Konstruksi Politik Lokal Berbasis ‘Si Tou Timuo Tumou Tou’

Nasib demokrasi lokal (FOTO Ist)

Si Tou Timou Tumou Tou yang merupakan konsep atau falsafah hidup warga Minahasa, ungkapan ini selalu relevan dalam tiap zaman. Kalimat inspiratif itu terlahir dari kearifan lokal dimana masyarakat saat itu tumbuh. ‘Si Tou Timou Tumou Tou’, artinya ‘manusia hidup untuk memanusiakan sesama manusia’. Kemudian, kenapa perlu kita mencantumkan politik pada tulisan kali ini, dalil dasarnya karena manusia adalah makhluk politik. Ruang lingkup dan cakupan politik begitu luasnya, sehingga kita dimana pun itu di dunia ini, akan bertemu politik, walau kita bukan budak atau mesim politik.

Fenomena politik yang mencitrakan pertentangan kelompok dan friksi politik kini mulai terbaca terang melalui media massa maupun yang kita saksikan langsung. Itulah potret demokrasi yang dapat direkam dalam ingatan kita, sambutan kita serta apresiasi terhadap demokrasi perlu kita susun secara setara. Toh, pada akhirnya rakyat akan diperhadapkan pada pilihan memilih pemimpin, hak suara rakyat dalam Pemilu sangatlah dibutuhkan, bila salah pilih nantinya di Pemilu 2019, maka tetap akan ada konsekuensinya.

Sekilas kita menghimpun pelajaran dari proses Pilkada di Sulawesi Utara, rakyat punya preferensi berbeda-beda memang. Keberagaman ini dalam konteks demokrasi tergambarkan pada pilihan mereka dihasil akhir penghitungan suara, sebagai ajang seleksi kepemimpinan di daerah, banyak referensi dari peristiwa politik yang telah dilewatkan dari plus-minusnya kita belajar. Seyogyanya dari Pilkada ke Pilkada selanjutnya melahirkan progres ‘kewarasan’ kita dalam menghadapi kenyataan politik dan menentukan pilihan. Harapan itu bukan sekedar harapan kosong, namun dibutuhkan komitmen moral dalam mewujudkan perubahan sosial.

Secara teoritis, esensi politik itu mewujudkan kesejahteraan rakyat dan membuat rakyat yang dipimpin makmur, damai, adil, setara, bukan sekedar perebutan kekuasaan tanpa akhir. Kadang sering kali mengalami mis-orientasi dalam praktek politik kita, perebutan kekuasaan itu mestinya berlangsung tertib penuh kebersamaan, saling rangkul dan kedewasaan, tidak saling memukul. Kekuatan semangat kolektif akan berbanding lurus dengan hasilnya, itulah sekelumit harapan kita.

Sebagai ‘alaram’ bagi publik bahwa betapa banyak peninggalan sejarah ilmu pengetahuan terutama soal kepemimpinan layak ditiru, bukan direduksi, apalagi dilucuti. Dari originalitas pikiran para pendahulu akan melahirkan semangat bagi kita untuk bekerja terhadap kemajuan Indonesia. Narasi dan konten dari kalimat Si Tou Timou Tumou Tou menjadi semacam pembangkit jiwa juang, merangsang gairah kita agar bekerja dan dijadikan kompas. Kenapa penting kita membaca kembali, mendiskusikan atau mengingat kembali Si Tou Timou Tumou Tou?.

Semangat itu diharapkan dapat menginspirasi para politisi dan kita semua. Karena politisi akan dipertanyakan nantinya bila malas berfikir, terpolarisasi dengan arus demokrasi liberal yang memarginalkan kepentingan rakyat, apalagi politisi kaku membicarakan tema-tema kemanusiaan serta alergi dengan konsep pembangunan berkemajuan. Kata para Rohaniawan, akan indah pada waktunya, jika para politisi menjadi penyejuk, menjadi duta-duta disaat Pemilu maupun sebelumnya.

