Archive for: Agustus 2017

DPRD Minsel Gelar Rapat Paripurna Ranperda Tentang Hak Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan

Berlangsungnya sidang paripurna (Foto Suluttoday.com)

AMURANG, Suluttoday.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) pada Rabu (30/8/17) menggelar Rapat Paripurna Pembicaraan Tingkat II atas Rancangan Peraturan daerah (Ranperda) tentang hak keuangan administratif Pimpinan dan anggota DPRD Minsel.

Rapat Paripurna dilaksanakan di ruangan Paripurna DPRD Minsel dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD Minsel Rommy Pondaag SH,MH Mewakili Ketua DPRD Jenny Johana Tumbuan SE yang sedang berhalangan.Pada rapat Paripurna tersebut hadir juga Bupati Minsel Christiany Eugenia Paruntu SE, Wabup Franky Donny Wongkar SH, Kapolres Minsel AKBP Arya Perdana SH SIK MSi.

Bupti Tetty Paruntu ketika memberikan pengantar notakesepahaman dalam sidang paripurna (Foto Suluttoday.com)

Kepala Pengadilan Amurang, Kajari Amurang, Sekdakab Minsel, para Asisten, para anggota DPRD Minsel dan Kepala – Kepala Perangkat Daerah (PD) yang ada dilingkungan Pemkab Minsel. Bupati dalam sambutannya mengatakan, bersyukur bahwa Ranperda hak keuangan administratif Pimpinan dan anggota DPRD Minsel telah selesai dilaksanakan.

“Dengan begitu anggota DPRD dapat membawa aspirasi masyarakat untuk diperjuangkan, dan diwujudkan sebagai kebijakan serta aturan demi kemajuan masyarakat di Minsel,” kata Bupati yang akrab disapa Tetty Paruntu ini.

Bupati Minsel saat menandatangani berita acara (Foto Suluttoday.com)

Penandatanganan sekaligus pengesahan Ranperda hak keuangan administratif Pimpinan dan anggota DPRD Minsel, dilakukan oleh Wakil Ketua DPRD Minsel Rommy Pondaag SH, MH serta Frangky Lelengboto ST dan Bupati Christiany E Paruntu SE.(Friska)

Bupati Moridu Harapkan Pengusaha Perikanan Dapat Berkembang

H. Darwis Moridu saat sambutan (Foto Suluttoday.com)

GORONTALO, Suluttoday.com – Bupati Kabupaten Boalemo, Provinsi Grontalo H. Darwis Moridu dalam sambutannya ketika membuka sosialisasi informasi akses permodalan usaha, perizinan dan retribusi yang digelar oleh dinas perikanan dan kelautan Boalemo.

Dihadapan pengusaha perikanan bahwa pemerintah lewat dinas perikanan dan kelautan telah banyak melakukan terobasan baru, supaya pelaku pengusaha perikanan cepat berkembang dan lebih sejahtera. Pemerintah juga akan mempermudah pengurusan izinan bagi pengusaha perikanan, namu diharapkan pengusaha perikanan mematuhi segala ketentuan yang berlaku dan memberikan kontribusi yang besar untuk daerah kedepan nanti, pada Kamis (31/8/2017).

Sedangkan kadis perikanan dan kelautan Kabupaten Boalemo Hj. Ir. Sila N. Botutihe menegaskan, bahwa akses modal usaha, perizinan dan retribusi yang harus dipahami oleh pengusaha perikanan. Pemerintah harus memberikan informasi, pengetahuan dan pemahaman terhadap pelaku usaha yang bergerak diperikanan agar lebih memahami usaha yang dikembangkan dan juga ingin meningkatkan pendapatan asli daerah yang harus dilaksanakan.

Ada kemampuan namun juga harus ada kesadaran sehingga terbangun suatu kemajuan bagi daerah, dan dunia perikanan Boalemo lebih maju lagi dikemudian hari. (Robby).

