Aktivis GPI Sulut: STOP Pemkot Manado Subsidi PD Pasar

Malik Suma (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Rencana pengajuan pinjaman dana sebesar Rp 200 Miliar dari pemerintah Kota Manado sebagaimana disampaikan Wali Kota Manado, DR GS Vicky Lumentut dalam rapat paripurna DPRD Manado, Senin (6/11/2017) belum lama ini kini menjadi ramai diperbincangkan masyarakat, terutama terkait pengalokasian dana untuk revitalisasi pasar tradisional di Manado.

Terutama soal rencana pembangunan kembali Pasar Bersehati Manado mendapat tanggapan dari aktivis Gerakan Pemuda Islam (GPI) Sulawesi Utara (Sulut), Malik Suma. Jumat (10/11/2017), Suma yang juga alumni HMI Cabang Manado ini meminta pemerintah Kota Manado untuk menghentikan subsidi kepada Peusahaan Daerah (PD) Pasar Manado. Menurutnya semestinya, Perusahaan Daerah menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap pemerintah Kota Manado.

”Stop pemerintah kota Manado, mensubsidi PD pasar. Semestinya PD pasar yang menyumbangkan PAD buat kota Manado. Seperti halnya di kota lain, dimana pasar penyumbang PAD. Masa di kota cerdas seperti Manado, pemerintah harus subsidi, subsidi dan subsidi lagi,” ujar Suma tegas melalui akun Facebooknya.

Tidak hanya itu, saat diwawancarai Suluttoday.com, Suma mengaku heran atas jumlah petugas PD Pasar Manado yang begitu banyak namun tidak diimbangi dengan pendapatan yang harusnya disetor ke kas daerah. Suma mengaku bahwa mengurus pasar di Manado tidak perlu terlalu banyak personil yang berkonsekuensi pada membiayaan gaji karyawan, tapi faktor efektifitas dan efesiensi harus diperhatikan.

Status Facebook yang diposting Malik Suma (Foto Suluttoday.com)

”Terus orang yang di PD pasar kerja apa, pak Walikota??????. Saya saja ke pasar harus bayar parkir. Setiap hari,, ratusan bahkan ribuan kendaraan yang masuk di pasar. Bayangkan saja jika parkir motor 2000 rupiah dan parkir mobil 3000 sampai 15000. Belum pendapatan dari sewaan lapak, tagihan bea setiap hari bagi orang yang jualan. Spektakuler kan pendapatan dari pasar, terus kenapa harus di subsidi. Aneh tapi nyata. Mengelola pasar tidak perlu banyak orang. Harus diterapkan miskin struktur tapi kaya fungsi,” tutur Suma tegas. (Amas)

iklan1
iklan1
iklan1