Archive for: Desember 2017

Lahirkan Politik Rekonsiliatif, Hindari Adu Domba dan Politik Sektarian

Wajah ceria calon pemimpin Maluku Utara (Foto Ist)

Sejak abad ke-13, kawasan Maluku Utara (Moloku Kie Raha) sudah dikenal sebagai penghasil rempah-rempah terutama cengkeh, pala dan kenari. Moloku Kie Raha diartikan sebagai persaudaraan penguasa empat gunung atau empat kesultanan, kita berharap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yakni Pemilihan Gubernur (Pilgub) Maluku Utara (Malut) tahun 2018 dapat merefleksikan hal itu, bahwa para kandidat Gubernur bersama pasangan Wakilnya dapat melahirkan iklim politik yang kondusif, yang mampu menjadi magnet positif bagi daerah lain bahkan dunia Internasional untuk datang belajar tentang demokrasi yang sejuk di Malut.

Dalam rentetan sejarahnya, Malut merupakan daerah Kerajaan yang hidup sesuai koridor agama, dan nilai-nilai adat istiadat. Di Malut kita mengenal persaudaraan empat penguasa kerajaan diantaranya, Ternate (kerajaan Gapi), Jailolo, Tidore dan Bacan. Sehingga Moloku Kie Raha memiliki arti wilayah yang terdiri dari empat pulau gunung api, warisan sejarah inilah yang harus terus kita pelihara, jangan karena Pilkada nilai dasar yang dibangun atau diletakkan para pendahulu kita rusaki.

Malut yang juga kita kenal dengan kepulauan rempah-rempah (spice island), pernah diuji kekompakan rakyatnya dengan hadirnya kaum kolonial (imperalisme). Para penjajah baik dari Spanyol, Portugis, Belanda, Jepang, dan Inggris serta infiltrasi pedagang Arab yang memiliki kepentingan ganda, semua tirani itu dapat dilawan para pendahulu kita, dan kemudian kompak mengusir para penjajah dari tanah Malut tercinta. Semangat kebersamaan, kekompakan dan mari moi ngone foturu inilah yang harus menjadi falsafah hidup, dapat memacu generasi Malut untuk membangun daerah ini dengan sebaik-baiknya.

Meski belum final ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Maluku Utara, tapi peta koalisi partai dan blok politik untuk Pilgub Malut 2018 mulai terlihat. Di beberapa postingan media sosial (Medsos), kita telah membaca beberapa kandidat yang telah melakukan deklarasi untuk maju di Pilkada, para bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur diantaranya; Ahmad Hidayat Mus-Rivai Umar (AHM-Rivai), yang diusung Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan, Burhan Abdurahman-Ishak Jamaludin (Bur-Jadi) yang berdasarkan informasi didukung Partai Hanura, PBB, Demokrat, PKPI, dan PKB), kemudian ada juga kandidat Muhammad Kasuba-Abdul Madjid Husen (MK-Madju) dengan koalisi PKS, PAN dan Partai Gerindra). Sementara itu, ada pula Rudy Erawan-Hein Namotemo (Rudy-Hein) yang dimajukan Partai NasDem dan PDI Perjuangan.

Kalau kita mengkalkulasi kekuatan para bakal calon yang ada dengan tarikan basis massa, seperti dukungan Suku Agama Ras dan Antar golongan (SARA) yang sering kali menjadi ‘makanan’ orang Malut dalam memetakan kekuatan politik. Maka, kedepan dipastikan praktek politik kita bisa tersandera, melahirkan instabilitas politik, ketidak nyamanan dan kemenangan Pilkada di tahun 2018 kedepannya akan menjadi ancaman baru bagi demokrasi kita. Sebab, akan retak kebersamaan, toleransi, cita-cita bersama membangun daerah, karena sudah pasti isu-isu SARA membuat diantara kita akan ada yang terlukai.

