HUT Kota Manado ke-395, Pengamat Apresiasi Kepemimpinan GSVL-MOR yang Harmonis

DR Ferry Daud Liando, S.IP.,M.Si (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Momentum 395 tahun Kota Manado yang bertepatan pada, Sabtu (14/7/2018) melahirkan suasana perayaan yang beragam. Peristiwa bersejarah ini pun, tak luput dari perhatian DR Ferry Daud Liando, S.IP.,M.Si pengamat politik dan pemerintahan Sulawesi Utara (Sulut).

Menurut Liando dari banyak hal prestisi yang diraih DR Vicky Lumentut selaku Wali Kota dan Mor Bastiaan SE, Wakil Wali Kota Manado diantaranya ialah keharmonisan hubungan kerja kolaboratif yang dijalankan kedua pemimpin Kota Manado ini.

”Diantara kebanggaan bagi masyarakat Sulut di HUT Kota Manado ke-395 ini yaitu ketika mendapat kado istimewa dari pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado. Hadiah Istimewa itu adalah tetap harmonisnya hubungan keduanya. Pasangan ini merupakan penyelamat wajah dari kekuasaan politik di Sulawesi utara,” ujar Liando yang juga dosen Pascasarjana Unsrat Manado ini.

Liando yang juga mantan aktivis GMKI Cabang Manado itu mengatakan secara umum gambaran kekuasan politik di Sulut selalu identik dengan konflik antara kepala daerah dan wakil kepala daerah. Dampaknya di daerah-daerah tersebut adalah buruknya penyelenggaraan pemerintahan.

”Pemerintah dikendalikan dalam dua gerbong, ini akibat pecahnya hubungan Kepala Daerah dan Wakilnya. Aparat birokrat seakan memiliki dua matahari. Yang bingung adalah para pejabat birokrat. Sulit untuk menentukan mengikuti arah yang mana. Akibatnya program dan pembagunan berjalan tanpa kepastian. Oleh karena itu gaya kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado perlu di apresiasi,” tutur Liando kepada Suluttoday.com, Sabtu (14/7/2018).

Lanjut Liando memberikan komentarnya bahwa faktanya saat ini GSVL-MOR begitu Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado akrab disapa, masih mampu menjaga harmonisasi kepemimpinan. Pasangan ini perlu di jaga dan dikawal, kata Liando, agar prestasi hari ini tetap terjaga. Di daerah lain, konflik pasangan kepala daersh terjadi karena ada pihak yang sengaja mengadu domba.

“Salah satu yang perlu dijaga adalah kemungkinan munculnya pihak lain disekitar kekuasaan yang bisa saja dengan sengaja mengadu domba keduanya. Ketika keduanya konflik maka pihak yang mengadu domba itu yang mengambil untung atas efek dari konflik keduanya itu,” kata Liando menutup. (*/Redaksi)

iklan1
iklan1