HMI & KRISTINISASI PAPUA; Memor 5 Februari Momentum Visi Keadaban Manusia

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Mengawali dengan mengutip pendapat Thomas Charlyle bahwa orang besar itu bukan saja ditulisakan dalam sejarah tetapi juga mampua membuat sejarah. Kira-kira kata ini bukan menjadi doktrin tetapi paling tidak kita maknai bawah sesunggunya perjalanan sejarah itu sendiri bisa ditegasakan dalam metode pengetahuan. Paling tidak penulis sepedapat dengan Murthada Mutharri, sejarah sebagai salah satu landasan epistemic, walau banya menyangga tetapi argumentasi tentang sejarah yang terjadi secara sengja dan sejarah kenabina yang bisa sebagai landasan dan pijakan pengetahuan manusia. atau bisa perjuangan bersandar pada nilai-nilai kenabian bisa menjadi sebuah rujukan dan referensi.

Catatan dan refiu kebangsaan memberikan cukup banya gagasa, pikiran, idea dan perbuatan telah menyelamtkan nusantara dari kolonialisme. Toleransi masyarakan telah melepaskan egosentris kuasa monarki para raja-raja dan menyatakan bersama untuk ke-Indonesiaan. Salah satu gagasan anak keturunan seorang sultan Pangurabaan Pane-tokoh pergerakan nasional tapanuli selatan. Anak yang secara telaan berada pada kosmologi pertarungan dan sangat kritis untuk internalisasi diri/pencarian jati diri.

5 Februari Untuk HMI

Anak yang berusia 25 tahun yang berjuang untuk umat, masi berstatus sebagai mahasiswa sekolah tinggi islam, sekarang Universitas Islam Iindonesia (UII) bercita-cita mendirikan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) pada rabu, 14 rabiul awal 1366 H atau 5 februari 1947. Kini berusia menuju pada masa lansia jika kita analogi dalam kehidupan manusia. tetapi ini adalah organism yang bersenyawa hidup. Muqadima dasar dengan berbagai argumentasi yang cukup rasional dan tidak memunculkan kelasifikasi dan problem sosial baru. Pertam; alasan keindonesiaan. Kedua; alasan keislaman. Ketigas; alasan perguruan tinggi dan kemahasiswaan.

Kesadaran idiologi dan alasan keislaman menegaskan azas organisasi islam dan berkarakter oraganisasi pengkaderan dan perjuangaan. Hmi lahir untuk kepentingan umat dan membantu mendorong cita-cita kemasan dari kebudayaan itu sendiri yang disebut dengan peradaban. HMI harus berada pada titik kemasaan sekalipun dia berada pada sekala minoritas, jumlah bukan serta merta yang dijadikan landasan ketakutan dan kelemahan dalam ber-HmI. Tetapi kekurangan itu menjadi nilai yang terbalik dari ketakutan yaitu militasnsi yang islami. Jelasa sepeti apa yang dikatakan Ibnu Khaldun serpihan kecil dalam keruntuhan peradaban bukan sesunggunya adalah kehancuran tetapi itu adalah potensi untuk melahirkan peradaban berikutnya.

Negara ini cukup banyak mengisap enegri yang dimiliki kader HMI untuk malakukan perubahan, karena sebuah negara bangsa yang besar adalah negara bangsa yang terus berada pada gradual perubahan itu sendiri dan mampu menjawab kesejatraan. Kita tidak ceroboh menyebutkan tetapi sejarah telah jujur sampaikan, banyak pemimpin bangsa yang dilahirkan dan berproses di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), walau ada yang terlibat masalah hukum tetapi lebih banyak berprestasi. Tafsir para kader dengan berbagai macam corak pemikiran, banyak kadera yang berkaria dan begitupun banyak yang telah berada pada tebing-tebing hukum karena ada secara sengaja bermasalah, ada yang dijelak dan ada yang berada pada nas perjuangan. Semata-mata karena keangkuhan tetapi HMI adalah wadah nazaria almarifah/wadah epistemology.

Mereka menyatu dan berbeda bukan lah identitas, karena identitas bisa berujud dua dan bisa saling membunuh satu sama sama lain. Karena indentitas menegaskan siapa dia dan siapa kamu, bisa bersatu padu atau bisa menjadi musu yang saling membunuh. Tetapi HMI lebih dari itu kader idologis universal dan melampau alam kesadaran sentimentalisem, kesadaran kelas, kesadaran kedaerahan, kesukuan, rasial. Kadera yang menjawab dan berada ditenga-tengah umat. Berjuang dan bertahan adalah nilai dalam mengekohkan eksistensinya, 70 tahun sudah kamu berada dan mengabdi.

5 Februari Papua, Ingatan Kesakralan Orang-Orang Papua

Data sejarah menunjukan bahwa pada tahun 5 Februari 1855 M Otto & Gessller mereka tiba di Papua di waktu subuh(dalam bahasa Tidore sarah kie) di pulau Mansinam (dekat Manokwari). Setahun kemudian C.W. Ottow dan G.J. Gessller berjibaku dengan alam Papua dengan sikap keimanan mereka untuk menyebarkan Agaman Kristin dan sultan Ahmadul Mansyur Surajuddinpun wafat pada tahun 1856 M.