Untuk itulah, kita membutuhkan politik rekonsiliatif, kebiasaan politik damai, para kandidat harus menjadi ‘juru damai’ baik kepada pendukungnya maupun kepada masyarakat Malut secara luas. Kandidat harus bersatu padu memberantas para provokator politik, para pembuat berita hoax dengan mendidik masing-masing pendukungnya dengan etika komunikasi yang santun. Lumpuhkan semua corong-corong atau bibit propaganda yang pada akhirnya pembuat iklim Pilkada di Malut mengalami gangguan. Bila para kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur kesadarannya tersentuh, terutama terkait ‘politik damai’ dengan mengedepankan visi profetik, ini berarti Pilkada 2018 di Malut akan mengalami kemajuan luar biasa. Pemilih kita tidak lagi disandera dengan isu-isu sectarian (parsial) yang berdampak akal sehat publik menjadi rusak.

Bila di Indonesia kita mengenal Bhinneka Tunggal Ika, di Maluku Utara jauh sebelumnya kita telah mengenal semboyan Mari Moi Ngone Foturu. Berikut dilampirkan daftar motto (slogan, semboyan) Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Maluku Utara, di Kabupaten Halmahera Barat kita mengenal semboyan Ino Fo Makati Nyinga, begitu pula di Kabupaten Halmahera Tengah ada Fogogoru, di Halmahera Selatan kita temui semboyan Saruma, ada juga Maku Gawene di Kota Ternate. Selain itu, semboyan dari Kepulauan Sula yang kita kenal dengan Dad Hea Ted Sua.

Selanjutnya, ada slogan Toma Loa Se Banari dari Kota Tidore, kemudian di Kabupaten Halmahera Utara ada Hibualamo, selain itu di Kabupaten Pulau Morotai terdapat semboyan Podiki De Porigaho dan Kabupten Halmahera Timur Limabot Fay Fiye. Cukup luar biasa, semboyan yang menjadi gagasan universal dari pemerintah Kabupaten/Kota se-Maluku Utara. Setidaknya itulah terbingkai sejumlah harapan-harapan humanis dari kita warga Maluku Utara, agar Maluku Utara secara keseluruhan lebih maju, terhindar dari konflik horizontal.

Pembangunan Provinsi Maluku Utara secara berkelanjutan hendaklah bersifat seperti penyerahan estafet yang dari satu kepemimpinan ke kepemimpinan selanjutnya berjalan damai. Tanpa harus ada keributan, kekacauan atau ‘pemberontakan’ yang kebanyakan lebih membawa mudharat bagi kita semua. Maluku Utara mau dibawa kemana kedepannya selepas tahun 2018, itu terletak pada komitmen pemimpin Maluku Utara kedepannya, ini sebabnya masyarakat diharapkan cerdas menentukan pilihannya. Jangan lagi gampang ‘tersandera’, mudah diintervensi, dan berhentilah menjadi ISIS (Ikut Sana Ikut Sini) yang tidak ada manfaat jangka panjangnya, stop menjadikan isu SARA sebagai senjata pamungkas saat kampanye.

Jauhkan saling adudomba antara sesama masyarakat Maluku Utara. Kepada para tim sukses atau tim pemenang, jadilah duta-duta perdamaian, bersikaplah seperti mentor politik yang mencerahkan pemilih, berhenti menjadi ‘pemicu’ konflik. Karena apapun itu, kepentingan Maluku Utara adalah yang utama, jangan karena libido kekuasaan, lantas kita menghalalkan segala cara. Silahkan memilih figur yang dianggap paling layak, angkat dan puji setinggi mungkin kandidat yang menurut kalian layak diperjuangkan, namun jangan sedikitpun menghina, menjatuhkan, mengfitnah dan membuat kampanye hitam lainnya kepada lawan politik anda.

