Pendidikan Islam dalam Bayangan dan Pertunjukan

Almunawar Bin Rusli (Foto Suluttoday.com)

Almunauwar Bin Rusli, M.Pd

(Dosen dan Peneliti IAIN Manado)

Internasionalisasi pendidikan Islam Indonesia untuk perdamaian dunia  kini bukan lagi sebatas imajinasi hampa yang bersarang di dalam kepala karena Kementerian Agama RI  telah ikut mengakselerasi gagasan, peran dan gerakan terkait cita-cita tersebut sebagaimana tertera  pada agenda International Islamic Education Exhibition (IIEE) 21-24 November 2017. Tanda tanya yang dapat ditampilkanadalah mengapa kemudian variabel perdamaian erat pengaruhnya dengan variabel pendidikan agama? Untuk menjawabnya, bayangan kita perlu kembali diarahkan pada pelbagai kekacauan.

Pertama, sejakTaliban memasuki Kabul pada tanggal 26 September 1996, media Barat bergulat dengan pertanyaan tentang sifat radikalisme Islam dan hubungannya dengan pendidikan agama. New York Times Megazine melaporkan bahwa di Pakistan ada satu juta siswa yang belajar di sekitar 10.000 atau lebih madrasah dan Islam militan merupakan inti dari kebanyakan sekolah ini. Pada tahun 1980, madrasah di wilayah ini tumbuh dengan cepat. Pertumbuhan mereka adalah hasil dari beberapa faktor: masuknya pengungsi Afghanistan, ketidakmampuan orang-orang miskin Pakistan untuk mendapatkan akses terhadap pendidikan yang terjangkau, dan sumbangan dari para pengunjung di Pakistan dan Arab Saudi agar mereka menjadi anti kepada Soviet. Beberapa madrasah Pakistan memang menjadi pusat pelatihan bagi militan jihad.

Bahkan sebelum kemenangan mujahidin melawan Soviet di Afghanistan, beberapa jihadis mengarahkan tujuan mereka  ke musuh-musuh Islam lainnya (Hefner, 2007:1). Kedua, dewan sekolah agama Pakistan memperkirakan bahwa 10.000 madrasah terdaftar sementara mungkin ada 10.000-15.000 lagi yang beroperasi di luar kendali mereka. Newsline memperkirakan bahwa sekitar 700.000 siswa dapat terdaftar di madrasah Pakistan pada satu waktu, dengan sekitar 15.000 di antaranya adalah siswa asing dari seluruh dunia (Farish A. Noor, 2008:146). Ketiga, sejak Amerika Serikat mengumumkan perang melawan teror, arus mahasiswa Indonesia yang bepergian ke Yaman perlahan mulai terhenti.

Kampanye melawan terorisme juga menciptakan masalah bagi madrasah salafi di Indonesia. Ketika perhatian dunia diarahkan ke Indonesia setelah pemboman Bali pada bulan Oktober 2002, Laskar Jihad yang menjadi simpul madrasah salafi tiba-tiba dibubarkan (Noorhaidi Hasan, 2011:109). Berdasarkan varian fakta diatas, maka sangat masuk akal apabila masyarakat dunia berani menarik kesimpulan bahwa konflik maupun perdamaian sangat tergantung bagaimana model pendidikan agama kepada pengikutnya. Hal ini disebabkan dimensi agama punya kekuatan dahsyat guna membentuk nalar, mental dan gerak umat manusia baik secara individu maupun kelompok guna mencapai tujuan-tujuan tertentu yang bersifat politis (negosiasi-kolaborasi-regulasi).

Melihat peristiwa heroik yang telah saya paparkan sebelumnya, maka sistem pendidikan Islam di Indonesia secara garis besar pun  ikut terjangkit masalah serius yakni orientasi akhirnya masih cenderung normatif-idealistik, ada gejala sektarianisme, patron keilmuannya sangat middle eastern oriented serta metodologi pengajaran masih berbasis konvensional bukan pembelajaran aktif berbasis isu-isu aktual-kontekstual. Implikasinya bisa terlihat pada cara pandang yang selalu mengutamakan klaim kebenaran atas informasi kemutlakan yang diterima. Menolak kebenaran datang dari agama lain.Penghormatan berlebihan terhadap simbol, menjadikan prinsip formalisme menjadi kekuatan politik. Menghukum siapa saja yang tidak sealiran atau yang tidak sesuai dengan yang tercantum dengan kitab suci dan menyuburkan arogansi keberagamaan.

Masalah-masalah dalam sistem pendidikan Islam barusan dapat dipahami melalui dua penjelasan. Pertama, secara artifisial pendidikan Islam (tarbiyah, ta’lim dan ta’dib) masih menjadi sebatas tanda pengenal instan di ruang publik dengan tetap memegang prinsip hidup yang kaku sebagai hasil bentukan di ruang privat yang eksklusif. Sehingga, upaya memodifikasi pikiran, sikap serta perasaan inklusif terhadap perbedaan-perbedaan fundamental dalam  masyarakat tidak berjalan dengan efektif-objektif.