Wabup Boalemo: Sejingkalpun Tanah Batas Wilayah Boalemo Kita Akan Pertahankan

Sambutan Bupati pada Temu Kerja (Foto Suluttoday.com)

GORONTALO, Suluttoday.com – Batas luas wilayah kabupaten Boalemo merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dituntaskan/diselesaikan, sebab batas luasan wilayah selalu menjadi pijakan kita dalam mengembangkan kabupaten Boalemo dimasa yang akan datang. Sehingga kedatangan Tim Delineasi batas kelurahan/desa Badan Informasi Geospasial (BIG) pusat yang memilih Kabupaten Boalemo masuk sebagai wilayah kerja dari BIG pusat, merupakan penghargaan bagi pemerintah dan masyarakat untuk menuntaskan batas wilayah yang ada di 7 Kecamatan dan 82 desa tegas wabup Annas Jusuf, pada Rabu (30/08/2017).

Batas wilayah yang selalu menjadi masalah yang sangat krusial dan terakhir pemerintah mendapat pengaduan dari pemerintah desa dan masyarakat dari desa salelama dan desa karuyian yang dikecamatan mananggu mempersoalkan batas wilayah dan begitu juga batas wilayah Boalemo dengan Pohuwato dan kab. Gorontalo sering bermasalah, kehadiran BIG di Boalemo dapat menjawab batas wilayah tersebut dan sejingkalpun tanah yang merupakan bagaian dari luasan wilayah kita akan kita pertahankan jika memang itu masuk wilayah Boalemo.

Sementara itu, mewakili BIG Pusat Alfira Diana dalam sambutannya mengatakan, batas wilayah kelurahan/desa merupakan salah unsur esistensi suatu daerah disamping penduduk dan pemerintahan. Batas desa bagian dari administrasi antara provinsi, kabupaten/kota, Kecamatan dan desa yang tak terpisahkan satu sama lain. Batas wilayah sebagai pengatur wilayah secara administratur suatu pemerintahan juga dapat mengatur batas-batas wilayah pemerintahan, diperlukan pemetaan batas wilayah yang memenuhi aspek teknis maupun yuridisnya.

Batas wilayah juga dapat memperkuat pemerintahan dalam pemastian pembangunan dan aspek hukum, kadang-kadang batas wilayah dibuat secara berbeda-beda sehingga adanya BIG dapat mengsingkronisasikan seluruh SKPD yang ada disuatu daerah jika batas wilayah jelas. (Robby).

Soal Divestasi Saham PT Freeport, LMND Desak Presiden JOKOWI Terbuka Kepada Publik

Pengurus LMND saat menyampaikan pernyataan pers (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Sikap kritis dan perlawanan terhadap dominasi investasi Asing di Indonesia terus ditunjukkan organisasi Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), kali ini melalui konferensi pers LMND yang dipimpin langsung Ketua Umum Indriyani Abd Razak dan Sekertaris Jenderal Muhammad Asrul, menyinggung soal keberadaan PT Freeport di Indonesia.

Dimana yang dilakukan pemerintah Joko Widodo (Jokowi) selaku Presiden Republik Indonesia, dalam hal ini Menteri ESDM dan Menteri Keuangan serta pihak PT. Freeport terkait penyelesaian perselisihan negosiasi antara pemerintah dengan PT. Freeport setelah berlakunya Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 2017. Menurut LMND, dalam proses negosiasi tersebut ada beberapa hal yang menjadi poin penting tarik antara pemerintah dengan pihak PT. Freeport Indonesia antara lain mengenai Divestasi Saham, Perubahan status dari Kontrak Karya menjadi IUPK, Pembangunan SMELTER sampai Perpanjangan Izin Usaha Produksi.

Dan Kesepakatan kedua belah pihak dalam proses negosiasi yang menyita perhatian publik, maka kami atas nama Liga Mahasiswa NasionaI untuk Demokrasi menyikapi hasil kesepakatan itu antara lain sebagai berikut:

Persoalan Divestasi Saham 51 % didalam peraturan pemerintah pasaI 97 No. 1 tahun 2017 bahwa perusahaan asing yang melakukan kegiatan pertambangan diwajibkan melepaskan sahamnya kepada pihak Indonesia secara bertahap sesuai waktu produksi. PT Freeport Indonesia sudah puluhan tahun melakukan kegiatan pertambangan di bumi Papua. Pelepasan saham Freeport terhadap Pemerintah memberikan ruang bagi ibu pertiwi berkuasa atas kekayaan alam yang terkandung didalamnya serta mengembalikan penguasaan mayoritas saham dan kontrol negara terhadap perusahaan asing.

