INTEGRASI PEMUDA, KONGRES KNPI DAN KEHADIRAN JURU DAMAI

Ketua Umum DPP KNPI, Muhammad Rifai Darus (Foto Suluttoday.com)

KEMAJUAN merupakan diksi yang selalu kita temui, ia semacam destinasi bagi kita dan korelatif dalam tiap kali kita bicara perjuangan pemuda. Ungkapan kemajuan merupakan kata merdu, tapi perubahanlah penggeraknya dan perubahan memiliki banyak musuh. Dari semangat ini pemuda harus kokoh menegaskan keberadaannya, memperkuat identitasnya, dinamis, punya spirit perjuangan yang bergelora.

Di tahun 2016 tema Sumpah Pemuda ‘Pemuda Indonesia Menatap Dunia’, memberi gambaran bahwa pemuda di Negara ini harus menyiapkan dirinya, tidak menjadi pengikut. Kemudian tema ‘Pemuda Berani Bersatu’ merupakan tema Sumpah Pemuda di tahun 2017 yang lebih memfokuskan pada soliditas internal pemuda, membangun semangat persatuan. Setelahnya kini di tahun 2018 tema Sumpah Pemuda ke-90 mengangkat tentang ‘Bangun Pemuda Satukan Indonesia’.

Sebetulnya tema-tema universal yang dipilih pemerintah Jokowi – Jusuf Kalla tidak hadir sendiri.  Namun melalui diskusi, refleksi dan aksi nyata dari pikiran-pikiran cemerlang jajarannya, terutama Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Tepatnya di Aceh, tanggal 6 – 9 Desember 2018 KONGRES Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) akan dilaksanakan Dewan Pengurus Pusat (DPP) KNPI dibawah kepemimpinan Muhammad Rifai Darus, Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Sirajuddin Abdul Wahab.

Narasi besar KNPI tentang saatnya Pemuda Bekerja hingga Pemuda Indonesia Bersatu menghiasi dinding Sekretariat KNPI, sudut Kota sampai ke pelosok Desa, di depan Sekretariat juga kita temui tulisan-tulisan bernas tersebut. Spiritnya bukan sekedar pemuda pamer atau sedang dagangan ide progresif, obral harapan, lalu gagal dalam manifestasinya, tapi bagaimana kita menggantung gagasan besar itu dan membumikannya. Dilain sisi, bukan pemuda namanya kalau tak memiliki mimpi (harapan), rendah mental perjuangan, takut mengekspresikan pandangannya.

Seluruh tagline bukan untuk diperdebatkan, bukan pula festival ide tersebut akhir menjadi problem dan melahirkan resistensi, ayo kita periksa. Tugas kita mengkonstruksi ulang komitmen pemuda yang mulai tercerai-beraikan, agar menjadi nafas perjuangan kita, selaras dalam harmoni pembangunan. Pemuda memerlukan keseimbangan antara visi atau diskursus dengan alam nyata, cukuplah kita memetik pengalaman pahit tentang kapitalisasi janji-janji manis, barter kata-kata yang sering kali dipertontonkan politisi, yang akhirnya cacat (prematur) dan tidak utuh dalam wujudnya. Jangan pula mengecilkan KNPI dengan melakukan setting sektoral, menjadikan KNPI berada dibawah taktis kendali partai politik tertentu. KNPI harus benar-benar berperan sebagai rumah besar pemuda yang produktif.

Kongres KNPI di Aceh seharusnya menjadikan persatuan sebagai desakan utama pemuda, integrasi wajib dilahirkan. Menjadi betul-betul pengikat simpul pemuda, ya persatuan itu simbolnya kita pemuda, sebagaimana tema Sumpah Pemuda kali ini. Bukan sekedar orasi-orasi politik diatas podium, lantas sesudahnya tidak ada tindaklanjut. Kongres harus mereduksi adanya polarisasi pemuda, praktek politik transaksional di saat hajatan Kongres kita harapkan tidak ada lagi. Kongres tidak sekedar menjadi vocal poin, tapi menjadi titik balik (the turning poin) untuk mengintegrasikan pemuda, lalu kita bergerak secara kolektif.