Ayo kita baca politik dalam terminologinya, menurut Robert adalah seni memerintah dan mengatur masyarakat manusia. Ini bukan dijadikan benturan sejarah, persilangan atau pertentangan lainnya dalam kemasan isu-isu kampanye politik yang menjatuhkan. Melainkan, menjadi penyemangat untuk melahirkan keutuhan, masyarakat (konstituen) diadu untuk berlomba-lomba menjaga kebersamaan, saling menghargai, meski dalam konteks tertentu adalah rival politik.

Para akademisi, jurnalis, kader partai politik, calon pemimpin bangsa, kalangan professional lainnya dan pemangku kepentingan juga diminta menjadi agen yang bertugas memproduksi pandangan-pandangan tercerahkan. Pendidikan politik dikedepankan, hindari saling menjatuhkan, peristiwa politik yang tidak mendidik yang pernah dipertontonkan di daerah lain di Indonesia ini, dan itu merusak kerukunan, maka jangan sedikitpun diadopsi.

Kita meniru kebaikan-kebaikan besar, maupun kebaikan sekecil apapun di dunia ini, selama itu baik layaklah kita tiru. Namun bila politik hanya membawa rusuh, gaduh dan mengganggu solidaritas masyarkat, itu adalah lawan kita bersama. Isu sektoral yang gagal mengakomodasi kepentingan kebanyakan orang, patut dirubah dengan pola rekayasa pilihan, hijrah dari yang biasanya memilih figur karena memberikan uang, ke memilih calon pemimpin yang berkomitmen mewujudkan kepentingan publik.

Catatan kecil ini sekedar menjadi penanda ramainya kita berdemokrasi, tak lebih. Karena kerinduan kita sama sebagai anak bangsa yang menghendaki pemimpin itu menjadi teladan untuk semua, bukan sekedar menjadi seperti pesulap. Pemimpin adalah konseptor, menjalankan apa yang dirancangnya, berjanji, lalu merealisasikan apa yang dijanjikan, bukan beralibi jika janji belum tertunaikan. Mereka yang menjadi role model, dan bisa menjalankan tugas sosialnya, bukan menjadi boneka.

Konteks sekarang, perseturuan politik melalui pertarungan gerbong rupanya sulit untuk diakhiri dalam waktu singkat karena telah mengakar. Tapi tetaplah optimis karena yang namanya politik tak ada keabadian. Kepentingan menjadi daya tarik luar biasa, tensi politik fluktuatif, tidak ada yang abadi dalam rumah politik. Muncul blok politik (oposisi), tak lama lagi akan berubah menjadi kompromi politik (koalisi), itulah peta perpolitikan yang dinamis dan wajar-wajar saja lumrah berdasarkan kacamata politik.

Kita berharap kekuatan filosifis ‘Manusia Memanusiakan Manusia’ menjadi transformasi nilai yang tiap detik menyemangati para politisi kita agar berfikir jangka panjang. ST4 juga memiliki makna sosiologis yang begitu berisi, esensial, universal dan inklusif. Kalimat memanusiakan manusia mendeskripsikan terkait pola berfikir tentang pentingnya regenerasi kepemimpinan yang berkualitas, bukan yang abal-abal, berbasis personal, dan muaranya atau bentuk konkritnya bukan politik uang, tapi politik berbasiskan kekeluargaan, persasudaraan dan semangat kedaerahan yang konstruktif.

Politik lokal itu modal utamanya adalah ‘ciri khas kekeluargaan’ yang kuat. Politisi dituntut agar terus menghidupkan narasi-narasi sejuk, konsolidasi berbasis pendekatan kekeluargaan, namun juga tidak bersifat sentimentil sektarian yang berakibat atas lahirnya kebencian pada kelompok lain diluar dirinya. Seperti itulah hakikat politik kita ala daerah yang ikut mengintegrasikan konstalasi politik Nasional, kita diikat oleh politik dengan keunggulan kearifan lokal (local wisdom).

Arus politik lokal harus beriringan dan sejalan dengan semangat politik Nasional yang terbingkai dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi, bila saja penerapannya di tingkat Nasional belum maksimal, maka praktik politik lokal lahir sebagai solusinya, biar saja dari daerah rakyat memberi contoh bagaimana berpolitik yang baik kepada elit-elit politik Nasional. Karena dengan ghiro semangat kekeluargaan urusan silang pendapat, debat kusir dan saling serang di panggung politik dapat terminimalisir, akan ada solusi yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan pikiran itu.