Sesuai dengan peraturan pemerintah bahwa pelepasan saham ini bisa dikuasai oleh pemerintah pusat, BUMN, Pemerintah daerah serta perusahaan swasta nasional. Divestasi saham ini bukan hal baru bagi pemerintah. Ditahun sebelumnya kita harus banyak belajar dari persoalan Newmont yang jatuh kepada PEMDA dan sebagian perusahaan nasional, dan itupun tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan, kemakmuran masyarakat setempat maka dari itu kami menegaskan kepada pemerintah agar skema pelepasan saham Freeport disampaikan secara terbuka kepada publik.

Dengan skema mayoritas pemegang sahamnya pemerintah pusat dan atau BUMN dengan tujuan kepentingan Nasional yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan serta kemakmuran rakyat Indonesia (Masyarakat setempat) agar kekayaan republik ini dirasakan sepenuhnya bagi rakyat miskin sesuai dengan amanat pasal 33 UUD 1945 dimana Bumi, Air, Udara dan seluruh kekayaan aIam terkandung didaIamnya dikuasai Negara sebesar-besamya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat.

Perubahan KK menjadi IUPK beIum adanya kedauiatan penuh Negara atas perubahan ini. Kita mengetahui bersama bahwa pembahasan tentang perpanjangan kontrak dalam bentuk status Kontrak Karya dibahas 2 tahun sebeIum berakhir. PT Freeport Indonesia berakhir Kontrak Karyanya pada tahun 2021 dan dibahas tahun 2019 kedepan. Perubahan dari KK menjadi IUPK ini dengan sendirinya memberikan perpanjangan izin kepada Freeport 2×10 tahun sampai tahun 2041. Namun pihak Freeport mengajukan lebih duiu perpanjangan kontrak mengingat tahun 2019 ada momentum politik direpublik ini tetapi ada kepentingan perusahaan untuk menjamin keberlangsungan lnvestasinya. Perubahan dari KK menjadl IUPK sepertl hasil negosiasi disatu sisi akan meningkatkan pendapatan Negara lewat Royalti, PPH, PPN dan PBB.

Namun dibalik itu pemerintah masih memberikan izin kewenangan kepada Freeport untuk melakukan izin ekspor kosentrat ke luar yang bertentangan dengan UU No 4 tahun 2009 tentang kepentingan Negara serta pendapatan Nilai lebih lewat pembangunan & pengolahan permurnian sehingga tidak ada lagi ekspor dalam bentuk bahan baku tetapi menjadi bahan setengah jadi maupun bahan jadi. Pemberian kewenangan ini sangat merugikan bangsa dan jauh dari semangat serta Roh dari Undang-Undang yang mengarah pada kepentingan nasional demi kedaulatan bangsa. Perubahan dari KK menjadi IUPK juga harus ada kejelasan serta penyesuaian luas area pertambangan yang belum disampaikan kepada public.

PT. Freeport Indonesia membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) selama setahun atau selambat-lambatnya sudah harus selesai pada oktober 2022. Menurut kami pemerintah terlalu memberikan kelonggaran terhadap perusahaan dalam pembangunan smelter ini. Seharusnya sejak berlakunya UU No. 4 tahun 2009 yang dipertegas pada pasal 107, maka menjadi keharusan serta kewajiban perusahaan untuk membangun smelter dengan memperhatikan tenaga kerja lokal, barang dan jasa dalam negri.

Pembangunan smelter ini akan banyak menguntungkan Negara dalam hal pendapatan, penerimaan dan penyerapan tenaga kerja terampil. Namun perjalanannya pemerintah belum tegas serta komitmen dalam mendesak perusahaan Freeport membangun smelter sejak tahun 2009. Pelepasan saham yang 51% ini harus di miliki pemerintah, tapi mampu tidak pemerintah membeli saham dengan hutang negara di luar negeri. (*/Fahry Laudje)

Bertandang ke ‘Rumah Sastra’ Jamal Rahman Iroth SEBUAH RESENSI IMAJINATIF PUISI

Buku karya Jamal Rahman Iroth (Foto Suluttoday.com)

