentasi kepentingan masyarakat yaitu mereka yang terpilih melalui proses pemilihan yang demokratis, bukan ditunjuk dari segelintir orang atau Pejabat Gubernur. Legitimasi seorang pemimpin memang harus dipilih rakyat, disinilah letaknya harus didorong dimana Kota Manado saat ini belum mendapatkan pemimpin defenitif, diluar dari setuju atau tidak dengan penetapan KPU Manado soal hari pelaksanaan Pilwako, namun bila bicara soal kepentingan universal rakyat, itu berarti sudah menjadi wajib untuk kita dorong dan sukseskan Pilwako Manado 17 Februari 2016.

Berhembus informasi terkait penggeseran anggaran Pilkada Manado dari yang sebelumnya telah dialokasikan 20 miliar untuk KPU Manado dari pemerintah Kota Manado pada tahun anggaran 2015, kini pemerintah beralasan tidak tertata dalam APBD untuk anggaran Pilkada 2016. Hal ini menjadi diskursus hangat dan membuat warga Manado mendiskusikannya secara luas, masing-masing pihak memberikan alasan hukum, ada yang menyebutkan perlu adanya PERPU, dan ada yang menyebutkan cukup Permendagri 44 tahun 2015.

Dari semua perbedaan pandangan itu, kita berharap masyarakat kita tidak terbawa dengan kepentingan elit politik. Masyarakat dan elit politik memang tak bisa dibuat sekat, tetap keduanya ketemu dalam ruang kepentingan publik, artunya perlu kedua-duanya dibuat ketemu kepentingannya. Elit politik yang mana yang harus didukung rakyat, apakah elit politik atau pemimpin yang SIAAP, yang CERDAS ataukah yang HEBAT, inilah yang masih menjadi bahan diskusi kita semua. Selanjutnya, masyarakat yang terbawa dalam arus perputaran kepentingan elit politik atau sebaliknya masyarakat yang menggiring elit politik?, kita berharap semua proses demokrasi benar-benar dimenangkan masyarakat Manado. Mari kita merawat kebersamaan dalam bingkai demokrasi lokal yang penuh keakraban, penuh persaudaraan dan jauhkan dari parktek saling mendendam, serta fitnah. (***)

 

 Demokrasi adalah suatu sistem politik yang bertumpu pada persetujuan kontinyu dan ikhlas dari warga Negara. -Anonim.

 

Catatan Amas Mahmud, Redpel Suluttoday.com

Senior GMKI dan GMNI Juga Usulkan Prof Lafran Pahlawan Nasional

Logo GMNI dan GMKI, perkawanan organisasi Cipayung (Foto Ist)

Logo GMNI dan GMKI, perkawanan organisasi Cipayung (Foto Ist)

MANADO – Mantan aktivis mahasiswa yang pernah berkiprah di organisasi Cipayung, seperti organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ikut memberikan dukungan terhadap upaya yang dilakukan Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk mendorong agar Prof Lafran Pane, pendiri HMI dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional.

Seperti disampaikan Dr Tommy Sumakul, SH,MH, senior GMKI cabang Manado yang saat ini menjadi pengurus Persatuan Alumni GMKI mengatakan kekagumannya terhadap karya dan konsistensi seorang Lafran Pane yang dikenal begitu sederhana, namun memiliki ide-ide brilian. Menurut Sumakul yang juga dosen Fakultas Hukum Unsrat Manado itu, pihaknya mendukung untuk diusulkannya Prof Lafran sebagai Pahlwan Nasional karena menjadi teladan bagi rakyat.

”Saya menyampaikan terima kasih dan ikut bangga atas undangan pengurus KAHMI Sulut kepada saya agar bisa menjadi narasumber dalam Seminar Nasional ini. Apalagi, bisa bertemu Bang Akbar Tanjung senior HMI dan juga tokoh Nasional, membaca beragam literatur dan mengikuti rekam jejak Prof Lafran, memang beliau figur yang sederhana, memiliki komitmen perjuangan tinggi untuk kepentingan masyarakat. Beliau ini berhasil mendeklarasikan HMI, yang hingga saat ini terus bekembang, bagi kami Prof Lafran layak menjadi Pahlawan Nasional,” ujar Sumakul saat menyampaikan materi, Jumat (29/1/2016) di kantor Rektorat Unsrat Manado.

Sementara itu, alumni GMNI Soni Sumarsono yang juga Pejabat Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) mengaku mendukung penuh upaya yang dilakukan para alumni HMI untuk mengusulkan Prof Lafran Pane sebagai Pahlawan Nasional. Dengan nada sedikit menyindir, Soni mengatakan harusnya tugas Negara memberikan gelar kepada rakyatnya yang telah berjasa pada bangsa Indonesia.

