SEKOLAH MUSLIM dan Masyarakat MULTIKULTURAL di Manado

Almunauwar Bin Rusli (FOTO Ist)

Almunauwar Bin Rusli

Dosen dan Peneliti IAIN Manado

Sekolah muslim dan masyarakat multikultural di Manado menjadi penting dikaji disebabkan oleh tiga alasan mendasar. Pertama, secara historis,pendidikan Islam sendiri berbeda dengan sistem Pendidikan Kristen yang sudah terlembaga sejak awal di Manado. Pendidikan Islam pada awalnya masih bersifat nonformal dengan menempatkan Masjid, mushallah, atau langgar sebagai tempat belajar dengan materi pengajaran lebih banyak pengetahuan agama. Ini terlihat pada 1854, ketika didirikan sebuah taman pengajian di Kampung Islam dengan memberikan pengajaran kepada anak-anak yang berumur enam tahun ke atas. (Ilham Daeng Makello, 2010:109).

Kedua, secara sosiologis,  sejarah Manado sebagai kawasan pelabuhan dan bagian penting dari lintasan hegemoni kolonial di masa lalujelas telah memfasilitasi beragam jenis mobilitas dan sebaran penduduk di kawasan Timur Indonesia. Hasilnya adalah sebuah struktur masyarakat plural seperti yang ada saat ini. Pola pemukiman yang berkembang pun turut menjadi indikasi bagi berkembangnya akumulasi penduduk yang majemuk. Titik-titik penyebaran penduduk Manado turut pula menandai proses penyebaran keragaman sosial dikalangan penduduk, seperti terlihat dari pola dan lanskap perkampungan.(Basri Amin, 2013:91).Dari sinilah, sekolah muslim lokal mulai berhadapan dengan mereka yang berbeda secara prinsip, teologi maupun kultural.

Ketiga, secara yuridis,UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 30 ayat 1, bahwa pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh pemerintah atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.  Pasal 55 ayat 1 menjelaskan masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial dan budaya untuk kepentingan masyarakat.

Eksistensi Sekolah Muslim di Manado

Sekolah muslim di Manado saat ini telah tersebar ke dalam beberapa wilayah. Proses pendiriannya pun tidak mengalami hambatan yang cukup serius dari masyarakat sekitar karena sah secara administratif dan adanya jaminan secara yuridis. Sekolah-sekolah ini tampil ke ruang publik baik dari tingkat TK, SD, SMP sampai SMA. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang mentransfer nilai pengetahuan, memelihara tradisi keilmuan serta memproduksi kaum intelektual, sekolah muslim di Manado  mulai belajar bagaimana cara berinteraksi, berkomunikasi serta berpartisipasi lintas etnis, budaya bahkan agama meskipun masih ada kecanggungan.

Secara umum, sekolah muslim di Manado belum pernah menghadapi pelabelan-pelabelan radikalisme kecuali apa yang pernah dialami Pondok Pesantren Hidayatullah Kinilow, Tomohon. Ketika saya berdiskusi  dengan pengurus pondok 2014 silam, Taufik Abu Faris mengaku bahwa Pondok tersebut hampir ditutup karena dituduh sebagai sarang teroris pada tahun 2009. Banyak santri yang pindah dan keadaan tidak kondusif. Realita ini semakin mempertegas bahwa sekolah muslim telah menjadi wacana penting dalam percaturan masyarakat global yang sangat multikultural. Sekolah muslim di Manado memperkuat identitas keberadaannya melalui tiga corak. Pertama, corak demografis. Corak ini berusaha mengakomodasi jumlah peserta didik lokal maupun pendatang ke dalam masing-masing lembaga pendidikan yang dikelola. Semua diterima dengan baik tanpa pembedaan dan pembatasan. Di sisi lain, ini suatu keuntungan agar siswa muslim semakin berkembang pesat di Kota Manado lewat jalur pendidikan.

Kedua, corak ideologis. Corak ini berusaha menanamkan semangat Islamisme kepada peserta didik berdasarkan prinsip rahmatan lil alamin. Wujud dari prinsip ini diaktualisasikan lewat persaudaraan seiman, persaudaraan kemanusiaan, dan persaudaraan kebangsaan. Bentuk pemahaman ini dipilih oleh sekolah muslim di Manado sebagai acuan untuk menentukan sikap dan agenda-agenda kerja ke depan demi kemajuan institusi pendidikan yang dipimpinnya. Corak ini adalah salah satu faktor mengapa label-label radikalisme belum berkembangbiak tapi bisa jadi akan muncul dikemudian hari jika tidak diantisipasi secara terlembaga dan terkontrol.Ketiga, corak programatik. Corak ini menekankan kebijakan khusus yang dikembangkan untuk merespon dan mengelola keragaman etnik murid di sekolah muslim tersebut meliputi kebutuhan-kebutuhan mereka.

Masyarakat Multikultural sebagai Sumber Belajar

Masyarakat multikultural sebagai sumber belajar sekolah muslim di Manado membutuhkan tiga  pendekatan.  Diantaranya (a) Pendekatan humanis (b) Pendekatan rasional (c) Pendekatan fungsional.Pendekatan humanis adalah masyarakat multikultural dapat dijadikan sebagai subyek pendidikan dengan segala potensinya, termasuk potensi etnisitas, budaya dan agama yang secara alami akan tumbuh berkembang. Peranan fasilitator disini sebagai motivator dan dinamisator dengan memfasilitasi masyarakat untuk mengalami dan menghayati sendiri nilai hidup dalam mengatasi persoalan kehidupan individu dan sosial. Pendekatan rasional adalah masyarakat multikultural dapat dijadikanlahan kajian mengenai pluralitas etnis, budaya dan agama dengan mendayagunakan akal sehat. Pendekatan fungsional adalah masyarakat multikultural dapat dijadikan sebagai media untuk mencari hikmah dari setiap ajaran. Implikasi dari pendekatan ini adalah peserta didik dapat memahami metodologi dalam mempelajari etnis, budaya serta agama orang lain secara interpretatif kontekstual dan reinterpretatif terhadap pemahaman terdahulu supaya semangat multikulturalisme dirasakan selalu segar dan aktual.

Catatan Penutup

Usaha untuk mengintegrasikan antara sekolah muslim dengan masyarakat multikultural di Manado membutuhkan konsep berikut. Pertama,content integration. Mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep dasar, generalisasi, dan teori dalam materi pembelajaran di sekolah. Kedua,the knowledge construction process. Membawa peserta didik untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah materi pelajaran.

Ketiga,an equity paedagogy. Menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar peserta didik dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik yang beragam dari segi ras, budaya, dan  sosial. Keempat, prejudice reduction. Mengidentifikasi karakteristik ras peserta didik dan menentukan metode pengajaran bagi mereka.Sekolah muslim dan masyarakat multikultural di Manado selalu terhubung dalam konteks relasional maupun teritorial. Masyarakat multikultural adalah identitas Kota Manado yang sudah mengakar sejak lama sedangkan sekolah muslim menjadi bagian penting dalam menyelenggarakan program pendidikan yang toleran. Mari kita mulai dari sekarang. [***]

iklan1
iklan1