Gempa Rupiah, Haruskah Kita Takut?

Hasby Yusuf (FOTO Suluttoday.com)

------------------------
Tulisan : Hasby Yusuf

Nilai tukar rupiah tahun 2018 adalah paling terburuk sejak krisis ekonomi 98. Rupiah juga merupakan mata uang paling terpuruk diantara mata uang se-Asia atas dollar. Pertanyaannya, mengapa rupiah terpuruk?. Kebijakan suku bunga di Amerika, perang dagang, harga minyak dunia dan krisis ekonomi dibeberapa negara. Ini yang kita sebut sebagai ekternal factor.

Tetapi guncangan global tak akan berdampak besar jika secara internal fundamental ekonomi nasional kita kuat. Daya tahan atas guncangan global bergantung pada kemampuan produksi nasional. Karena itu lemahnya rupiah bisa dibilang karena kita tak memiliki kemampuan produksi secara nasional yang kuat. Karena itu ekonomi kita mudah terguncang ketika terjadi turbulensi global. Jadi secara proporsi, faktor internal memiliki peran keterpurukan rupiah.

Apa dampak kejatuhan Rupiah?

Mereka yang awam ilmu ekonomi akan menganggap pelemahan rupiah hal biasa. Dan mereka senantiasa menyindir jika ada yang mengkhawatirkan pelemahan rupiah. Bagi saya ini wajar karena mereka memang tak punya ilmu membaca dinamika ekonomi. Selain itu momentum politik membungkam akal sehat mereka.

Tetapi jika mereka sedikit saja ingin mengerti situasi yang sesungguhnya maka saya yakin mereka akan insyaf dengan situasi nilai tukar. Ketika nilai tukar rupiah melemah, kewajiban rutin pembayaran utang semakin berat. Ini dikhawatirkan membuat ruang fiskal menjadi semakin sempit.

Bertambah beban pemerintah membayar cicilan pokok dan bunga tiap tahunnya dengan rupiah sementara utangnya sebagian berbentuk valuta asing atau utang luar negeri. Ini yang kita sebut sebagai “resiko mata uang”. Kondisi tersebut, tentu mempengaruhi cadangan devisa kita.

Porsi utang Indonesia memang masih dalam batas aman karena tak lebih dari 40 persen terhadap angka PDB. Namun kapasitas pemerintah dalam membayar cicilan pokok dan bunga utang melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) cukup dikhawatirkan. Terlebih 41 persen utang kita dalam bentuk valuta asing dan obligasi kita didominasi oleh asing. Karena itu pelemahan rupiah akan berdampak pada jumlah utang luar yang semakin membengkak.

Untuk bahan baku, barang modal untuk industri dan barang konsumsi yang sebagian besar berasal dari luar negeri, hal ini akan membutuhkan dolar untuk transanksi. Ini pasti semakin membebani industri domestik. Peningkatan biaya impor karena pelemahan rupiah ini dapat menggerus pendapatan pelaku usaha. Selain itu, depresiasi juga akan berpengaruh pada harga jual barang kebutuhan pokok yang akan memukul daya beli masyarakat miskin. [***]

 

Semoga mereka faham…

iklan1
iklan1