Kontestasi Sejarah & Penguatan Sains Pada Pesantren di Indonesia

Almunawar Bin Rusli (Foto Ist)

Oleh : Almunauwar Bin Rusli, M.Pd

(Dosen dan Peneliti IAIN Manado)

 

Tulisan ini merupakan refleksi saya atas Hari Amal Bakti Kementerian Agama RI yang ke-72. Tentu 72 tahun bukan lagi usia “ABG” untuk bersikap labil dengan tanggungjawab yang besar. Di usia senja seperti sekarang, seharusnya Kementerian Agama RI semakin dikenal, kontributif terhadap kebutuhan umat sehingga patut dirayakan oleh semua kalangan. Jika masih terpenjara pada “akhiratsentrisme” apalagi sudah menganut logika korporasi (untung-rugi), maka eksistensi Kementerian Agama RI niscaya akan mendapat tantangan berat. Ia menjadi semacam tubuh yang kehilangan kepala dan jantung hatinya, memiliki wujud namun tanpa signifikansi. Terjebak pada tradisi seremonial namun lupa merumuskan prinsip kerja yang aktual. Maka, usaha passing over and come back adalah strategi untuk membumi. Bereksperimentasi di ruang laboratorium juga observasi di alam semesta raya mutlak menjadi paradigma Kementerian Agama RI guna mengembangkan iklim Pendidikan Islam ke depan. Sehingga, agama beserta simbol-simbol tradisionalnya tidak sekedar formula sukses parahnya jika Tuhan hanya diperlakukan sebagai “a partner in business”. Awal mula kehadiran Kementerian Agama RI pun penting dinarasikan kembali agar memahami kontestasi sejarah masa lalu kemudian memberanikan diri memproduksi perspektif-perspektif baru akan kontestasi itu.

Dalam catatan akademik Professor Mujiburrahman, dijelaskan bahwa ”Faktor kelahiran Kementerian Agama (dulu Departemen Agama) RI tahun 1946 akibat perseteruan ideologis antara kelompok nasionalis dan kelompok Islam dalam menentukan dasar hidup bernegara. Pertentangan dua kubu itu lalu melahirkan kompromi awal yaitu Piagam Jakarta (kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya). Tapi, kompromi ini gagal dan harus diubah. Indonesia bukanlah negara agama dan bukan pula agama sekuler, melainkan negara Pancasila. Demikianlah Indonesia lebih bercorak negara multireligius dengan menempatkan Islam dalam posisi dominan di Kementerian Agama. Meski pada awal Orde Baru ada upaya memisahkan Islam dan politik seperti tuntutan membubarkan Departemen Agama, tuntutan menghapuskan pelajaran agama di sekolah serta usaha mensekulerkan UU Perkawinan. Tapi, usaha kalangan kebangsaan sekuler tersebut tidak sepenuhnya berhasil hingga kembali lagi ke kompromi semula”.

Mencermati pemaparan historisitas di atas, terlepas dari perdebatan-perdebatan ideologis, ada satu point penting yang ingin saya garisbawahi karena hal itu merupakan kebutuhan dunia pendidikan Islam saat ini. Point tersebut adalah semangat negara Pancasila. Selama ini, semua amanat dalam butir pancasila seolah telah berhasil direalisasikan, tapi gerakan pemerintah pusat (Kementerian Agama RI) _ yang notabene berwatak Islam alternatif akibat konstruksi historis_ untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terkait upaya penguatan sains pada pesantren di seluruh pelosok Indonesia (khususnya diluar Pulau Jawa) nampak masih berjalan satu kaki lalu terpeleset ke lubang paradoks yang curam.