Berdasarkan jadwal KPU, Pilkada di Indonesia akan digelar di 17 Provinsi, termasuk didalamnya Maluku Utara, 115 kabupaten, dan 39 kota. Disisi lain, kita pasti telah bersepakat pada nurani masing-masing, bahwa sejumlah nama-nama yang masuk sebagai bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara yakni putra-putra Malut yang terpilih. Mereka telah melewati banyak proses pematangan, popularitas mereka tak perlu diragukan lagi, telah dewasa dengan fitnah dan tuduhan, mempunyai integritas dan track record. Intilah mereka inilah generasi-generasi terbaik Maluku Utara. [***]

 

 

Catatan : Amas Mahmud, S.IP (Putra Malut dan Sekretaris DPD KNPI Manado)

GTI Kotamubagu Gelar Rapat Dukung Program Pemerintah

Haris Monoarfa (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Pengurus Garda Tipikor Indonesia (GTI) Kotamubagu dibawah kepemimpinan Haris Monoarfa, Sabtu (31/12/2017) menggelar rapat pengurus. Menurut Bung Haris pihaknya merencanakan beberapa program untuk kepentingan sinergi bersama pemerintah Kota Kotamubagi Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Model sinergitas yang dilakukan yakni bersifat menjadi mitra kritis pemerintah.

”Hari ini GTI Kotamubagu menggelar rapat bersama seluruh jajaran pengurus Garda Tipikor Kotamobagu, yang agenda rapatnya membahas soal rencana mendukung programa pemerintah Kotamobagu dalam meningkatkan pembangunan di wilayah Totabuan. Namun siap mengkritik pemerintah apabila terdapat dugaan penyalahgunaan, GTI Kotamobagu siap mengkritik dan mengawal setiap program pemerintah,” ujar Bung Haris tegas.

Disampaikannya pula bahwa tugas utama yang sedang dilakukannya saat ini ialah melakukan konsolidasi organisasi, sembaring merespons beragam kebijakan pemerintah. Hal itu disampaikannya sebagai bentuk dari perhatian aktivis Ormas terhadap kepentingan masyarakat. (*/Amas)

AGAR KANVASMU TERUS BERKISAH

Sony Lengkong (Foto Suluttoday.com)

seperti penyair mewakafkan hari-harinya

melewatkan peluang menulis ribuan larik puisi

demi mekar senyum kekasih

ikhlasmu menghantar kisah ayam jago,

kuda bendi, sapi ban, kabasaran, waruga, dan

bunga-bunga terus abadi meski tanpa kuas

di ujung jemari dan telapak tanganmu

 

aku ingin berlibur di dadamu tiap hari

berenang dalam cekung palet dan sisa cat

membercaki helai-helai rambut ikalmu

di situ mengalir sungai-sungai

masing-masing tak lagi punya nama

 

goresan dan jejakmu kelak memburam

barangkali tersapu deras airmata

sebab gempa tetaplah gempa bisa menimpa

bumi juga hati

 

tidurlah dalam damaiNya di atas segala warna

dan bingkaimu serupa dunia paling senyap

menyimpan remuk pilu kisah lampau para petani

peluh bercampur keriangan musim panen

lenyap ditelan haus tengkulak yang melampaui

ganas debu vulkanik dari puncak lokon

menelan berhektar-hektar ladang cinta disemai

kelak kukirim doa bersama desir angin mejagamu

dengan belai lembutnya

agar kanvasmu terus kisahkan temaram

segenap mozaik dari butir mimpi bahagia

dan sayatan-sayatan kerisauan

lebur dalam sepenggal sejarah

 

Jamal Rahman Iroth, 30/12/2017.

*mengenang pelukis Sony Lengkong, maestro seni lukis ekspresionis dari Sulawesi Utara.

Berkuda Sulut Didorong Menjadi Terdepan di Tingkat Nasional Maupun Internasional

Wakil Gubernur Sulut saat berada di pacuan kuda (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Gubernur Sulawesi Utara yang diwakili Wakil Gubernur Drs. Steven O.E Kandouw menghadiri Lomba Pacuan Kuda, Roda Sapi dan Bendi Christmas Festival yang dilaksanakan, Sabtu (30/12) di Gelanggang Pacuan Kuda Maesa Tompaso. Lomba ini juga dihadiri Bupati Bolaang Mongondouw Timur, Sehan Landjar SH dan yang mewakili unsur Forkopimda serta disaksikan ribuan penonton yang datang dari seantero Sulut maupun dari luar daerah.