Tak ada lagi dualisme KNPI, apalagi lebih dari itu. Kongres pemuda harusnya menjadi penyatuan (unification), disinilah dibutuhkan para pemuda yang bijak dan saling legowo, futuristik, tahu menempatkan kepentingan personal dengan kepentingan publik. Bila kita ragu atau curiga pada kualitas dan kapasitas pemuda di KNPI rasanya tidak tepat, tidak realistis, karena banyak aktivis KNPI mempunyai kemampuan intelektual diatas rata-rata. Mereka para senior-senior hebat, yang dari ucapan dan perilakuknya kita belajar dari sana. Setidaknya, kerisauan pemuda tentang makin merosotnya persatuan pemuda dapat terjawab dalam Kongres di Aceh dengan hadirnya seluruh pemuda, kita terintegrasi.

Selain itu, yang dibutuhkan Negara ialah pemuda yang jujur, iklas, punya moralitas, mau bekerja dan saling menghargai pluralitas. Kita sebetulnya tidak membutuhkan retorika yang berlebihan untuk membangunan pemuda, cukup dengan kejujuran dan niat membangun wadah KNPI tanpa embel-embel kepentingan terselubung, itu saja kebutuhan kita sesungguhnya. Kongres di Aceh menjadi jembatan penghubung silaturahmi akbar pemuda, bukan saling unjuk gengsi dan wibawa, lalu terjebak pada adu kepentingan parsial. Kongres selain diwarnai dialektika intelek, kita juga harus sukses melahirkan pemimpin yang punya grand narasi dan grand strategi demi memajukan KNPI serta bangsa Indonesia kedepannya.

Rekonsiliasi Pemuda, Sebuah Agenda Mendesak

Presiden Jokowi tidak boleh sama sekali berdiam diri, menutup mata atau berpura-pura tuli atas pecahnya organisasi kepemudaan KNPI. Akan menjadi catatan tambahan bagi pemerintahan hari ini, bila Kongres di Aceh mengabaikan kebersamaan semua pemuda tanpa sekat diskriminasi. Tak ada lagi distingsi pemuda, sebab pemuda tak ada yang istimewa entitasnya, merasa seuperior dan menjadikan yang lainnya inferior.

Jangan lagi mencoreng mulianya jabatan pemerintahan Jokowi – Jusuf Kalla, mereka begitu dielu-elukan pemuda. Menjadi idola semua komponen rakyat Indonesia, sehingga momentum Kongres ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan hari ini. Presiden Jokowi bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla harus hadir membuka hajatan akbar pemuda di Aceh, jangan bersembunyi dan berdiam diri ditengah konflik pemuda yang kian menyeruak, mengeras dan melahirkan makin banyak faksi. Patut dicatat, pemuda adalah miniatur Negara, bila pemudanya terbelah, maka terbelah pula Negara.

Tema pemuda bersatu memerlukan tafsiran konkrit berupa role model guna memberi teladan sikap, ai akan menjadi preseden buruk jikalau Jokowi – Jusuf Kalla memilih tidak hadir pada Kongres pemuda di Serambi Mekkah ini. Ingat, pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan, apalagi Kongres KNPI ini menghadirkan seluruh perwakilan pemuda seluruh Kabupaten/Kota dan Provinsi di Indonesia. ‘KNPI yang terbelah’ sampai-sampai Sekretariat DPP KNPI tak ada fungsinya perlu dikembalikan peran itu, langkah kecilnya Kongres patut melahirkan juru damai yang diterima semua Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP).