Oleh: Hamri Manoppo*

Siang itu saya menikmati perjanan istimewah, Kopandakan-Buyat yang jauhnya kurang lebih tujuh puluh kilometer biasanya dengan waktu tempuh rata-rata satu setengah jam, saya kemas dalam tempo lima belas menit,menggunakan ‘pesawat’imajinatif. Kali ini saya tak merasakan dinginnya udara tepi danau mooat. Tak sempat menciumi aroma daun cengkih yang ceria. Tak sempat memandang tanah gundul bekas sergapan tambang.Dan tanpa was-was dengan liukan-liukan tajam, serta jurang dan ngarai yang menganga. Karena benak saya terfokus pada ‘Rumah Sastra’ Jamal di desa Buyat.

Sayup kudengar nyanyian ombak pantai Lakban, riuh cericit burung-burung di pulau Kumeke. Ah, indah benar perjalanan imajinasi melintasi lembah ibu kota Tutuyan. Memasuki desa Buyat takjub kupandang singgasana Jamal yang auranya menjulanghingga ke langit. Riak kecil danau Luak dan pantul bayang bukit Torotakon, petani dan penambang bergelayut di tepi jalan, mengais rezeki menyambung hidup. Benar, saat aku tiba seorang lelaki gagah berdiri sambil berkedip mata pertanda keakraban saat dia bertandang ke rumah telah terjaga. Saat mata beradu ada getar indah membahana seperti mataku beradu dengan para pesohor di negeri ini; Rendra, Sutardji, Emha Ainun Najib atau Taufik Ismail, misalnya.

Aku mendorong daun pintu yang terangkai dari imajinasi kata, sebuah mahligai indah nan megah. Pantas. Di sinilah Jamal melabuhkan cinta abadi, berkeluarga turun-temurun dari darah Gorontalo-Minahasa, lalu menancapkan tekadbersastra di bumi Totabuan. Aku berdecak kagum dengan jerih-payahnya membangun ‘Rumah Sastra’.Sebuah rumah impian, perpustakaan abadi, jati diri harkat dan nilai kehidupan. Aku bahkan lupa mengucap salam, karena mataku sigap melucuti seluruh rumah. Fondasi dan lantainya kata-kata, tiang-tiangnya naskah teater dan drama, atapnya pias-pias puisi, dindingnya lukisa dan foto-foto indah, lemarinya gundukan novel, dapurnya panggung kehidupan. Ah, Jamal kita sedarah. Sejiwa.

Saat dekat lemari mataku tertuju pada kitab “TOROTAKON” sebuah buku baru kau antarkan padaku di malam tak terduga itu. Lalu aku membuka helai demi helai, empat puluh delapan puisi membawaku hingga jauh melampaui cakrawala. Pada puisi pertama, aku tak bertanya karena Iverdixon Tinungki berkata dalam pengantarnya; Jamal punya multi talenta, sastrawan–fotografer. Mencecap puisi ‘Sepenggal Desember’ terasa jamal baru mulai membangun rumah. Saya teringat sastrawan besar dari Amerika, Edgar Allan Poe berkata bahwa “puisi adalah misteri”. Minimnya kata-kata kongkrit sebagai ketakutan membeber kritik konvensional menjadikan sebuah puisi menjadi misteri. Bayangkan saat Chairil berkata, “aku ini binatang jalang,” lalu ia tutup dengan “aku mau hidup seribu tahun lagi.

Keunggulan Jamal memainkan ‘figuratif’ kata mewarnai puisi-puisinya, layaknya ia memainkan kamera. Klik sana, klik sini. Yang abadi sudah. Seperti puisi “Sepenggal Desember”, tercetuslah beragam diksi sederhana namun memiliki kesan mendalam; buih laut- beduk subuh- burung dan gunung- secangkir teh – menyimpan luka – air mata, ditutup dengan cericit anak ayam keriangan. Puisi pertama ini memang ‘misteri’ seperti hanya ditangkap dengan memindah-mindahkan kamera. Ah, Jamal aku tertantang membedah rumahmu.