Dalam sambutan Drs. Steven O.E. Kandou menyatakan bahwa kegiatan lomba ini merupakan bentuk kepedulian terhadap besarnya antusias dan animo masyarakat peternak untuk mengikuti lomba ataupun masyarakat pencinta kuda, roda sapi dan bendi dalam menyaksikan lomba yang dilaksanakan bergantian di Gelanggang Pacuan Kuda Paniki Balitka Manado dan Maesa Tompaso.

“Kedepan, Pemprov berkeinginan menjadikan olahraga berkuda menjadi terdepan di tingkat Nasional maupun Internasional, apalagi daerah kita memiliki Gelanggang Pacuan Kuda Maesa Tompaso yang merupakan gelanggang terbaik di Indonesia setelah dibongkarnya gelanggang pacuan kuda Pulo Mas Jakarta,” kata Wagub.

Mengingat ditunjuknya Provinsi Sulut untuk melaksanakan Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda Piala Presiden Tahun 2018, Pemprov Sulut mengalokasi anggaran untuk peningkatan sarana dan prasarana Gelanggang Pacuan Kuda baik Balitka Paniki Manado maupun Maesa Tompaso. Wagub mengharapkan Pordasi Sulut dapat melaksanakan lomba sebanyak dua kali setiap bulan.

“Pemerintah Provinsi mengapresiasi kepada Ketua Umum Pordasi Sulut Ferry M.K.A. Wowor dan jajarannya yang telah saling bersinergi memberikan kontribusi terbaik pada setiap pelaksanaan lomba,” ujarnya. (don)

Pemenang Lomba Pacuan Kuda Christmas Festival 2017:

Piala Pordasi Boltim, Kelas Lokal Jarak 600 m :

1. Kuda Tuama Tomohon , Joki Jonathan L, Pemilik Usman Moonti dari Gorontalo 2. Putri Anugerah, Joki Adi Pantow, Pemilik Ago Momuat dari Minahasa. 3. Kuda Kaycee Nagary, Joki Falentino S, Pemilik Ilham Bahar dari Sitaro.

Piala Tonsea Stable, Kelas E/F Jarak 600 m :

1. Kuda Rhaenys Nagari, Joki F Walangitan, Pemilik Ilham Bahar dari Sitaro 2. Kuda Whasington, Joki Falentino S, Pemilik Tonny Laloan dari Manado 3. Kuda Blondie Tonsea, Joki Bosman P, Pemilik Emil Karim dari Minut Piala Pordasi Minut.

Kelas Perdana C/D, Jarak 800 m :

1. Kuda Miyabie Esa, Joki Joulan M, Pemilik Noldy Luntungan SE dark Minut 2. Kuda Fujita, Joki Steven P, Pemilik Revin Dayoh dari Minahasa 3. Kuda Amazing, Joki Falentino, Pemilik Stenly Chandra dari Manado.

Piala Ketua Umum Pengprov Pordasi Sulut, Kelas Perdana A/B , Jarak 800 m :

1. Kuda Matahari Tonsea, Joki Bosman P, Pemilik Emil Karim dari Minut, 2. Kuda Queen Phantom, Joki Risky R, Pemilik B. Pantow dari Minahasa 3. Kuda Targa Florio, Joki F. Paendong, Pemilik Umboh Yosephine S.R. dari Bitung.

Piala Sulut Horse Racing Owners Club, Kelas F, Jarak 800 m :

1. Kuda Permata Kasih, Joki Falentino, S, Pemilik Harly Poli dari Minahasa 2. Kuda Chelsy, Joki G. Laupa, Pemilik Sonny Wowor dari Tomohon 3. Kuda Jesica, Joki Bosman P, Pemilik Usman Moonti dari Gorontalo Piala Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara.

