MADRASAH DAN IMAJINASI ESKATOLOGIS

Almunawar Bin Rusli (FOTO Suluttoday.com)

Almunauwar Bin Rusli

(Dosen dan Peneliti IAIN Manado)

Kekacauan  pasca drama  bom  SurabayaAhad, 13 Mei 2018 telah memancarkan sinyal kekecewaan. Masyarakat beragama mengutuk aksi hina yang terjadi di halaman Gereja Santa Maria. Nalar mereka gelisah,mengapa orang beriman berbuat kekerasan?Juru bicara Kepolisian Daerah Jawa Timur, Komisaris Besar Frans Barung Mangera memberikan data bahwa jumlah korban tewas adalah  8 orang dan 38 luka-luka.Diduga di antara korban tewas merupakan pelaku bom bunuh diri. (Tempo,19/06/2018).Terorisme di Indonesia memiliki ciri khas yang unik. Ia menjadi paham sekaligus profesi. Paham mengantarkan orang untuk berimajinasi. Sedangkan profesi bertugas membuat rumus guna mewujudkan imajinasi tersebut di ruang publik melalui kerja-kerja yang rasional, bertujuan dan terorganisir. Jika dicermati, teroris cenderung beraktivitas di perkotaan. Sebab, kota merupakan area politik (political space) strategis dimana simbol, ruang dan kuasa saling bertarung. Dalam pandangan saya, tiga unsur inilah yang mendorong para teroris menciptakan lingkaran ketakutan atas alasan  upaya bela diri, perjuangan martabat atau operasi penyadaran.

Mengapa terorisme selalu identik dengan Islam? Saya pikir ini satu pertanyaan sensitif yang terus membingungkan. Dalam perspektif normatif, tentu saja Al-Qur’an yang merepresentasikan wajah Islam tidak mengajarkan tindakanteror. Lihat QS Al Mumtahanah :8“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. Memahami teks ini dengan baik dan benar tentu akan mendatangkan pengetahuan, mental dan kepribadian yang mulia. Mengutamakan perdamaian daripada peperangan. Meski demikian, dalam perspektif historis, kaum Islamis militan memproyeksikan pandangan dunia yang holistik dengan menerapkan norma agama sebagai praktik politik korektif. Mereka  menganjurkan penguasaan atas pikiran, badan dan ruang sebagai dimensi agama yang utuh. Masjid dan Negara merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Nasionalisme adalah iman, tanah air adalah Dar al-Islam, penguasanya Allah dan konstitusinya Al-Qur’an (Bruce Lawrence,2004:114).

Realitas normatif dan historis di atas kemudian terus bertengkar. Karena posisi teks sebagai objek yang dibicarakan, maka manusia sebagai subjek akhirnya berkuasa terhadap objek. Sehingga, muncullah imajinasi eskatologis di Indonesiayang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia. Imajinasi eskatologis melihat bahwa dunia sedang dalam kondisi rusak parah dan dikendalikan para musuh Tuhan sedemikian rupa sehingga tidak mungkin lagi diperbaiki kecuali dengan cara yang luar biasa. Imajinasi ini  melahirkan nalar yang melihat kekerasan bukan sebagai tindakan agresi, melainkan sebagai aksi penyelamatan dan penebusan dosa . Kematian dilihat sebagai pintu gerbang bagi kehidupan baru yang bebas dari dunia yang penuh dengan polusi kejahatan.(Iqbal Ahnaf, 2018).Dampak nyata dari imajinasi  tersebut ialah tradisi bom bunuh diri sebagai pembuktian jihad. Dalam konsepsi kaum Islamis, jihad merupakan bagian dari komitmen Muslim pada tauhid dan syari’ah. Tiap penolakan untuk memenuhi kewajiban ini akan beresiko dikeluarkan dari Islam. Jihad diyakini sebagai cara meruntuhkan rezim penguasa kafir di negara masing-masing (Noorhaidi Hasan, 2012:90-94).

Wajah politik Islam Indonesia Pasca Soeharto memang  lebih banyak dibentuk oleh tekad untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan politik daripada keinginan untuk memperkuat sifat dasar keislaman Indonesia (Hooker,2000:373). Analisis tersebut  jika dilacak dengan cermat maka ada benarnya. Hal ini sering dikaitkan dengan lonjakan kekerasan Muslim-Kristen antara 1999 dan 2003 serta perkembang biakkan kelompok-kelompok Islamis militan pada periode pasca-Soeharto awal. Yang mendasari adalah ancaman fanatisme yang menyertai pertumbuhan kasalehan Islam. (Greg Fealy,2008:34). Di sisi lain, sifat dasar Islam Nusantara  yang toleran, akomodatif dan humanis seolah hilang ditelan doktrin bom bunuh diri.Doktrin ini mempromosikan tubuh sosial yang dibentuk oleh universalitas kehendak. Fenomena tubuh sosial bukan merupakan pengaruh suatu konsensus, melainkan pengaruh perwujudan kekuasaan yang beroperasi pada tubuh-tubuh individual (Foucault, 2002:71). Dibalik ledakan ada aktor kuasa yang menggerakkan.

