“Sunday Speaks” Membawa Sains Lebih Populer ke Anak Muda

Foto bersama usai diskusi (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Sunday Speaks, sebuah ‘brand’ baru diskusi kedai kopi, yang diusung oleh anak-anak muda dari Kelompok Studi Alternatif Manado kembali ramai. Minggu (7/1/2018), Bertempat di Gudang Imaji, kedai kopi yang ramah untuk tongkrongan anak-anak muda itu, Sunday Speaks tergelar dalam kemasan Bincang 42 Tahun “The Selfish Gene” Richard Dawkins.

Dipantik oleh Haz Algebra, seorang intelektual muda Manado yang sangat antusias terhadap perkembangan Life Science, buku yang berbau saintifik (dan filosofis) itu diurainya secara ringkas dan provokatif dengan tetap menggunakan bahasa sederhana dan populer.

“Buku yang terbit pertama kali di tahun 1976 itu memang sangat berpengaruh di dunia saintifik (terutama biologi dan sains sosial) karena berhasil mengubah cara pandang banyak ilmuwan dalam melihat dan menginterpretasi fenomena natur dan kultur. Tidak mengherankan jika buku ini masih terus beredar dan telah tiba pada edisi yang ke-40 tahun. Penulisnya, Richard Dawkins, juga terkenal sebagai pengusung paradigma sains baru dan pionir dalam cara penulisan sains populer yang bisa menjangkau khalayak awam,” ujar mantan Ketum Badko HMI SulutGo ini membuka perbincangan.

Membicarakan topik-topik sains di ruang publik, apalagi di kedai-kedai kopi, memang masih jarang ditemui di kota Manado. Kebanyakan khalayak, ketika berada di kedai kopi yang menyediakan ruang diskusi cenderung membincangkan isu-isu politik lokal maupun nasional, atau mengangkat tema yang berhubungan dengan relijiusitas. Beberapa ruang publik lainnya ada juga yang intens pada topik-topik filsafat atau sastra. Tapi sejauh ini, topik sains populer barangkali adalah varian baru untuk tren diskusi kedai kopi. Dan Sunday Speaks tampak tengah melakukannya.

Sejak pertama kali terselenggara di pekan terakhir bulan Desember tahun lalu, Sunday Speaks dibuka dengan diskusi Jaredian Perspective (atau pemikiran-pemikiran Jared Diamond) yang langsung dibawakan oleh Kepala Suku Studi Alternatif, Muhammad Iqbal, sebagai kelompok penginisiasinya. Dengan kembali mengangkat topik sains, Sunday Speaks tampaknya ingin ‘mematenkan’ topik sains sebagai varian pelengkap hidangan kopi di ruang publik.

Munazar Muarif, manajer yang mengurusi content diskusi di Gudang Imaji itu, ketika ditemui awak Suluttoday, mengamini bahwa mereka, lewat Sunday Speaks, ingin membawa sains lebih dekat ke masyarakat.

“Kami sedang menyambut era demokratisasi sains atau science go to public. Jadi, kami ingin membawa kajian-kajian sains natural maupun sains sosial secara populer agar lebih dekat dengan masyarakat, terutama pada anak-anak muda, milenial dan generasi-Z, yang ke depannya akan menjadi agen-agen sejarah. Kami tidak ingin generasi kami, generasi bonus demografi ini, buta dalam memandang hari ini dan masa depannya,” kata kandidat Magister Ekonomi Unsrat ini.

Anak muda yang menjabat sebagai Sekretaris Umum HMI Cabang Manado ini juga mengatakan bahwa ide ini lahir sebagai implikasi langsung dari aktivitas literasi yang mereka lakukan di Studi Alternatif yang menangkap berbagai pandangan banyak pemikir kontemporer yang cenderung bersepakat bahwa gerak sejarah kita ke masa depan akan lebih banyak lagi ditentukan oleh kemajuan sains dan teknologi.
“Politik kita, ekonomi kita, bahkan kondisi sosial budaya kita kelak akan kembali mengalami perubahan sebagai dampak dari perkembangan sains dan teknologi. Seperti yang pernah terjadi pada era Revolusi Industri. Tentu saja, ini memerlukan antisipasi, dan kita harus mengajukan pertanyaan yang tepat terhadap sains dan teknologi dalam kaitannya dengan sistem ekonomi, politik maupun sosial budaya yang kita anut hari ini,” tandas Munazar.
Meski demikian, Sunday Speaks tidak hendak menjadi panggung monolog bagi sains saja. “Ingin menjadikan sains sebagai diakursus populer ke masyarakat tidak berarti kami menjadi tertutup pada diskursus lainnya, apalagi filsafat dan sastra. Justru karena sebelumnya banyak teman-teman yang senangnya sudah sama filsafat atau sastra, maka tidak ada salahnya menambah satu lagi varian yang bisa disenangi, yaitu sains,” kata Muhammad Iqbal.

Generasi muda pembaharu penuh semangat belajar (Foto Suluttoday.com)

Adapun terkait narasumber yang harus dihadirkan, Kepala Suku Alternatif ini mengatakan bahwa tidak ada syarat khusus untuk bisa mengisi kajian di Sunday Speaks. Ia hanya lebih menekankan pada aspek literasi narasumber.

“Dalam KBBI, literasi itu kan artinya ada dua. Pertama terkait aktivitas membaca atau menulis yang darinya kita dapat pengetahuan. Yang kedua terkait pengetahuan atau keterampilan dalam bidang khusus atau aktivitas tertentu. Yang kedua ini bisa kita sebut pakar. Namun jika ada dari teman-teman kami yang rajin baca buku atau giat mendalami bidang tertentu dalam sains, maka kami akan mengundangnya untuk menjadi speaker di Sunday Speaks,” tegas Alumni IAIN Manado ini.

Diskusi hari ini berlangsung sukses dengan audiens anak muda lintas organisasi dan komunitas. Tampak hadir pula Ketua Lesbumi Sulut, Syafieq Bilfaqih, dan Direktur Nirwasita Institute Bolmut, Cakra Buhang, untuk meramaikan perbincangan. (*/Mas)

iklan1
iklan1