Kelas Pemula, Jarak 1.000 m :

1. Kuda Bijoux Tonsea, Joki Bosman P, Pemilik Emil B. Karim dari Minut 2. Kuda Perkasa Kasih, Joki Falentino S, Pemilik Harly Poli dari Minahasa 3. Kuda Putri Kalabat, Joki Jonathan L, Pemilik Olly Dondokambey SE dari Minut Piala Baguna Sulut, Kelas E, Jarak 1.200 m : 1. Kuda Dewi Karangetang, Joki Joulan M, Pemilik Syaloom Kasenda darj Tomohon 2. Kuda Srikandi Boalemo, Joki Agung R, Pemilik H. Farwis Moridu dari Gorontalo. 3. Kuda Rakse Kampung, Joki Jonathan L, Pemilik Deonksyah R. Waskito dari Jateng.

Piala Kapolda Sulawesi Utara, Kelas Terbuka Sprint, Jarak 1.200 m :

1. Kuda Nona Princess, Joki Falentino S, Pemilik Ferdinan Tumbol dari Manado 2. Kuda Rhaegar Nagary, Joki Joulan M, Pemilik Ilham Bahar dari Sitaro 3. Kuda Bintang Sri Dewi, Joki J Paendong, Pemilik Dra M.Mangalum, SE, MM dari Manado.

Piala Bupati Bolaang Mongondow Timur, Kelas D, Jarak 1.300 m :

1. Kuda Suko Nagari, Joki Risky R, Pemilik Ilham Bahar dari Sitaro, 2. Kuda Red Rose, Joki Jonatan L, Pemilik Irjen. Pol Drs. Bambang Waskito dari Jateng 3. Kuda Bintang Sherly, Joki Hendrik S, Pemilik Jein Sambuaga dari Minahasa.

Piala Panglima Kodam XIII Merdeka, Kelas Calon Remaja, Jarak 1.300 m :

1. Kuda Mc. Kinly, Joki Sonny W, Pemilik Adhi B. Supit dari Jakarta 2. Kuda Griffin Karangetang, Joki Joulan M, Pemilik Syaloom Kasenda dari Tomohon 3. Kuda Terrakotta, Joki Iwan T, Pemilik Amanda Rorong dari Minahasa.

Piala Gubernur Sulawesi Utara, Kelas Calon Derby, Jarak 1.600 m :

1. Kuda Bombastis, Joki D. Liwe, Pemilik Frangky Setiono dari Manado 2. Kuda Kashmir, Joki H. Momongan, Pemilik Sehan Landjar, SH dari Boltim 3. Kuda Black Beauty Prima, Joki R. Rorimpandey, Pemilik Stenly Chandra dari Manado.

Piala Wakil Gubernur Sulawesi Utara,Kelas Terbuka, Jarak 1.800 m :

1. Kuda Putra Milano, Joki Febry P, Pemilik Hartje Mamesah daari Minahasa 2. Kuda Prima Lova, Joki Hesky P, Pemilik Stenly Chandra dari Manado 3. Kuda Star Princess, Joki H.Momongan, Pemilik Sehan Landjar, SH dari Boltim.

MEMASUKI TAHUN 2018 Hijrah atau Lanjutkan, Sebuah Deskripsi Masa Depan Politik

Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

Ketika pergantian tahun tiba, semua orang mempunyai harapan baru. Satu per satu kita menghendaki adanya perubahan positif dalam diri masing-masing, sehingga mulailah kita melakukan refleksi, evaluasi, dan memproyeksikan sebuah langkah baru untuk masa depan yang lebih baik. Untuk tahun 2018 cukup menjanjikan bagi para politisi, dimana di tahun inilah menjadi awal langkah strategis bagi para politisi untuk memantapkan dirinya masuk dalam tahun politik 2019.