Memasuki puisi kedua aku mulai menemukan Jamal. Keseimbangan antara kata-kata figura dan kata-kata kongkrit mulai berimbang. Aku mulai merasakan; berapa harga kicauan burung-burung — yang makin terhimpit di sela-sela ketiak kota. (Torotakon, 2017: 2). Di sinilah Jamal berkata;“di rimbunan mana para penyair menemukan puisi yang bersembunyi.

Pada puisi ketiga, ‘Tanjakan Atoga’secara tegas Jamal berkata; “sebab Inde’ Dou dan para Bogani tentu kecewa menyaksikan cucu cicitnya belum juga puas melukai belukar — dan tiap hari lalai memaknai kebaikan semesta”. Penyair memang peka dengan berbagai tingkah laku manusia yang merugikan berbagai pihak. Penggergajian kayu tentulah merusak alam jika tidak tertata dgn baik.

Pada puisi “Torotakon” Saya menemukan jiwa seorang Jamal yang menjadi “Orang Buyat”.Asli.Jamal berhasilmenangkap impresi sebuah danau kecil saat kita memasuki gerbang Buyat.Hampar kebun kelapa, petani, sawah, serta bukit Torotakon membangun imajinasi yang besar, bahkan tembus hingga ke lobang tambang emas. Sebab ”Ketika musim panen menjelma ritual gigit jari/ lambaian janur melemah di pucuk lidi/ seperti denyut senja di rumah-rumah sepi. Jamal prihatin dengan petani karena jauh sebelum panen mungkin padi telah dibeli tengkulak. Bahkan tambang yang dikelola secara tradisional disambutnya dengan kata-kata”di kakimu para penambang/ menggali maut dari liang nafasnya sendiri/ para penunjang kadang tumbang/ dan tak bisa lari”.

Pada puisi ‘Tutuyan 2016’, Jamal membeber kritik-kritik menarik tentang kehidupan perekonomian Boltim. Sebagai Ibu Kota hampir semua sisi puisi ini berbicara, bahkan secara menyeluruh kekayaan bumi tanah Boltim masih jauh dari kesejahteraan yang diinginkan. Pasar yang belum ada, penerangan kota, nelayan yang gelisah, anak yang putus sekolah, lobang tambang ribuan tapi yang berhasil hanya satu dua.Sebenarnya naluri keprihatinan Jamal, juga sudah menyeruak dalam ‘Torotakon’–puisi pamungkas yang dijadikan judul antologi puisi ini. Lalu, ketidakpuasan Jamal ia “ledakkan” dalam “Pesan Sebuah Pena”. Mari kita nikmati penggalannya; “bapak bupati/ dengan penamu sendiri/ coretlah semua draf kompromi/ yang ditawarkan para pencuri/ tulislah sangsi bagi pejabat lupa diri/ buatlah rumus-rumus penawar ambisi”. Lewat puisi inilah Jamal berbisik kepada penguasa.

Menikmati puisi-puisi Jamal dalam buku ini, semakin ke dalam semakin tergambar bahwa ia datang ke Boltim tidak sekadar berpetualang. Ia belajar menguasai geografisnya, ia menelusuri mitos-mitos dan legenda-legenda leluhur, ia berusaha menyelami peradaban. Ia mencatat nama-nama bersejarah;Inde’ Dou, Pondabo, para Bogani, serta sejumlah mitos-mitos. Imajinasi ‘kameranya’sungguh jeli.Kata-kata ‘reporter radionya’ bertutur indah.Lukisan-lukisannya menggambar nyata.

Jamal muncul dalam khasanah sastra Indonesia dengan gayanya. Perhatikan uraian mitosnya; ”ada isyarat belum kukenali/ membawaku ke sini/ di timur negeri Bogani/ pada sebuah malam sebelum purnama/ Pondabo datang di mimpiku…,” Demikian pula dengan penyelaman penyair tentang keindahan alam, Jamal melihat beberapa Tanjung di Boltim serta tempat yang inspiratif seperti tergambar dalam puisi “Tanjung Woka”, Tanjung Bubuan”, “Hikayat Sebuah Sungai”, Di Timur Ratatotok”, “Dengarlah Denyut Teluk Ini”. Jamal merangkainya dengan menyisipkan misteri makna dalam dunia puisi.

