‘Silaturahmi Aktivis Muslim Sulut’, Waspadai Narasi yang Membelah Keutuhan Bangsa

Moderator Abid Takalamingan saat mengarahakn diskusi (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Dilaksanakannya Silaturahmi Aktivis Muslim Sulut (Sulawesi Utara), Rabu (26/9/2018) bertempat di Aula kantor DPD RI, Kecamatan Tikala Kota Manado berlangsung sukses dan penuh nuansa kebersamaan. Dalam laporannya Amas Mahmud, selaku Koordinator Tim Kerja menyampaikan kegiatan tersebut akan diselenggarakan secara ruting, karena penting dalam kerangka memupuk kebersamaan sesama aktivis muslim Sulut.

”Ini silaturahmi aktivis muslim Sulut lintas generasi, menjadi penting dan perlu dilaksanakan karena momentum ini akan melahirkan ide-ide yang konstruktif untuk kemajuan daerah Sulawesi Utara. Yang menggagas kegiatan ini adalah kehendak bersama para aktivis muslim yang tergabung dalam gorup WhatsApp ‘Aktivis Muslim Sulut’, dan kita berharap terus berkelanjutan diskusi-diskusi semacam ini. Tim kerja berekspektasi agar silaturahmi dan diskusi dapat dilakukan secara intensif, karena akan berdampak positif pada pembangunan daerah serta negara Indonesia,” tutur Amas.

Silaturahmi dan Diskusi Tematik ini menghadirkan tiga Narasumber, diantaranya Reiner Emyot Ointoe (Fiksiwan), Drs Ulyas Taha (Aktivis NU Sulut) dan Drs Mahyudin Damis (Aktivis Muhammadiyah) dan moderator Abid Takalamingan, S.Sos.,MH. Tema yang diangkat yakni ‘’Pro-kontra Islam Nusantara Sosial; Solusi dan Tantangan’’. Hadir pula Sekretaris tim kerja Syafril Parasana, dan Rustam Hasan selaku bendahara.

Selaku pembicara pertama Ulyas menyebutkan bahwa Islam Nusantara (Inus) merupakan bagian dari Islam yang rahmatan lilalamin. Inus menurutnya gagasan yang mengedepankan wajah Islam yang toleran dan plural, jauh dari tindakan kekerasan.

”Inus itu adalah ide karena pada prinsipnya Islam merupakan agama yang rahmatan lilalamin. Inus hanya melahirkan gambaran bahwa Islam itu toleran, menghargai kemajemukan, tidak anti pikiran, menampilkan Islam tradisi di Indonesia, dan ini tidak bermasalah,” ujar Ulyas.

Berbeda dengan Ulyas, Reiner menyebutkan konstruksi konseptual Inus masih abstrak dan belum mengalami bentuk yang jelas secara kajian pengetahuan. Apalagi eksistensi Islam yang universal akan kehilangan esensinya bila direduksi menjadi semacam ‘penamaan’ Nusantara. Reiner mengharapkan agar umat Islam tak melahirkan pikiran-pikiran yang krodit.

Suasana berlansgungnya silaturahmi dan diskusi (FOTO Suluttoday.com)

”Patut diletakkan dulu bahwa Islam itu bukan sesuatu partikular, tapi universal. Itu artinya posisi yang partikular secara logika gagal membawahi yang universal, jangan mereduksi nilai Islam yang komprehensif dan mulia itu dalam sebuah ‘label’ sempit. Saya menilai Inus melahirkan pikiran yang krodit, dan narasi ini masih dapat diperdebatkan. Perlu juga dipahami secara adil, bagaimana kita mampu mengidentifikasi suatu konsep dengan utuh, kalau diawali dengan bacaan teks-teksi yang sempit,” kata Reiner.

Sementara itu, Mahyudin yang lebih dominan bicara Inus dari perspektif antropologi menyebutkan, Inus sebagai istilah yang sifatnya profan bukan sakral. Oleh karena Inus itu profan, maka pubik tidak mengkaterogikannya sebagai penistaan agama. Mahyudin menambahkan Inus merupakan wujud dari agama sebagai sistem budaya berdasarkan teori Clifford Geertz. Dilain pihak, Mahyudin yang adalah dosen FISPOL Unsrat Manado mengatakan Inus tidak bermasalah.

“Seharusnya, penting untuk kita diskusikan adalah istilah, konsep, atau kalimat “Allahu Akbar” yang sifatnya sakral dimana saat ini telah mengalami penyempitan atau penurunan makna (Peyorasi). Contoh di medsos. Sering seseorang menulis suatu kalimat yang isinya belum tentu benar, tiba-tiba menyerukan kepada teman-temannya untuk takbir. Ini justru sangat mendasar yag harus dibenahi,” ucap Mahyudin.

Menariknya sejumlah partisipan melontarkan pemahaman yang kontra terhadap kehadiran Inus, salah satu diantaranya seperti disampaikan DR Jufri Jacob, Aktivis NU kultural menilai Inus telah menggerus posisi Islam yang luas menjadi sempit.

”Bagi saya Islam Nusantara 100% sesat pikir, sesat verbal dan sesat dalam praktek, sesat dalam berbagai hal. Islam itu sempurna, kalau kita tambah atau kurangi, berarti hilang kesempurnaannya. Islam itu rahmatan lil alamin tidak hanya berada di Nusantara. Saya dengan tegas menolak konsep Inus, bagi saya Islam Nunsantara dalam metodologinya juga salah,” tukas Jacob tegas.

Begitu juga menurut Memet Bilfaqih yang mengatakan secara internal di Nahdlatul Ulama (NU), Inus masih melahirkan pro-kontra, walaupun ada sisi humanis yang perlu diapresiasi. Bagi aktivis muda vokal itu, gagasan Inus baru sekedar melahirkan ‘draf’ konseptual, yang belum layak ‘diprovokasi’ ke publik.

Foto bersama usai diskusi (FOTO Suluttoday.com)

Sejumlah aktivis muslim yang hadir mewakili Ormas diantaranya, Fadly Kasim (Ketua AMSI Sulut), Awaludin Pangkey (Ketum Wilayah Mathlaul Anwar Sulut), Iswadi Amali (Ketua AMPI Manado), Asri Rasjid (Ketua ABI Sulut), Idam Malewa (Presidium KAHMI Manado), Hilman Arsyad (Sekretaris DPD KNPI Sulut), Aif Darea (Ketua TIDAR Sulut), Ichal Ali (Sekretaris KAHMI Kota Manado), Djoko Sutrisno (WaKa DPD KNPI Sulut), Suryanto Muarif (Ketua BKPRMI Manado), Rivan Kalalo (Ketua Wilayah GAKI Sulut), Ronald Salahudin (Sekretaris DPD PAN Kota Manado), Memet Bilfaqih (Lesbumi NU Sulut).

Surya (Sekretaris BKPRMI Sulut), Farist (KA KAMMI Sulut), Andi Bongkang (Aktivis NU Sulut), Musryid Laidja (WaDANAS BKPRMI), DR Jufri Yacob (Ketua PHBI Kecamatan Malalayang), dan undangan lainnya. Bahkan Inus disebut sebagai sebuah gagasan yang ‘dipaksakan’ (prematur) untuk disampaikan ke publik. Para peserta diskusi juga bersepakat mengeliminir munculnya ide-ide yang membelah keutuhan bangsa dan negara. (*/Redaksi)

iklan1
iklan1