Pemerintah tidak boleh melewatkan kesempatan emas tanggal 6 – 9 Desember 2018 ini, harus berhasil mengakomodasi kepentingan pemuda. Di serambi Mekkah (Aceh) pemuda Indonesia harus disatukan, caranya tak lain yakni pemuda dari berbagai daerah di Indonesia ini berkomitmen dan berdiri tegak diatas kepentingan pemuda. Tidak etis jadinya bila saya berlebihan memberikan ‘ceramah’ yang akhirnya akan ditafsir mendikte kebijakan pemerintah. Jangan beri kelonggaran atas munculnya heterogenitas organisasi yang bernama KNPI, cukup satu KNPI saja.

Biar saja kemajemukan (heterogenitas) itu menjadi sunnatullah bagi manusia secara universal, dan melekat pada konteks sosiologis. Jangan lagi batin pemuda dan kenyamanannya diusik dengan ketidaktegasan pemerintah, karena kami pemuda yakin betul pemerintah Jokowi – Jusuf Kalla punya kelamin memimpin. Punya gen kepemimpinan, itu artinya sikap inkonsisten, apatis dan ambigu bukanlah tipikal kepemimpinan hari ini.

Marwah pemuda memang sedang surut, harus digapai lagi. Itu sebabnya, pemerintah harus ikut menetralkan, merekonstruksi, merangkul, hadir untuk memberi islah, bukan memukul. Fase ini menjadi begitu strategisnya, kita pun sudah punya bekal pengetahuan sebenarnya walau seadanya, dimana banyak potret gerakan pemuda telah kita baca, dan semua menjadi pengalaman bagi pemuda agar lebih terbangun pikirannya. Mampu melakukan penjernihan pandangan atas adanya infiltrasi pikiran-pikiran sesat tipu muslihat pada pemuda sehingga maunya terpecah-belah yang telah terkontaminasi dengan politik pragtis.

Akhir kata, harus ada sosok juru damai di Kongres KNPI. Seyogyanya dia merupakan figur yang diterima semua pihak, track recordnya jelas, berintegritas, futuristik, inklusif, karena KNPI bukanlah wadah atau perkumpulan pemuda khusus para agamawan, bukan pula organisasi kerajaan yang meletakkan kedudukan kekuasaan berdasarkan warisan turun-temurun. Sehingga menjadi etis dan lumrah jika rotasi kepemimpinan di KNPI tidak sekedar dirancang secara inklusif, tapi diaktualisasikan melalui semangat yang dinamis.

Pemuda membutuhkan pemimpin yang tuntas wawasan kebangsaannya, punya jiwa rekonsiliatif, toleran, menghargai perbedaan pikiran, pemimpin yang plural dan diterima semua pihak. Bukan sekedar pemimpin yang tampil dengan fanatisme buta, bermental koruptif, senang berjanji tapi tidak menepatinya, menyasar jabatan lalu memperkaya diri di KNPI. Perlu diingat kekuasaan di KNPI jangan dirampok untuk kepentingan selicik itu, KNPI tidak mewadahi generasi muda yang berjiwa destruktif. Ia pemimpin yang fleksibel tapi memiliki prinsip, pintar beradaptasi, berfikir global, tidak alergi dengan kritik, akomodatif, menumbuhkan semangat kritik-otokritik dan tidak anti-pati terhadap satu kelompok organisasi atau agama tertentu.

Ketua Umum DPP KNPI, Muhammad Rifai Darus saat sambutan (Foto Suluttoday.com)

Kiranya juga dengan agenda Silaturahmi Nasional Komite Pemuda Indonesia (SILATNAS KNPI) Kabupaten/Kota se-Indonesia yang akan dilaksanakan di Gumati The Real Resort & Hotel, Sentul Bogor Jawa Barat yang dijadwalkan tanggal 2 sampai 4 Desember 2018 ini melaharikan konsensus bersama bagi pemuda untuk mengkonsolidasi diri jelang Kongres di Aceh. Dengan ‘gerak awal’ seperti itulah soliditas gerakan pemuda akan punya ukuran kualitas yang mumpuni. Kongres KNPI di Aceh tidak sekedar sukses pelaksanaannya tapi bagaimana mengorbitkan pemimpin yang dapat menyatukan pemuda sekaligus menjadi juru damai bagi pemuda Indonesia.