Sehingga kemudian, ‘wajib’ bagi para politisi yang bertekad menjadi wakil rakyat (DPR, DPRD, dan DPD) untuk menyiapkan dirinya. Mulai dari melakukan pendekatan dengan masyarakat sebagai konsitituen, menunjukan kontribusinya bagi kerja-kerja banyak orang, mempersiapkan strategi dan taktik, melakulan pemetaaan kekuatan, sampai pada ‘membangun citra’.

Sudah seperti itulah konsekuensinya kita berpolitik di Indonesia ini, dimana sudah seperti dibingkai (frame) oleh kultur berpolitik kita. Karena selera pemilih, kini berubah menjadi penanda, penuntun bagi para politisi yang minim ide, politis yang minim kreatifitas, dan bagi politisi yang belum terukur kerja-kerja sosialnya. Tapi bagi mereka, para politisi yang telah ‘mapan’ memiliki visi besar mendorong pembangunan peradaban yang diawali dari peradaban berpolitik yang santun, penuh etika, humanis dan jauh dari kebiasaan menghancurkan (destruktif) mereka malah ‘menciptakan’ kondisi, membuat ‘jalan baru’ yang lebih edukatif dan berkualitas.

Kedua kutub inilah yang akan mewarnai tahun 2018 mendatang. Karena kebudayaan politik yang telah terbangun memang sulit didobrak, dilawan, apalagi dengan kekuatan yang ala kadarnya, kekuatan keberanian semata, kekuatan financial yang pas-pasan dan kekuatan yang hanya bersifat kepentingan sesaat sehingga tidak mengakar dalam roho perjuangannya yang hakiki. Politisi yang hanya mengandalkan dan bermodalkan support pemerintah akan kesulitan membuat pemetaan, bisa jadi dikelabui konstituennya bila kemudian tidak mampu membuat dan menjaga team worknya.

Politik memang mengharuskan kita bekerja kolektif, bukan bekerja individualis. Sebab disitulah alat (instrumen) serta kekuatan potensial bagi politisi untuk meraih kemenangan dalam perjuangannya. Manakala seorang politisi yang berjaung serius, namun dikelilingi para ‘pemikir’, pejuang, dan orang-orang dekat yang tidak memiliki kepercayaan (trust) dari banyak orang, hal ini akan menjadi bom waktu akan kelak menghancurkan perjuangan politisi tersebut.

Politisi yang memiliki komitmen dan tau membaca situasi politik akan lebih mengedepankan rasionalitas politik, bukan kekuatan uang atau intervensi pemerintah. Mereka lebih cenderung mandiri, independen, tau menyeleksi teman (tim) yang akan direkrut bersama dalam perjuangannya, bukan ‘mengumpulkan’ mereka para ‘pencari muka’, para tukang fitnah, mereka yang tidak memiliki komitmen dan prinsip berjuang. Hal ini cukup beralasan, karena hampir kebanyakan perarung politik gagal dikarenakan dari sikap politisi yang hendak bertarung, melainkan orang-orang disekitarnya yang menuai antipati publik.

Sementara itu, bila politisi yang telah berpengalaman tentunya lebih memiliki modal kuat untuk melanjutkan perjuangannya. Mereka lebih selektif memilih timnya, karena pernah belajar dan bahkan merasakan ditikung orang dekat, ditikung keluarga sendiri, serta dimanfaatkan untuk kepentingan memperkaya diri bagi tim suksesnya. Itu sebabnya, ikhtiar dalam politik menjadi penting, menjadi politisi tak boleh mudah terprovokasi, tidak gampang diagitasi pendukung atau pembisiknya. Politisi harus pandai menghitung bahayanya pemilih pragmatis dan kekuatan massa mengambang (floating mass).