Padahal, manusia selalu terikat dengan manusia yang lain. Sebab, manusia sebagai makhluk budaya perlu memberikan  makna pada dunianya dan wajib melibatkan aspek psikologi, sosiologi, linguistik, termasuk falsafah (Will Kymlicka, 2002: 135). Kedua, secara substansial pendidikan Islam sedikit lambatmelakukan pergeseran titik perhatian dari ‘to have religion’  menjadi ‘to be religious’. Selain itu, upaya integrasi dan interkoneksi nilai-nilai perdamaian transpersonal di dalam kurikulum pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan serta pendidikan ilmu pengetahuan sosialseakan  mengalami kehilangan jaringan. Dampaknya cukup jelas yakni masih terpeliharanya doktrin perang suci sebagai justifikasi melakukan kekerasan.

Melanjutkan pembahasan penting ini, saya ingin memberikan gambaran awal tentangpertunjukan model-model strategi pembelajaran  pendidikan Islambernafaskan perdamaian yang barangkali dapat diaktualisasikan ke dalam dunia pesantren, madrasah maupun sekolah. Pertama, “Menjadi Detektif Perdamaian”. Tujuan pembelajaran ini adalah peserta didik mampu memahami perbedaan dalam hidup sekaligus mampu melakukan penyelidikan serta penemuan sumber-sumber kedamaian di kelas, antar kelas atau lingkungan lembaga pendidikan. Melalui bentuk pembelajaran detektif (detective learning) ini akan menuntut peserta didik agar memiliki keterampilan observasi, membaca bahasa tubuh, analisis deduktif, rekayasa sosial dan kecerdasan mengingat.

Kedua, “Drama Aku dan Kamu adalah Kita”. Tujuan pembelajaran ini adalah peserta didik mampu berbagi cerita tentang ukhuwah  islamiyah, insaniyah dan wathaniyah dan mampu memerankan drama sekaligus menghayati nilai-nilai ukhuwah yang menjadi kesepakatan NKRI. Ketiga, “Bernyanyi dalam Keragaman”. Tujuan dari pembelajaran ini adalah peserta didik mampu mengekspresikan suara-suara perdamaian melalui nada lagu, mampu menghidupkan arti toleransi pada sesama teman sebaya, dan mampu meningkatkan kesadaran pentingnya membagi pesan perdamaian melalui seni.Dalam pembelajaran model kedua dan ketiga  akan dikembangkan aspek emosi, motorik, imajinasi, peneguhan eksistensi diri, serta pengembangan kekayaan rohani sekaligus nilai-nilai agama inklusif.

Dewey mengulas bahwa tindakan dan pikiran harus dihubungkan. Berpikir adalah usaha yang disengaja untuk menemukan hubungan spesifik antara sesuatu yang kita lakukan dan konsekuensi yang dihasilkannya.Colin Beard dan John Wilson mengulas bahwa pengalaman bisa jadi melandasi semua pembelajaran tetapi ia tidak selalu membuahkan pembelajaran. Kita harus terlibat dengan pengalaman dan merenungkan apa yang terjadi, bagaimana dan mengapa seperti demikian. Akhirnya David Kolb meringkas bahwa pembelajaran adalah proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman (Mel Silberman, 2014:3-4).

Gambaran awal tentang  model-modelstrategi pembelajaran pendidikan Islamyang sudah saya ajukan setidaknya ingin menegaskan bahwa pengalaman atau keterlibatan langsung peserta didik akan mencegah mereka dari gejala deprivasi relatif, disorientasi, dislokasi dan negativisme. Karena salah satu bahan utama perdamaian menurut literatur akademik adalah rasa dimiliki (sense of belonging). Sebagai pendidik, kita tentu saja bisa membudayakan  suatu perasaan saling terhubung di dalam kelas, sebuah ruang dimana cinta dan benci saling berkontestasi.

Sebagai penutup, lembaga pendidikan Islam Indonesia memiliki tanggung jawab moral guna menciptakan, mengatur sekaligus menyebarluaskan spirit rahmatan lil alamiinmelampaui sekat-sekat pembatas. Tanggung jawab ini pula didukung oleh tumbuhnya kesehatan beragama akibat diaspora dakwah berkarakter Nusantara, semakin meningkatnya kelas menengah muslim Indonesia (sekitar 130-150 juta jiwa)  yang dapat diukur lewat kekuatan belanja per kapita sekitar 5-20 dolar (Rp.45.000-Rp.180.000) per hari. Vali Nasr menyebut prestasi ini sebagai “Forces of Fortune”. Dan  terakhir, semakin tingginya pengaruh kebangkitan Islam pada tingkat global karena implikasi dari adanya relasi struktural, organisasional, kultural termasuk digital. [***]

iklan1
iklan1
iklan1