SILATNAS hendaknya menjadi media dan penghubung atas keberlangsungan ide. Dimana SILATNAS ini berperan sebagai titik temu, jembatan pengubung bukang jebakan atas grand besar pembangunan peradaban KNPI, bukan pula SILATNAS Bogor menjadi ‘pintu masuk’ mewujudkan konspirasi ditengah para pemuda atau pengkondisian. Satu lagi ikhtiar kita adalah usaha keras pemuda melepas diri dari jebakan intervensi pemerintah, biarkan saja posisi KNPI sebagai wadah kontrol kebijakan pemerintah yang partisipatif dan kritis, jangan dibungkam nalar sehatnya KNPI. KNPI jangan diseret atau terseret pada kepentingan Paslon Presiden tertentu yang membuat embrio perpecahan KNPI terus tumbuh.

KNPI Rumah Besar Pemuda

Layaknya rumah KNPI harus dibangun diatas fondasi yang kuat, posisi berdirinya tidak boleh diatas tanah yang miring, apalagi diatas gunung atau tebing. Itu sebabnya reposisi KNPI perlu menjadi perhatian kita semua, Kongres di Aceh harus menjadi momentum kita bersama dalam mengalokasikan gagasan, menghibahkan pikiran untuk pembangunan pemuda secara berkelanjutan. KNPI perlu dengan serius dijadikan sebagai rumah bersama pemuda, sehingganya kondisi internal yang kondusif perlu diwujudkan.

Jangan dulu berharap lebih, atau terlampau memasang target tinggi atas sebuah transformasi KNPI bila kita mengabaikan situasi internal KNPI. Perubahan itu harus diawali dari rekonsiliasi internal, setelahnya semua urusan-urusan besar dan strategis di Negara ini akan lebih enteng dicarikan solusinya oleh KNPI. Tarung kepentingan (conflict of interest) antara sesama pengurus, sesama pemuda kini perlu dikanalisasi, tidak relevan lagi pemuda dibenturkan antara sesamanya, kita punya agenda mendesak untuk perubahan Indonesia lebih maju, beradab dan berdaulat kedepan.

Kongres KNPI di Aceh wajib melahirkan rekomendasi untuk kemajuan pemuda dan kemajuan Indonesia. Bukan menarik mundur posisi pemuda yang dikenal moralis, menjadi sekedar pragmatis oportunis, kita tidak selesai pada barter kepentingan sesaat, melainkan mampu menelorkan visi besar Indonesia berkemajuann. Bukan hanya menargetkan atau menyasar siapa yang menjadi pengganti Bang Rifai Darus, tapi bagaimana melanjutkan ide atau program besar perubahan pemuda itu maksudnya Kongres ini dilaksanakan. Akhir kata, keselarasan dan kesinambungan figur yang dipercayakan memimpin KNPI kedepannya dan sejumlah rekayasa ketokohan yang kita lakukan layaknya sejalan dengan konsep yang dibawanya.

Itu semua harus harmoni dan sesuai yang dikehendaki atau yang dibutuhkan pemuda. Tidak boleh bertolak belakang dengan visi melanjutkan dan mengoptimalkan perjuangan pemuda yang telah direpresentasikan KNPI, seleksi kepemimpinan di KNPI kedepannya patut melihat figur yang tepat untuk diberi amanah besar. Kongres bukan forum adu mujur, apalagi forum ‘judi’ sehingga para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berbondong-bondong mencalonkan diri sebagai Ketua Umum untuk mengadu nasib, yang peling pentingnya adalah niat dan kesungguhan membangun KNPI dengan visi-misi yang jelas. [***]

 

 

______________________________________

Catatan Amas Mahmud S.IP, Sekretaris DPD KNPI Manado

iklan1
iklan1