Menyentil Relasi Politisi, Hedonisme dan Kebiasaan Lupa

Jangan pilih parpol dan politisi pembawa bencana (Foto Ist)

Semua orang dilahirkan sama, kecuali para politisi. ~Groucho Marx, bintang film AS.

POLITISI memang tak bisa dilepas dari urusan kepentingan, perilaku hura-hura (hedonisme), dan kebiasaan lupa. Perilaku inilah yang sering kita temui, mewarnai aktivitas para politisi, baik yang berada di daerah terisolir seperti Kabupaten/Kota yang mungkin masih jauh dari hiruk-pikuk kemewahan modernisme, namun rotasi pergaulan politisi memang sering saja bersentuhan dengan hal-hal seperti itu. Sebagaimana politik secara teori, bahwa ilmu yang satu ini merupakan suatu hal yang dinamis, tidak statis sehingga demikian aktor politik yang berada didalamnya pun selalu membiasakan diri dengan pembaharuan.

Atas alasan itulah, cukup banyak politisi yang berlagak menjadi agen transformatif. Ada hal positif dibalik aktivitas-aktivitas politik yang juga kita jumpai dimasyarakat kini, diantaranya berupa tatap muka (silaturahmi), sosialisasi politik, pendidikan politik dan diskusi-diskusi konstruktif yang menjadi tradisi dari politisi. Semangat yang demikianlah perlu terus dirawat, bukan dikerdilkan atau pula dihilangkan dengan praktek-praktek politik instan gaya kapitalis yang doyan memposisikan Mall dan Hotel sebagai tempat nyaman melakukan loby-loby kepentingan.

Praktek politik harus tumbuh kokoh berpihak dengan masyarakat dan tau apa yang hendak diperjuangkan rakyat, bukan selesai pada kesepakatan-kesepakatan elit politik saja. Tidak dapat dipungkiri, politik itu alat dan jalan perjuangan yang ‘akomodatif’ dilihat dari keberagaman kepentingan didalamnya secara kelembagaan partai politik (parpol), disitulah persilangan kepentingan ditampilkan. Akomodatifnya politik bukan terletak pada itu semata, tetapi pada aktualisasi kepentingan kepada rakyat yang utama.

Namun untuk hal yang populis, politik harus benar-benar memperhatikan dan mengedepankan kepentingan semua pihak, membiasakan musyawarah mufakat, membina kerukunan, kebersamaan, dan menjaga hubungan emosional antara para politisi dengan rakyat sebagai konsep dasar demokrasi. Politisi kini memang terbiasa dengan hedonisme, meski tidak semua, begitupula dengan kebiasaan lupa atas janji-janji politiknya.

Terkait hedonisme, politisi apalagi yang telah duduk di lembaga DPR baik DPR RI maupun DPRD, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pun hampir sama caya hidupnya. Menargetkan kekayaan, hidup mewah, bahagia dan sejahtera, kalau bias hura-hura (hedon) akan mereka lakukan, walau tidak semua. Untuk mendapatkan ‘obsesi’ sesaat itu, maka perilaku koruptif (menjadi pencuri) terhadap uang rakyat mereka lakukan, konspirasi atas kepentingan-kepentingan sepihak mereka lakukan meski mencederai kepentingan rakyat selaku pemilik kedaulatan. Coba dilihat itu perilaku korupsi yang dipertontongkan di DPR RI, sudah mewabah di daerah (DPRD) banyak kasus para wakil rakyat ditangkap karena korupsi.

Begitu juga kebiasaan lupa yang seringkali melekat pada seorang politisi (Eksekutif dan Legislatif), ketika tiba momentumnya kampanye mereka tak sedikit yang member janji manis kepada konstituen, bahkan menjadi sangat baik kepada rakyatnya. Tak diminta dan tidak diingatkan pun, mereka memberikan sesuatu (uang, hingga sembako) kepada masyarakat yang diposisikan sebagai objek politik, tapi bila telah selesai kesempatan kampanye itu, rakyat dilupakan, janji-janji mereka dengan begitu cepat mereka lupa.

Berhati-hatilah menjadi konstituen, jangan mau tertipu untuk kesekian kalinya memilih politisi yang lupa ingatan (pikun) atau pura-pura lupa ingatan itu. Karena perubahan bangsa ini ternyata harus dimulai dari rakyat (konstituen), dan kesempatan emasnya berada disaat momentum politik seperti Pilpres, Pileg, sampai Pilkada. Belajarlah dari pengalaman-pengalaman anda memilih pemimpin atau member suara kepada para politisi, bila sejauh bermanfaat untuk kemaslahatan banyak orang, maka lanjutkanlah dengan terus memantapkan sikap.

Bila, hanya mendatangkan kemiskinan dan malapetaka, maka sudah saatnya anda mengganti pilihan, lebih selektif lagi memilih para politisi, jika semua yang kalian nilai tidak pantas dipilih, sudah pasti memilih untuk tidak memilih juga pilihan anda sebagai rakyat. Daripada memilih hanya mendatangkan ‘musibah’, karena orang yang anda pilih nantinya menjadi koruptor, menyalahgunakan kewenangannya, tidak amanah, dan kembali membuat anda atau kita semua menjadi hidup miskin yang terstruktur.

Politisi yang pelupa harus disentuh nuraninya dengan tidak memilih mereka lagi, begitupun politisi hedon. Mereka-mereka itu belum layak dijadikan teuladan, mereka belum bias diberikan kepercayaan, jauhkan saja mereka dari urusan ‘membawa amanah rakyat’, sudah saatnya bermigrasi pilih mereka para politisi ulet, konsisten, berwawasan luas, yang dapat dipercaya (trust), bukan penghianat rakyat yang doyan lupa, atau politisi yang memanjakan diri dengan hura-hura memanfaatkan kepentingan rakyat untuk bersenang-senang.

Terserah memilih figure atau parpol yang memiliki kepercayaan tinggi, masyarakat jangan anti dengan proses pembelajaran demokrasi, segala resiko yang didapatkan rakyat hari ini tak lain adalah akibat dari pilihan politiknya kemarin. Karena sekali lagi, tidak perubahan yang terjadi sendirinya tanpa ada tindakan dari kita, saatnya berubah bersama dengan saling mengingatkan untuk tidak lagi memilih politisi hedonis dan politisi pelupa. Rakyat bersatu melakukan perlawanan dengan cerdas yakni melalui cara tidak memilih politisi abal-abal, instan, suka lupa janjinya serta politisi hedon, yang hanya memanfaatkan suara rakyat.(***)


Penulis Amas Mahmud, Redpel Suluttoday.com
iklan1
iklan1