Maret, Albothyl tak Beredar Lagi di Sulut

Ir Jenny Karouw MSi (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Pemerintah Propinsi Sulut melalui Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Ir Jenny Karouw MSi, Kamis (1/3/2018) menjamin Albothyl tak lagi beredar di daerah nyiur melambai. Karouw menegaskan terhitung sejak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membekukan izin edar Albothyl bulan Februari lalu, dan dalam jangka waktu sebulan obat sariawan dengan kandungan konsentrat policresulen, harus segera ditarik dari pasaran.

Hal ini berarti di bulan Maret ini peredaran tersebut sudah tidak ada lagi di toko obat maupun puskesmas dan rumah sakit di Sulawesi Utara (Sulut). Jika masih ditemukan, Karouw menandaskan akan ada sanksi tegas.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Sulawesi Utara, Edwin Silangen SE MS menandaskan penanganan harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan diharapkan pihak yang berwenang dalam hal ini BPOM bergerak cepat bersama instansi terkait.

Seperti diketahui bersama, izin edar Albothyl dan 3 produk obat dengan kandungan policresulen lainnya dibekukan setelah BPOM mendapatkan 38 laporan efek samping dalam 2 tahun terakhir. Efek samping yang dilaporkan mulai dari sariawan yang membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi (noma like lession).

Untuk itu bagi masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan obat-obat tersebut, disarankan untuk beralih ke obat-obat yang mengandung enzydamine HCl, povidone iodine 1 persen, atau kombinasi dequalinium chloride dan vitamin C.(Cat)

iklan1
iklan1