Refleksi Sumpah Pemuda, HMI Cabang Manado Kupas TOLERANSI

Berlangsungnya dialog Refleksi Sumpah Pemuda tahun 2018 (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Ikut terlibat aktif dalam siklus pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), membuat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) selalu menjaga nafas pergerakannya yang independen. HMI sebagaimana semangat awal pendiriannya 5 Februari 1947 yakni dengan mengusung semangat keislaman dan keindonesiaan, terus menjaga marwahnya.

Kamis (1/11/2018) HMI Cabang Manado, dalam momentum perayaan Sumpah Pemuda ke-90 bertempat di Kantor Walikota Manado menggelar Refleksi Sumpah Pemuda dengan membahas tema: Pemuda Toleransi. Dialog itu menghadirkan Narasumber diantaranya; Rahmat Adam Korps Alumni HMI, Idam Malewa Korps Alumni HMI sekaligus Wadir Manado Post Group dan Amas Mahmud Korps alumni HMI yang juga Sekretaris DPD KNPI Manado.

Menurut Rahmat tantangan generasi muda hari ini ialah bagaimana bersaing meningkatkan kualitas diri dengan tidak gagap secara teknologi, meneguhkan karakternya sebagai pemuda idealis, serta sejumlah pikiran-pikiran membangun lainnya untuk kiat menghidupkan pergerakan pemuda. Sementara itu, Idam menjelaskan bahwa Toleransi yaitu sesuatu yang sunnatullah, itu sebabnya gagasan tentang Toleransi harus menjadi entitas yang kuat dalam mengokohkan NKRI, Toleransi pun dikatakannya memerlukan harmonisasi dalam penerapannya.

”Toleransi adalah sunnatullah. Toleransi adalah keteraturan kosmos kata phytagoras dalam kosmos, C Sagan. Atau lebih dalamnya Toleransi adalah keseimbangan relasi antara mayoritas dengan minoritas. Toleransi ibarat dua lempengan bumi yg saling bertaut, mengikat dan menjaga. Jika dua lempeng itu menjauh dan bergerak tidak harmoni maka itulah tsunami intoleransi. Salah satu cara merawat toleransi atau harmonitik adalah dialog dialog dialog dan jgn overdoktrinasi,” ujar Idam juga Ketum HMI Cabang Manado periode 2003-2005 ini.

Narasumber saat memulai dialog kepemudaan (FOTO Suluttoday.com)

Dari perspektif menjaga Toleransi Amas menilai banyak narasi-narasi pembangunan di Indonesia mulai terdominasi kepentingan politik praktis, itu sebabnya Toleransi yang harus dipelihara menjadi barang yang dipertentangkan. Menjaga Toleransi adalah kewajiban, seperti manusia merawat dirinya sendiri.

”Tema Toleransi sebetulnya tidak hanya final, tapi sudah finish. Dalam konteks narasi, Toleransi selalu relevan dibicarakan, ia harus dikuatkan, diikat. Selain itu, Toleransi adalah milik semua agama, ia icon yang mengintegrasikan kita, kita rukun bersamanya, Toleransi menjadi problematik karena realitas sosial sering kali membenturkannya, ada saja kesenjangan antara narasi Toleransi dengan aktualisasi dilapangan. Apalagi perspektif Toleransinya telah ditarik, disandera, disabotase dalam ruang sempit kepentingan politik,” tutur Amas sambil menambahkan kecurigaan dan tuduhan intoleransi tak etis bila dialamatkan pada kelompok agama tertentu.

Ketum HMI Cabang Manado, Iman Karim ketika memberikan pandangannya tentang Pemuda Toleransi (FOTO Suluttoday.com)

Bahkan menurutnya sering lai melenceng perdebatan, dan menyeruak berubah menjadi konflik verbal hingga konflik fisik. Diakuinya, ada sebagian rakyat yang merasa paling Toleran dan menuduh serius orang atau kelompok lain yang intoleran. Diskusi itu juga mengakui bahwa masih ada kelompok yang masih belum Toleran di Indonesia, namun tidak harus didramatisir berlebihan yang berkonsekuansi merusak persatuan Indonesia.

Foto bersama narasumber, Ketum HMI Manado dan perwakilan undangan (FOTO Suluttoday.com)

Tugas elemen Rakyat ialah mendekati memberi edukasi, merangkul, dan ‘menyelamatkan’, bukan memusuhi secara frontal kelompok intoleran, karena targetnya mencari solusi bukan menambah-nambah masalah. Kemudian, diskusi juga berkembang disampaikan sejumlah perwakilan pengurus organisasi Cipayung yang hadir, seperti GMKI Manado, PMII Manado dan juga penyampaian dari Ketua Umum HMI Cabang Manado, Iman Karim. Berbagai gugatan terhadap gerakan pemuda yang dinilai lemas, kurang greget, terungkap dalam pandangan-pandangan serta pertanyaan para peserta dialog. (*/Redaksi)

iklan1
iklan1