ARUS BALIK PASCA PEMILUKADA

Donar Taluke S.IP.,M.Si (FOTO Suluttoday.com)

Oleh : Donar Taluke S.IP.,M.Si

Kalau anda berpikir, arus mudik dan arus balik hanya ada saat Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Anda keliru. Ternyata, Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) juga menciptakan adanya arus mudik dan arus balik dari dan ke berbagai daerah di Indonesia.

Kenapa adanya arus mudik dan arus balik dalam Pemilukada? Karena Pemilukada mampu menarik hati pemilih atau warga tertentu, untuk pulang kampung/desa atau pergi ke wilayah tertentu, dengan satu alasan utama, “ingin mendukung dan memenangkan salah satu calon yang disukai atau dicintai”.

Puncak arus mudik dan arus balik, biasanya terjadi pada 1 minggu atau pada H-1 pelaksanaan dan pasca pemilukada. Pergerakan arus mudik, bisa dan akan selalu mengubah konstalasi politik lokal. Karena mereka yang mudik saat pemilukada bukanlah orang biasa. Tapi mereka adalah orang biasa yang telah menjadi hebat, karena kedudukan atau jabatan, kekuatan ekonomi, ketokohan atau karena jenjang pendidikan (sarjana, magister, doktor atau profesor).

Kalau saat hari raya keagamaan, kemacetan jalan raya menjadi hal yang ditakuti atau keluhkan. Maka hal yang perlu diwaspadai dan sangat membahayakan dalam pemilukada adalah arus mudik dan arus balik politik pasca pemilukada. Bagi ASN/PNS yang ketahuan mendukung calon yang kalah, bersiaplah mudik jabatan. Pengusaha yang terbukti mendukung calon yang kalah, bersiap juga untuk mudik pekerjaan.

Namun, ASN yang ketahuan mendukung calon terpilih, bersiaplah balik pada jabatan yang sama atau balik dipromosikan/naik jabatan. Selanjutnya pengusaha yang terbukti telah membantu calon terpilih, bersiap-siap untuk balik mendapat jatah pekerjaan atau bisa jadi tambah banyak proyek yang akan dikerjakan. Tetapi politik selalu dinamis.

Arahnya kadang berubah drastis disaat pemilukada telah dimenangkan calon tertentu. Mereka yang hari kalah, karena mendukung calon yang gagal. Bisa jadi, mereka dapat memenangkan pertarungan dalam perebutan kekuasaan pasca pemilukada. Atau bisa saja, mereka yang hari ini kalah, lebih sukses dan menikmati manfaat dan gizi dari kekuasaan. Kemudian mereka yang hari ini merayakan kemenangan, akan mengutuk rezim yang berkuasa, karena kalah dalam perebuatan atau penentuan kedudukan atau tidak punya posisi atau pengaruh dalam kekuasaan. Atau bisa jadi, anda akan menghujat rezim yang anda menangkan, karena alasan ini dan itu.

Untuk itu catatan penting bagi kita semua. Jika hari ini, anda berada pada posisi kalah, janganlah sesali atau putus asa, apalagi menyalahkan orang lain. Atau jika hari ini, anda pada posisi menang, maka janganlah sesumbar atau takabur merayakan kemenangan secara berlebihan dan mengganggap rendah orang lain. Karena bumi masih terus berputar dan arah politik selalu bergerak dinamis dan penuh dengan dinamika. Nikmatilah dan teruslah berjuang bersama-sama, untuk kebaikan semua umat ciptaan Tuhan. (***)

iklan1
iklan1