Hari yang penuh duka dan bersejarah bagi orang-orang papua yang menganut kristiani, perjuangan panjang yang dilakukan orang C.W. Ottow dan G.J. Gessller yang mendapat restu dari sultan/Jou Tidore Ahmadul Mansyur Surajuddin, memutusakan sebuah kebijakan dengan sikap kebijaksanaan pada tahun 1852 M (baca: laki-laki dari Tidore). Sikap sultan ini bukan sekedar ijin semata tetapi ini adalah titah yang melibatkan seluruh kekuasaan di kesultan Tidore, kemdudian misonaris ini dikawal dengan kekuataan sangaji gam range dengan persediaan fasilitas kora-kora yang lengkap untuk menganta ke 2 misonaris ke tanah papua.

Ke 2 misonaris dari Jerman C.W. Ottow dan G.J. Gessller untuk menyebarkan agama Kristin di Tanah Papua (atau dalam istilah bahasa Tidore ngili gulu-gulu). Sikapa tolerasi dan semangat pluralism di abat 19 sudah dibangun dan dijunjung tinggi, apala lagi sikap kebijaksanaan oleh seorang sultan (Otoritas kusas tertinggi daerah kesultanakn Tidore), tetapi ijin ini dengan bebarapa catatan tolerasin bahwa, ada bebarapa daerah Papua yang suda Islam pada 1520 M pada masa kejayaan Sultan Mansyur (Fakfak, Raja Amapat, Bintuni, Kaimana Dan Lingkaran Papua Gam Sio) tidak bisa diganggun secara keyakinan. Keputusan SultanAhmadul Mansyur Surajuddin (1821-1856), menyebutkan wilayah Manokwari sebagai tempat meraka menyebarkan ajaran injil adalah sikap yang toleran dalam beragama.

Patut dihormati karena ke-dua misonearis C.W. Ottow dan G.J. Gessller, memahami bahwa sanya daerah Papua merupakan wilayah kesultana Tidore, sehingga direferensi sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1852 M, mereka tiba di Tidore dan melaporkan niat mereka kepada sultan Tidore terkait dengan penyebaran agama. Keputusan sultan terkait dengan wilayah Manokwari sebagai salah satu wilayah yang bisa mereka sebarkan agama, Titaah sultan pun berlanjut untuk memerinthakan orang-orang kelustan mengantara C.W. Ottow dan G.J. Gessller (misonaris) dengan perahu kora-kora yang dimiliki pihak Kesultanan Tidore.

Tidore dan Papua tidak hanya itu, daerah Papua merupakan titik simpul perlawanan terhadapa Belanda yang dilakukan oleh Sultan Nuku. Pergerakan dan simpul solidaritas (ashabiayah) dibangun disana simpul kekuatan Key, Seram, Groom, Aru, Kaimana, Fakfak, Bintuni, Raja Ngairuha (R4), Simpul Papua Gam Sio, Sangaji Gam Range untuk kembali merebut Tidore dari pengaruh Belanda yang dimaknai dan simbol Revolusi Tidore/Nuku.Momentum ini pun diagendakan dalam Hari Jadi Tidore pada Akhir maret sampi dengan 12 April, dalam napak tilas pengambilalihan kekuasaan dan disakralkan dengan penyerahan panji (paji) dan ake dango (air suci).

Papua salah satu daerah kesultanan Tidore dan sampai sekarang ini Belum ada dekonstruksi sejarah mencoban untuk menunjukan sejarah baru dari hasil proses ilmiah, artinya ini belu terbantahkan. Fakta dan ojektifitas sejarah ini lah yang bisa menjadi argumentasi sakti Bung Karno dalam memperjuangkan Irian Jaya Barat di majelis PBB untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) dari tangan Belanda pada 1 Mei 1963. Perjungan Belanda dan sikap ambisius untuk memiliki dan memperoleh pendapatan sebesar-bearnya yaitu kekayaan minya dan gas bumi.

Logika perjuangan untuk merebut Papua dari tangan Belanda, jika kita sebutkan bahwa kalau bukan karena Papau masuk dalam catatan sejarah sebagai daerah kesultanan Tidore, maka Bung Karno akan habis argumerntasi rasionalnya. Diuntungkan karena Papua bagian dari pada daerah Kesultanan Tidore, sehingga argumentasi ini menjadi rasional diterima.Penunjukan langsung Presiden Soekarno kepada salah satu Sultan Tidore Zainail Abdin Syah (1947-1967) sebagai Gubernur pertama Irian Jaya Barat yang ber-Ibu Kota di Soasio Tidore.

Dua moemntuk sejarah bersara ini menjadi bagian dari pada perai sikap untuk mendesai keadaban, ini bukan sekedar perjuangan sahwat nafsu tetapi ini adalah bagian dari pada peluhuran nilai-nilai dan visi pembenaran dimuka bumi. 5 februari menjadi kemerdekaan kamanusiaan yang dimulai dengan rentan usian terpaut jauh tetapi itu semua bagian dari eternal sejraha keadaban manusia dengan momen yang sama. 5 Februari special untuk visi kedaban manusia. (***)

 

Penulis: Bustamin Wahid (Alumni HMI cab. Gorontalo & Warga Sorong Papua Barat)

iklan1
iklan1