Bagi politisi senior mereka akan realistis dengan kalkulasi politik, tidak mudah percaya informasi yang sifatnya dukungan tinggi dari pendukungnya, sebelum turun langsung memastikan hal tersebut. Karena kebanyakan pendukung hanya mengedepankan materi, memberi informasi palsu, tak pusing dan tidak mau memikirkan bagaimana sulitnya mendapatkan uang dari orang yang meraka perjuangkan untuk duduk di lembaga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau eksekutif. Ruang saling berhianat begitu terbuka dalam politik, memuji hari ini belum tentu besoknya lagi mereka memuji anda, rival anda hari ini belum tentu besoknya menjadi lawan anda dalam politik, tapi semua akan berubah begitu dinamis. Teman jadi lawan (pesaing), lawan jadi teman, lawan akan menjadi lawan, dan sebaliknya kawan dapat terus menjadi kawan.

Alangkah dinamisnya kancah politik kita, dalam beragam peristiwa politik, tak jarang sesama saudara saling ‘bermusuhan’ dalam praktek berpolitik. Padahal bagi penulis, yang pernah belajar dibangku perkuliahan, paran politik begitu mulia, dimana tujuan politik bukanlah kekuasaan dan kepentingan sesaat, melainkan kesejahteraan masyarakat. Politik bersama partai politik hanyalah sarana semata, bukan tujuan. Lihat saja kasus-kasus yang ditimbulkan akibat praktel politik yang fals, banyak orang menjadi frustasi, banyak politisi yang patah hati, dan banyak pula yang menurun kepercayaannya kepada orang lain karena belum beruntung disaat berjuang.

Tahun 2018 diperkirakan lebih banyak lagi para ‘pendatang baru’ dalam panggung politik, dan inilah keniscayaan sejarah yang harus diterima. Tinggal bagaimana masyarakat menentukan hak politiknya, mereka mau memilih siapa?. Lebih banyak pilihan malah lebih baik dan demokratis, ada model politisi senior yang berintegritas, bersih, berpengalaman, ada juga politisi pemula yang juga berintegritas, berpengalaman. Mesti begitu ada puka politisi pemula yang masih minim pengalaman, masih manja, masih ‘puber’ dalam dunia politik, serta ada pula politisi senior yang pintar mempermainkan aspirasi dan amanah rakyat.

Politisi ‘berpengalaman’ yang masih juga terkontaminasi dengan praktek-praktek penyimpangan (deviasi) kewenangan, ada politisi senior yang konsisten tapi tidak punya integritas. Ada juga politisi peselancar yang muncul dikala musim politik tiba, ada pula politisi kutu loncat, yang hampir semua partai politik ‘dikoleksinya’, dimasukinya sebagai kader parpol. Secara bergantian politisi kutu loncat ini berganti-ganti ‘pakaian’, model politisi yang satu ini sebenarnya membahayakan dan patut diwaspadai.

Untuk itulah, bagi petarung atau kompetitor politik dan pengurus parpol diharapkan waspada, dapat membaca rekam jejak dari orang-orang yang direkrutnya. Jangan sampai anda keracunan harapan palsu, karena keberadaan oran-orang itu menyebabkan anda tidak diberi mandat rakyat, sebab para politisi kutu loncat ini lihai, licik, pandai bermain kata-kata, pintar menggunting dalam lipatan, bahkan tak segan-segan mengancurkan orang yang ia perjuangkan. Tahun 2018 menjadi tahun berharga bagi politisi atau calon legislator untuk mendekatkan diri kepada masyarakat, baik pendekatan secara langsung maupun melalui instrument lainnya.

Diakui memang masyarakat butuh sentuhan-sentuhan gagasan yang konstruktif untuk menyentuh kesadaran politiknya, bukan sekedar kata-kata bujukan yang bersifat jangka pendek. Dari sekma keberadaan masyarakat seperti di Kota Manado salah satu contohnya, maka bagi politisi perlu meniru cara-cara pendekatan dan model kerja yang tepat guna memantapkan komunikasi politiknya kepada masyarakat. Bagaimana pun suatu saat pemilih bosan, kemudian akan menjauh dengan politisi yang mengandalkan uang, karena pragmatisme politik bukanlah suatu jaminan kesejahteraan masyarakat yang jangka panjang. Menyentil pemikiran Dr Firmanzah, dalam buku Marketing Politik mengklasifikasikan pemilih atas beberapa tipe, diantaranya pemilih rasional, pemilih kritis, pemilih tradisional dan pemilih konservatif.