Artinya, marwah politisi kita akan teruji bila ada tantangan eksternal. Biarkan pertarungan politik Nasional yang kian keluar dari kultur yang ideal menjadi pelajaran pembanding buat politisi daerah, tak harus orang daerah menilur perilaku politik Nasional yang cenderung curang, arogan, tidak objektif dan koruptif itu. Politisi kita sebaiknya tak terlalu pusing dengan hiruk pikuk gaya politisi Nasional, cukup politisi kita belajar dan gali kemudian kembangkan narasi Sam Ratulagi yakni Si Tou Timou Tumou Tou. Semua gagasan politik sudah terintegrasi disitu.

Solusi berikutnya memecahkan kebekuan politik transaksional yaitu dengan pekerjaan mendorong pendidikan politik rakyat, apa yang disampaikan pengamat politik, konsultan dan arsitek politik harus dijalankan dengan benar. Wujudkan ditengah rakyat, usahakan nilai-nilai positifnya menyentuh kepentingan rakyat, bukan lagi dipajang sebagai tagline yang indah dibaca atau didengar saja.

Lebih dari itu, politisi kita punya kesempatan berbuat banyak mengabdikan pikiran dan karyanya untuk rakyat. Dari yang biasanya memproduksi kata-kata, silahkan action dan naik kelas memproduksi kerja nyata, politisi daerah tidak sekedar pandai mencipta brand. Pekerjaan politisi tidak hanya piawai berorasi diatas panggung, namun bagaimana ia membumikan dan mengkonkritkan retorika politik itu ditengah rakyat sebagai implementasi kerja.

Di internal partai politik sendiri, kita tidak harus memberi harapan lebih atau menunggu ada perubahan signifikan. Kecuali akan terjadi ‘kepikunan massal’ atau bencana politik yang kekuatan guncangannya sistematik dan dahsyat barulah kemudian akan terlahir kesadaran baru. Ia kita tak bisa berharap pada ‘kesadaran buatan’ para politisi Nasional, yang begitu sempurna memaparkan dalil-dalil politiknya di depan publik, lalu gagal menjadi teladan bagi kita semua, mungkin karena manusia bukan insan kamil yang seutuhnya.

Dalam konteks politik harapan hanya harapan sebatas ucapan, sulit rasanya berubah menjadi realitas. Memang mentalitas politisi kita secara Nasional belum sesungguhnya memberi kita optimisme untuk suatu perubahan. Perlu adanya ‘rekayasa kesadaran’ agar politisi lebih tertib, berwawasan kebangsaan, toleran, mengerti betul keberagaman. Lalu mereka menjadi terdepan dalam memberi contoh, sebab keramaian ruang publik kita sekarang masih terperangkap dengan retorika dan pesta.

Lebih banyak sensasi daripada esensi, itulah kira-kira yang ikut menarik mundur peradaban demokrasi kita, pencerdasan sesama politisi masih lemah akselerasinya. Tiap-tiap politisi merasa paling pintar, paling tau menyampaikan pidato, paling paham cara memenangkan pertandingan, dan seterusnya persairangan yang sebetulnya kurang tepat dicontohi.

Politisi baru disebut politisi jika mampu melahirkan politisi yang berkualitas diatas dirinya. Aspek regenerasi dan perkaderan dalam politik harus dirawat dengan pendidikan berkualitas, bukan malah politisi merasa berhasil bila dirinya meraih jabatan yang diburunya. Tidak sebatas itu, filosofi Sam Ratulangi ini diamalkan politisi dengan berfikir benar lalu bertindak benar. Bukan kompromi dengan kebatilan, berdiam diri ditengah kedzoliman rakyat tengah dipertontonkan. Alternatif dari ‘kekacauan’ politik Nasional ialah lahirnya para politisi daerah yang beradab, berintegritas, konsisten, populis, pluralis, dan futuristik.[***]

 

 

_______________________

Penulis Amas Mahmud, S.IP Sekretaris DPD KNPI Manado

iklan1
iklan1