”Luar biasa gagasan dan konsistensi Prof Lafran, sebagai generasi yang pernah belajar di organisasi Cipayung kami juga mendukung Prof Lafran Pane menjadi Pahlawan Nasional. Pak Lafran ini semasa hidupnya penuh inspirasi dan selalu membela rakyata, seperti cukup banyak diceritakan Bang Akbar Tanjung, tentu kami juga banggsa berada dalam proses ini, mari kita dorong bersama. Disisi lain, saya juga merasa ada keanehan harusnya Negara memfasilitasi rakyatnya untuk hal pemberin gelar Pahlawan, bukan nanti diusulkan rakyat,” ucap Sumarsono, Jumat (29/1/2016). (Amas)

Kandidat Presiden AS Ini Berkampanye Melalui Kondom

Kondom yang terpasang foto Donald Trump (Foto Ist)

Kondom yang terpasang foto Donald Trump (Foto Ist)

JAKARTA – Cukup sensasional, sebuah produk kondom dengan wajah kandidat presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump kini dijual di pasaran negeri itu. Tak hanya memajang wajah sang politisi yang juga pengusaha itu, bungkus kondom tersebut juga dihiasi tuliasan “I’m Huuuuge!”.

Satu bungkus kondom Donald Trump ini dijual dengan harga sekitar 3 dolar AS atau Rp 50.000 sebungkus. Sosok Donald Trump memicu kontroversi dari komentar-komentarnya, terutama yang terkait dengan ISIS, MUslim dan pengungsi.

Salah satu komentarnya yang mengundang kecaman adalah serunnya untuk melarang Muslim masuk ke wilayah Amerika Serikat. Komentarnya mengundang kecaman dari seluruh dunia, bahkan di Inggris muncul petisi untuk melarang Trump masuk ke negeri itu. Sejauh ini, petisi tersebut sudah ditandatangani 500.000 orang.

Tak hanya umat Muslim yang menjadi sasaran. Trump juga menyerang imigran Meksiko yang disebutnya sebagai para “pengedar narkotika” dan “pemerkosa”. Trump juga mengkritik warga keturunan China, mengolok-olok seorang jurnalis cacat dan menyerang sejumlah perempuan secara personal.

Meski demikian, Trump sejauh ini menjadi favorit untuk memenangkan dukungan di Iowa dan New Hampshire. Jika Trump memenangkan dukungan di dua daerah ini, niatnya menjadi calon presiden dari Partai Demokrat bakal semakin mulus. (ST/Kompas.com)

Unsrat Manado Mendukung Prof Lafran Pane Pahlawan Nasional

Seminar Nasional yang digelar KAHMI Sulut (Foto Suluttoday.com)

Seminar Nasional yang digelar KAHMI Sulut (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Seminar Nasional terkait ‘Prof Lafran Pane Dalam Pusaran Sejarah Bangsa’ yang digelar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Jumat (29/1/2016) di kantor Rektorat Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado mendapat ragam dukungan. Selain penyamapain pemerintah dan elemen organisasi pergerakan, Unsrat Manado juga memberikan dukungan kepada Prof Lafran sebagai Pahlawan Nasional.

”Kami civitas akademika Universitas Sam Ratulangi Manado, melalui Rektor Prof Ellen Kumaat mendukung sepenuhnya kepada Prof Lafran Pane untuk menjadi Pahlwan Nasional. Dari beberapa dimensi, kami lihat layak beliau diusulkan menjadi Pahlawan Nasional,” kata DR Sangker Tadi, salah satu Wakil Rektor Unsrat dalam sambutannya.

Lebih lanjut diuraikan Sangkartadi yang dikenal sebagai dosen Fakultas Teknik Unsrat Manado ini menilai bahwa amal ibadah yang dilakukan (Alm) Lafram Pame, terhadap kemajuan negara ini sudah terbukti.

”Beliau (Lafran Pane, red) semasa hidup dikenal sangat visioner dan idealis. Benar-benar memahami konsepsi independensi, sebagaimana diceritakan Bang Akbar Tanjung, sehungga membawa kesan luar biasa kiprah seorang Prof Lafran ini. Salah satu bukti nyata dari karya beliau adalah masih eksisnya HMI hingga saat ini, yang mampu melahirkan banyak pemimpin bangsa Indonesia,” tutur Sangker Tadi. (Amas)

iklan1