Wakil Presiden Undang Wali Kota Manado ke Istana

Foto bersama usai Workhsop (Foto Ist)

MANADO – Torehan prestasi terus diraih Wali Kota Manado, DR GS Vicky Lumentut dan Wakil Wali Kota, Mor Dominus Bastiaan dalam membangun Kota Manado. Dalam aspek peningkatan pelayanan disektor Teknologi Informasi dan Komunikasi, kembali Pemkot Manado mendapat perhatian secara Nasional.

Sebagaimana diketahui, Wali Kota yang akrab disapa GSVL ini, mendapat kehormatan diundang mengikuti Rating Kota Cerdas (RKCI) tahun 2017. Kegiatan yang dihelat oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) ini akan digelar mulai Mei hingga Oktober 2017.

Di sela-sela pelaksanaan Workshop e-Government dan Smart City for Executive Government di Bandung, Kamis (27/4/2017) belum lama ini, Guru Besar ITB dan Ketua Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas (APIC) Prof. Suhono Harso Supangkat menjelaskan bahwa Kota Manado dinilai sebagai salah satu Kota dari 98 Kota di Indonesia yang sementara mengembangkan Smart City, sehingga perwakilannya diundang mengikuti Workshop.

Rating Kota Cerdas Indonesia adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk melakukan pemetaan sehingga tiap kota mampu menjadi Kota Cerdas berdasarkan potensi dan karakter lokal.

“Rencananya, acara ini akan dibuka oleh Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla pada 4 Mei 2017 di Istana Wapres, dan Wali Kota Manado, G.S. Vicky Lumentut turut diundang untuk menghadiri acara ini sekaligus mengadakan semacam talk show dengan mengundang 3 Kementrian, Kemendagri, Bappenas dan Kemenkominfo serta Apeksi dan APIC,” ujar Prof Suhono.

Tidak hanya itu, Prof Soehono yang menjadi fasilitator kunci dalam Workshop e-Government dan Smart City for Government Executive di Bandung pada 24-27 April 2017 mengemukakan inti dari kegiatan ini adalah mengenalkan model ukuran kematangan Kota Cerdas di Indonesia. Yakni, sejauh mana tingkat kesiapan kota-kota dalam membangun kotanya sehingga warganya bisa hidup nyaman, bahagia, sejahtera yang berkelanjutan.

”Banyak persepsi membangun Kota Cerdas hanya membangun Command Center saja atau aplikasi, tetapi tidak melihat aspek ekosistem lainnya seperti manusia, budaya sebelumnya hingga tata kelola. Kemudian, tujuan RKCI yakni melakukan pengukuran kinerja pengelolaan kota terhadap pelayan masyarakat. Kemudian, memberikan gambaran yang lebih komphrehensif mengenai kondisi kota dan permasalahan di dalamnya,” tutur Prof Suhono.

RKCI juga bertujuan untuk memberikan pedoman bagi stakeholder kota dalam membangun layanan kota. Juga, sebagai proses evaluasi berkelanjutan dalam implementasi smart city di kota kota Indonesia.

”Permasalahan kota seperti kemacetan, kejahatan, lingkungan dan lainnya kian kompleks. Hal ini menyebabkan adanya kebutuhan inovasi dalam mengatasi permasalahan kota,” ucap Guru Besar ITB ini.

Ditambahkannya lagi bahwa implementasi smart city sebagai solusi banyak dilakukan kota namun belum ada model referensi. “Karena itu, dibutuhkan evaluasi dan pemetaan kondisi kota agar tiap kota mampu berinovasi berdasarkan kondisi dan karakteristik tiap kota di Indonesia,” paparnya.

Pada kesempatan ini pemerintah Kota Manado turut mengirimkan 4 (empat) ASN mengikuti Workshop e-Government dan Smart City for Government Executive di Bandung pada 24-27 April 2017. Tampil sebagai fasilitator dalam workshop 14 Tenaga Pengajar ITB yang memberikan materi di seputar e Government dan Smart City, termasuk mengunjungi Smart Living di Kampus ITB. (*/Amas)

iklan1
iklan1