Sebagai seniman, Jamal juga prihatin dengan para tokoh ternama yang terlupakan, kita lihat pada puisinya, “Pendekar Yang Kini Rebah”, atau “Kisah Perupa Yang Terlupa”, perhatikan keprihatinannya pada sosok yang dianggapnya guru, “ Yong, jemarimu semakin ringkih mencengram tube/ tapi semangat di lenganmu masih sigap menampik irama kusam/ di wajah zaman /di wajahmu /gambar sepi setia dibuahi malam/.

Melengkapi isi buku ini sebagai petualangan seni, Jamal mengabadikan kota Frankfurt Jerman.Satu selipan menarik dalam buku ini. Ia tentu tak membandingkan kota besar ini dengan peradaban desa Buyat, dia hanya berceloteh di akhir puisi ini dengan kata-kata; ”lalu kutulis segala angan di perahu kertas/ dan kularungkan pada tepi sebuah sungai di museumsufer/ berharap kita kan menjemptnya bersama/ nanti di muara kali jengki.”

Terlepas dari puisi-puisi lain yang ia kemas secara imajinatif di tempat lain, serperti gunung gamalama, serta beberapa cafe tempat dia menikmati uap kopi dan teh hangat ada puisi yang menarik lainnya dengan judul “Frase-Frase dari Langit” yang ditulisnya berulang-ulang hingga lima kali. Disinilah aku menemukan jamal secara paripurna. Ia bermain gelombang radio, bermain lensa, bermain pena, bermain kuas dan kanvas; multi telenta! “Den, rupanya kau masih tangguh/ menelan radiasi ultaviolet/ tersebab kekasih coba menukar/ gelombang radio yang kau tancapkan penuh peluh/ dengan aurora dari langit baru di hatinya”. Jamal juga mengingat katamsi, Iverdixon, serta sejumlah orang yang menjadi inspirator bagi dirinya saat menulis puisi.

Bertandang ke “Rumah Sastra” Jamal di Boltim, dalam kurun waktu singkat memang saya senang, walaupun belum setara waktu bertandang ke rumah Rendra, Taufik Ismail dan lali-lain yang pernah kulalui  lima belas tahun lalu.Mengapa? Jamal muncul dengan dimensi banyak talenta. Kepekaan seni yang menyebar pada fotografer, pelukis, penyiar, bersastra terasa susah untuk menuju karya yang paripurna. Jika semua talenta itu fokus pada satu saja, saya yakin Jamal akan jauh lebih sempurna. Ia harus memilih mana yang paling utama. Sastrawan saja terkadang masih memilih fokus ke penyair atau prosais apalagi talenta Jamal yang bagai empat dimensi. Seorang penyanyi yang berbakat juga bermain filem terkadang harus berfokus pada satu saja, dan itu yang membuat dia lebih sukses.

Hanya dengan fokus lebih ke puisi, Jamal akan lebih sempurna dengan puisi yang struktur fisik dan jiwa jadi seimbang. Puisi tak sekedar pintar bermain metafora, serta berbagai diksi bahasa, tetapi tema dan tujuan selalu menjadi kepuasan bagi kita jika dimengerti oleh penikmat. Kehebatan kamera, kepiawaian menyiar, tergambar jelas pada “misteri-misteri puisi Jamal”. Kendatipun demikian patutlah saya bersyukur karena sempat bertandang ke “Rumah Sastra” jamal di Boltim.

Saya bangga dengan talentanya yang ‘empat dimensi’ itu, mungkin sosok Jamal adalah salah satu Sastrawan Indonesia yang harus mensyukurinya. Baiklah…, Assalamualaikum, saya pamit Jamal, mohon maaf jika ada tingkah tamu yang keliru.Puisi memang misteri. Lain waktu saya datang dengan puisi yang lain dalam “Torotakon”.Sebab Buyat adalah kampung leluhurku juga, ayah Ibu saya Barumbung Modeong. Dan akhirnya, tentu tidak berlebihan rasanya jika saya mengatakan; membaca antologi puisi “Torotakon” berarti anda akan mengenal Jamal sekaligus Boltim. (***)

*Hamri Manoppo : Budayawan, tinggal di Kopandakan – Kotamobagu.

iklan1