Catatan tentang Sarjana Nasi Kotak dan Wakil Rakyat Spesialis Bimtek

Arman Soleman (Foto Ist)

Oleh Arman Soleman, pengurus HMI-MPO Cabang Manado

Stigma kota Manado sebagai kota yang maju, nyatanya tak berbanding dengan pembangunan masyarakat yang maju. Dengan komposisi masyarakat majemuk nyatanya hampir seluruh masyarkat krisis akan ideologis. Meski begitu daerah ini masih dipercaya sebagai daerah yang memiliki tingkat pendidikan yang baik dengan terus meningkatnya mahasiswa dari luar daerah.

Mirisnya, sektor pendidikan di kota ini banyak melahirkan sarjana “Nasi Kotak” yang prosesnya study diselesaikan dengan pelayanan mahasiswa kepada dosen dengan sangat baik. Layaknya pesta yang besar ujian disugguhkan dengan makanan snack bahkan amplop. Fenomena itu menjadi riak-riak ketakutan orangtua mahasiswa menengah kebawah.

Terlalu majunya kota ini hingga melairkan pemuda dan mahasiswa yang lagi tak mampu mengeritik keadaan kota yang berhantu banjir, kemacetan, pergeseran paradigma menjadi masyarakat yang konsumtif, kriminalitas yang selalu terjadi, pemerkosaan kepada wanita, kebebasan pergaulan seolah berubah menjadi ketakutan menyelimuti orangtua dari setiap anak di kota ini.

Mungkin wakil rakyat kita akan membantu masyarakat yang terpinggirkan, oh iya saya hampir lupa Anggota DPRD Manado nyatanya selalu berangkat setiap minggunya dengan tameng “Bimbingan tehnis (Bimtek)” dengan tujuan untuk belajar dari kota lain tentang kemajuan mereka yang anggaran sudah disusun, bahkan sampai anggarannya sampai Miliyaran rupiah, dengan realitas yang ada tak realisasi dari hasil Bimtek. Ataukah mungkinkah mereka spesialis Bimtek “Wah Saya sudah berburuk sangka”? .

Bukankah lebih effektif jika Anggaran “Bimtek” untuk modal UMKM. “Ah sial” ternyata pemandangan sekarang bukan diperindah dengan taman God Bless Park tapi dengan taman investor asing dan luar daerah yang realitas kecilnya dipenuhi dengan Indomaret dan Alfamart bahkan AlfaMidi. Apakah ini bentuk diskrimanilisasi atas pengusaha kecil, pedangan kecil. Oh memang saya hampir lupa dari dulu juga pedagang kecil sering diusir Sat Pol PP. Sudahkah Pemimpin daerah kita mendengar keluhan pedangang yang ada wilayah 45 dan sekitarnya.

Mungkin kita kan selalu begini. Ada lagi yang mengelilingi pemikiran saya, yakni Wakil rakyat kita mugkin masih sibuk dengan politik mereka terlebih sejumlah partai sudah membuka penerimaan Calon Legislatif (Caleg). Jadi, yang ingin berangkat keluar negeri setiap minggu, baiknya mendaftar manjadi Caleg. Pendaftaran Caleg seperti lotre saja. Sahabat-sahabatku, wahai rakyat jelata siap-siap untuk kita dimanjakan lagi, sudah adakah yang datang kerumahmu mengantar beras ? memberikan bantuan ? jika belum tunggu sedikit lagi mereka akan segera datang.

Jadi kiranya Mahasiswanya dimana?? “Ohh Mungkin saja” lagi asik-asik memperkaya investor luar daerah yang di Kota ini. Siapa lagi yang membela kita ? jangan harapkan calon-calon “Sarjana Nasi Kotak” untuk berteriak keadilan untuk kita, karena nyatanya mereka tidak bisa meminta keadilan dan pasrah terhadap Pungutan Liar (Pungli) yang di sekitar mereka, dilembaga pendidikan mereka yang mengajarkan kebaikan dan melakukan keburukan saja takut untuk protes mau mengaku-mengaku aktivis.

Kita saja yang mengeritik, Oh sial, lebih jangan, kita kan tidak mengerti hukum. Jadinya takut mengeritik karena terlalu banyak UU yang multitafsir sehingga banyak yang bisa menjebak kita. Bahkan nantinya kita bisa dijebak oleh pakar akan ilmu itu. Jika dulu para pejuang kita melawan dengan tulisan di media serkarang saat lewat media sosial. Karena sedikit lagi mungkin akan ada sensus penduduk di dunia maya kerana banyaknya warga yang aktiv didunia maya ini.  #JeritanWargaPinggiran

iklan1
iklan1