Penguatan sains pada pesantren di Indonesia (salafiyah, modern) merupakan langkah yang tepat juga mendesak. Dikatakan tepat karena pakar sains Islam asal Belanda, Prof. Paul Lettinck mengatakan bahwa karya ilmuwan muslim yang berbentuk tulisan tangan sudah harus dicetak ulang dalam edisi modern, diterjemahkan, serta dikupas isinya, sehingga orang bisa memahami dan mengapresiasi karya itu. Hal ini ia sampaikan saat kuliah umum tentang sains Islam yang diselenggarakan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSIST) di Universitas Indonesia. Dengan demikian, upaya merekonstruksi tradisi ilmiah pada pesantren dapat berkembang melalui atmosfer pembelajaran yang logis, sistematis, sekaligus empiris. Tidak sekedar berorientasi langit tapi menghujam ke dasar bumi. Ian G. Barbour sendiri telah menyatakan bahwa perseteruan sains dan agama sudah terhenti pada gerbang integrasi. Saya yakin, tanpa tradisi seperti itu, maka para santri akan sulit bersaing. Sir Dr. Muhammad Iqbal pernah mengingatkan, mereka yang bergerak, mereka yang maju ke muka. Mereka yang menunggu, sejenak sekalipun, pasti tergilas.

Kemudian, dikatakan mendesak karena muncul fenomena ketimpangan infrastruktur, keringnya akses informasi dan lemahnya metode integrasi. Para pendidik pun kelihatan belum sanggup mengambil peran secara kreatif, kritis maupun atraktif. Bahkan parahnya, mereka terjebak kepada pola pembelajaran yang bersifat the context of justification bukan the context of discovery. Hari Juliarta Priyadi selaku Production Manager Surya Institute menerangkan bahwa data statistik menunjukkan partisipasi sekolah Islam dalam kompetisi sains sangat minim. Jika ada, pasti satu atau dua sekolah. Itu pun nama-nama yang sama. Di sisi lain, saya mencermati ketika ilmu sains diajarkan maka terkesan santri mulai diasingkan dari kehidupan nyata. Mereka dikontrol ketat di ruang kelas, disuapi dengan beragam instruksi serta teori positivistik garis keras. Sains (Matematika-IPA) pun akhirnya direduksi menjadi hafalan rumus semata. Tidak lebih. Padahal, ajaran Islam memandang posisi sains sebagai media efektif untuk menata logika dengan berlatih menemukan rumusan hikmah dibalik peristiwa kasat mata. Inilah sosok sains profetik, sains yang meletakkan kerangka epistemologisnya pada nilai-nilai humanisasi, liberasi, sekaligus transendensi sebagaimana kandungan QS Ali Imran 110.

Inilah pekerjaan rumah yang nyata bagi Kementerian Agama RI beserta seluruh jajarannya di usia ke-72 tahun. Pekerjaan rumah ini adalah salah satu ujian untuk membuktikan komitmen bersama demi menjembatani antara sains dan agama agar hubungan keduanya tidak lagi terbelah. Saya memiliki harapan besar, penguatan pendidikan sains pada pesantren di Indonesia dapat menggunakan pola Living Values Education Curriculum (LVEC) baik pada model sorogan (individual learning method), bandongan (classical learning method) maupun wetonan (periodic learning method). Implikasinya, penguatan sains yang kita lakukan akan selalu hadir sebagai benteng tauhid yang senantiasa merasuki jiwa perjalanan intelektual seorang santri menuju insan kamil, manusia yang berkarakter, cerdas, bijak, serta menjadi imam bagi masyarakat di masing-masing kampung halamannya. Sebab, ciri khas academic culture pesantren adalah spirit “Bahtsul Masa’il” . Sebagai penutup, karena cinta, intelek tumbuh berkenalan dengan realitas. Dan intelek memberikan stabilitas kepada kinerja cinta. Islam, bukan hanya jalan yang kita pilih, melainkan jejak apa yang akan ditinggalkan. Islam, adalah cara memahami dunia dengan cinta, kasih sayang, dan ilmu pengetahuan. Bukan justru terpanjara kepada simbol masa lalu. [***]

iklan1
iklan1