Survei CSIS yang dilakukan pada 23-30 Agustus 2017 menunjukkan pada soal keagamaan ternyata generasi milenial memiliki cara pandang politik eksklusif. Sebanyak 58,4% sama sekali tidak mau menerima pemimpin  yang beda agama. Sebanyak 39,15% menerima pemimpin yang berlainan keyakinan. Wahid Institute dan Lembaga Survei Indonesia merilis 10 kelompok yang sering jadi sasaran kebencian masyarakat dan cenderung diartikulasikan dalam bentuk kekerasan fisik. LGBT (26,1%), komunis (16,1%), Yahudi (10,7%), Kristen (2,2%), Syiah (1,3%), Wahabi (0,5%), Buddha (0,4%), China (0,4%), Katolik (0,4) dan Konghucu (0,1%).(Asep Salahudin,2018:7). Berdasarkan laporan ini, maka eksistensi umat Islam khususnya kalangan muda perlu mendapat perhatian serius dari orangtua maupun pemerintah. Sebab, fenomena sosialisasi hingga kaderisasi anggota teroris atas nama agama tidak pernah tinggal diam bahkan terus menyebar ke berbagai daerah, pusat-pusat dakwah termasuk menyusup ke ranah sosial media. Argumentasi, retorika dan pesona mereka begitu sederhana tapi selalu saja berhasil  menawarkan kenikmatan surga. Bagaimana sikap kita?

Menyikapi benturan agama dan negara seperti ini, maka Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam modern di Indonesia saya yakin  mempunyai posisi dan peran penting dalam melakukan perbaikan. Prosesnya memang sedikit pelan, namun  manfaatya untuk  jangka panjang dan banyak generasi muda yang akan terselamatkan dari sisi ideologi, mental hingga kepribadian se dini mungkin. Madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah maupun aliyah perlu melakukan tiga agenda. Pertama, open up lesson. Pembelajaran ilmu agama, kewarganegaraan dan sosial harus terpadu serta berlangsung secara terbuka. Peserta didik diberikan kebebasan memilih materi berdasarkan problem kontekstual. Guru bertugas memfasilitasi mereka agar dapat mencapai kompetensi standar. Model ini membuat mereka terbiasa berpikir rasional, relevan dan penuh pemaknaan. Kedua,Get personal Students.Dalam menjalankan tiga ranah pembelajaran di atas, maka guru juga mesti memberikan pelayanan kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus secara personal. Berikan kebebasan kepada mereka untuk mempelajari apa yang diinginkan. Guru membantu memvalidasi kesimpulan yang sudah mereka rumuskan.  Hasilnya, mereka terhindar dari efek deprivasi, disorientasi, dislokasi dan negativisme. Ketiga, Get real with the project. Peserta didik sudah harus dibiasakan melakukan tugas penelitian dalam skema mini researchterkait integrasi  ilmu agama, kewarganegaraan dan sosial. Mereka dilatih membuat satu kajian dan analisis satu fokus secara komprehensif multidisiplin. Sehingga jauh dari sifat fanatik. Program ini dapat menciptakan kerjasamatim. Selain itu, hasil riset tersebut dapat  dipresentasikan dalam forummadrasah dengan menghadirkan pakar dan pendengar dari sekolah-sekolah umum untuk bertukar pandangan juga pengalaman.

Sebagai penutup,  tradisi pendidikan Islam baik di Timur Tengah maupun di Indonesia telah mengalami masa pasang surut terkait dengan situasi sosial, budaya, politik, ekonomi bahkan ortodoksi Islam. Namun, gejala paling jelas adalah bahwa madrasah dalam beberapa dasawarsa terakhir kian terlibat dalam pendidikan umum ; bahkan juga dalam upaya pembangunan bangsa untuk kemajuan dan kewargaan kultural (Azra, 2012:99). Madrasah yang ada di Indonesia tidak hanya sekedar lembaga pendidikan, tetapi menjadi tempat penting dimana identitas Muslim dipertaruhkan. Pengarusutamaan madrasah berwawasan Islam Nusantara dalam menangkal pertumbuhan ajaran terorisme yang didorong oleh imajinasi eskatologis dapat terus diperjuangkan melalui tiga agenda aktual di atas. Pendiskriminasian  madrasah pun harus dihentikan melalui spirit demokrasi, desentralisasi juga gerakan sosial secara adil dan berkesinambungan. (***)

iklan1
iklan1