Kedepannya masa depan politik kita akan menjadi suram, tidak bermutu manakala di tahun 2018 banyak politisi lebih mengedepankan pendekatan ke masyarakat melalui ‘perantara’ seperti spanduk dan instrumen kampanye strategis lainnya. Bila politisi dapat mengurangi politik pencitraan, dan memutuskan untuk bertemu bersilaturahmi dan melakukan diskusi langsung bersama masyarakat sebagai pemilih, ini menandakan ada kemajuan demokrasi. Mereka para politisi yang dating langsung menemui rakyatlah yang telah berani melakukan edukasi politik, mendidik masyarakat dan benar-benar tau aspirasi rakyat, mereka inilah yang layak dipilih.

Masyarakat akan tercerahkan dan masa depan politik akan lebih berkembang maju bila satu per satu para politisi kita ‘membongkar kebiasaan lama’. Dengan cara tidak mengandalkan kampanye pencitraan, tidak boros dan menghabiskan uang untuk kepentingan ‘pembodohan politik’, tapi terjun langsung ditengah masyarakat. Hadir dan temui para pedagang pasar, turun bersama para warga di pangkalan ojek, temui para pekerja (buruh), ada asosiasi sopir, temui aktivis mahasiswa, dekati aktivis pemuda (OKP), cari orang-orang tua dan temui mereka, diskusi, cari solusi, serta bela kepentingan kamu yang termarginal.

Dengan cara menemui komunitas masyarakat secara langsung berarti ada benar-benar politisi sejati, berjumpa dengan mereka dan bangun komitmen untuk memperjuangkan segala kepentingan mereka yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Keberpihakan-keberpihakan seperti itulah yang sebenarnya sangat diharapkan masyarakat, dan itu semua tidak membutuhkan harus mereka yang disebut politisi senior, politisi pemula, tapi keseluruhan pekerja sosial, yaitu kita semua sebagai mahkluk sosial dalam istilah Aristoteles.

Tidak ada salahnya juga bila para politisi mensosialisasikan dirinya melalui spanduk, baliho dan media massa, yang terpenting adalah setelah ‘membangun image’ harus disertakan dengan perjuampaan langsung. Upaya demikian sangatlah positif, karena akan dapat menghindari adanya salah pilih dari masyarakat, dan juga para politisi tau apa yang dikeluhkan dan diharapkan masyarakat, jangan sampai para politisi ini dipecundangi atau dibodohi tim suksesnya sendiri. Karena langkah seperti ini adalah bagian dari pendidikan politik, mendorong partisipasi politik, hasilnya masa depan politik kita di tahun 2019 menjadi sangat berkualitas.

Ketika tiba di tahun 2018, apakah para politisi kita berpindah (hijrah) ke model pendekatan politik yang lebih inovatif ataukah tetap melanjutkan warisan perjuangan politik di tahun-tahun sebelumnya?. Sebetulnya, semua kembali kepada pilihan masing-masing aktof politik, akan kembali pada kecenderungan, kebiasaan dan kemampuan masing-masing politisi. Namun, sebaik-baiknya langkah politik itu harus disesuaikan dengan kepentingan masyarakat, kita berharap di tahun 2018 muncul para politisi yang tau menempatkan diri, tau menterjemahkan kepentingan konstituen. Politisi yang amanah tentunya, mereka yang memiliki nurani, menjadi pemilih sebagai mitra, bukan menjadikan kekuasaan sebagai lahan meraup keuntungan sebesar-besarnya.[***]

 

Penulis : Amas Mahmud, S.IP (Sekretaris DPD KNPI Manado)
iklan1