GMNI MANADO Sukses Selenggarakan Diskusi Pancasila dan Bukber

Safrin Titdoy saat menyampaikan materi (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, Jumat (1/6/2018), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Manado menyelenggarakan ‘Diskursus Pancasila dan Buka Puasa Bersama’ yang bertempat di hotel Lucky Inn Manado.

Diskusi dan Buka Puasa Bersama (Bukber) ini diprakarsai GMNI Komisariat FISIP Unsrat (Swaradika) dengan mengusung tema: “Pancasila 1 Juni 1945 dalam Ancaman Fundamentalisme Pasar” yang menghadirkan pemateri Drs. Elias D. Pangkey M.Pd selaku Ketua Bidang Ideologi DPD Persatuan Alumni (PA) GMNI Sulawesi Utara dan Safrin Titdoy S.Hut selaku Ketua DPC GMNI Manado.

Bung Aldo begitu Safrin Titdoy akrab disapa menyampaikan bahwa Pancasila sudah selesai pembahasannya di Negara ini, bahkan tugas anak bangsa Indonesia saat ini hanyalah menjalankan perintah dari nilai-nilai luhur Pancasila. Walau begitu, realitas saat ini menyajikan banyaknya tantangan terhadap aktualisasi nilai pancasila tersebut menjadi polemik.

“Pancasila sudah final dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat serta tidak lagi memandang suku, agama, dan ras juga tidak menggolongkan antara mayoritas dan minoritas. Generasi milenial harus menjadi pelopor ideologi Pancasila dalam menghadapi ancaman fundamentalisme pasar yang mengendarai fundamentalis agama. Itulah persoalannya, maka GMNI harus merawat ideologi pancasila,” ujar Bung Aldo.

Selain itu, Bung Elias Pangkey sebagai narasumber berikutnya menyentil soal pengalaman Indonesia berpancasila semestinya menjadi pengalaman berharga dalam bernegara. Ia mengambil contohnya seperti pada era Orde Baru (Orba) yang menjadikan Pancasila hanya semata-mata tameng untuk memuluskan oknum-oknum jahat dan para bandit dalam melakukan kejahatan pada bangsa ini.

Suasana berlangsungnya dialog (FOTO Suluttoday.com)

”Saat itu demokrasi hancur dan tidak ada keadilan bagi masyarakat, seperti inilah pengalaman kita berpancasila di era Orde Baru. Selanjutnya, menurut saya tantangan dari bangsa Indonesia yang rakyatnya nasionalis dan pancasilais adalah globalisasi dunia yaitu globalisasi ideologi transnasional dan globalisasi teknologi informasi. Sekaligus juga sistem ekonomi kapitalistik yang saat ini melahirkan pemimpin feodal yang bermental kapitalistis-imperialis, darisinilah terlahirlah komprador yang merebut kekuasan untuk kepentingan pribadi,” tutur Bung Elias.

Untuk diketahui, sebelumnya Iverson Tampungan, sebagai Ketua DPK Swaradika dalam laporannya menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut. Bung Iver sangat mengapresiasi kehadiaran para kader-kader GMNI serta undangan pada kegiatan tersebut.

”Maksud dan tujuan diselenggarakannya kegiatan ini untuk memberikan pemahaman sejarah tentang hari lahir pancasila pada 1 Juni. Dimana dewasa ini pancasila telah menjadi dikotomikan, ada kelompok pancasila 22 juni (piagam jakarta) berdasarkan syariat islam adapun kelompok pancasila 18 agustus yang merupakan kelompok pro rezim orde baru. Padahal hal tersebut merupakan satu rangkaian sejarah yang saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Pada 1 juni 1945 istilah pancasila pertamakali disebutkan dalam pidato Bung Karno (tanpa teks) pada sidang bpupki tanggal 1 juni 1945,” ujarnya. (*/Redaksi)

iklan1
iklan1