Archive for: Mei 2019

GSK Eksis di Kegiatan GMIM

Tim CCA GSK bersama Ketua Komisi Pelayanan PKB Sinode GMIM (FOTO Ist)

KALAWAT, Suluttoday.com – Usai dua remaja dari jemaat termuda GMIM membuktikan eksistensinya, giliran Pria Kaum Bapa GMIM Sobat Kristus (GSK) menyatakan akan eksis di tingkat wilayah maupun sinode. Hal tersebut ditegaskan oleh Penatua Pria Kaum Bapa (PKB) GSK, DR Welly Waworundeng sebelum melepas tim dalam pelaksanaan Hari Persatuan PKB GMIM di wilayah Kalawat Dua Kabupaten Minahasa Utara, Jumat (24/05/2019).

“Tahap awal belum ada target yang terlalu tinggi, selain turut bersama memuliakan nama Tuhan Yesus, kami hanya memperkenalkan bahwa ada jemaat GSK dilingkup GMIM,” ujarnya.

Bahkan pernyataan Waworundeng ini nyaris sama dengan ucapan Ketua Komisi Pelayanan PKB Sinode GMIM, DR GSV Lumentut yang berkesempatan berdialog dengan tim cerdas cermat Alkitab GSK di GMIM Moria Kolongan.

“Oh ini jemaat ke-979, bagus sudah langsung eksis, semangat,” ujar Lumentut kepada manajer tim, Caesar Tombeg.

Seperti diketahui bahwa jemaat GSK yang ditabiskan akhir November 2019, dalam pelaksanaan Hari Persatuan PKB GMIM mengikuti sejumlah lomba seperti gerak jalan, baca Mazmur, CCA seria B, Solo, dan lari karung.(cat)

Pemilu, Delegitimasi, Kekerasan, Hoax dan Narasi Politik

Amas Mahmud, potret demokrasi Indonesia (FOTO Suluttoday.com)

PALING tidak semua orang yang merayakan demokrasi mengharapkan adanya penghargaan atas pendapat masing-masing. Mereka enggan menerima perlakukan diskriminasi, menolak tindakan monopoli, penguasaan yang berlebihan dan penindasan. Sekedar kita potret dinamika Pemilu Serentah tahun 2019 yang sedang menanti pengesahan hasil, yang buram kita berusaha menerangi objeknya sehingga menjadi genuine.

Kini tahapan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) sedang digulirkan setelah pembacaan hasil perolehan suara Capres Republik Indonesia dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tidak bermaksud meniadakan dugaan kecurangan Pemilihan Umum (Pemilu) yang sementara dipolemikkan paslon Capres tertentu, konsen kita membangun demokrasi dengan menghindari kecemasan. Karena kecemasan hanyalah melahirkan keraguan publik.

Soal ada pihak yang mendukung atau menolak hasil Pemilu, dalam konteks demokrasi kita merupakan hal yang lumrah. Begitu pula yang berkaitan dengan demo massa unjuk rasa karena ketidakpuasan atas dalil tertentu, juga adalah hal lazim dalam nalar demokrasi kita. Yang menjadi luar biasa itu, bila perbedaan pendapat dianggap tabu. Seyogyanya melalui perbedaan pendapatlah elemen, sendi-sendi serta nafas demokrasi kita terwujud, tak boleh perbedaan aspirasi dikekang.

Apalagi dengan cara-cara represif. Demokrasi kita harus membawa iklim dan berkah yang positif untuk seluruh alam, bukan menjadi konsumsi komunitas. Jangan batasi demokrasi pada kanal yang sempit, berujung ke penyanderaan aspirasi publik. Kurang tepat rasanya manakala isu-isu dalam kemeriahan pesta demokrasi dikapitalisasi untuk kepentingan mendiskreditkan antar sesama pelaku demokrasi. Kita ingat betul, kekerasan dan intoleransi bukanlah anak kandung demokrasi.

Konsekuensi dari demokrasi yang penuh ramai retorika ialah lahirnya delegitimasi terhadap lembaga penyelenggaraan Pemilu. Pembenaran dan upaya saling menyudutkan dari para politisi terkait siapa dalang yang mendorong delegitimasi lembaga penyelenggara Pemilu menyeruak, tak tau siapa?. Saling mencari kambing hitam. Baik Capres petahana maupun yang non-petahana juga punya kepentingan yang sama dalam mengemas, mengolah dan menanggapi isu tersebut.

Untuk menggapai substansi demokrasi melalui demokrasi prosedural, maka pendekatan-pendekatan persuasif, edukatif dan literasi sangat dibutuhkan. Berat rasanya jika kita mengambil jalan pintas, menjalankan demokrasi dengan mengabaikan teriakan protes atau penyampaian pendapat dari komponen rakyat lainnya. Artinya, demokrasi kita begitu punya ruang mengakomodasi kepentingan semua pihak, nafas demokrasi itu terletak pada heterogenitas, bukan homogenitas.

Jangan sengaja kita kapling, kita belokkan spirit demokrasi pada urusan personal atau kelompok semata. Buka ruang seluas-luasnya bagi publik untuk memupuk nilai kolektifitas demokrasi dengan saling menghargai perbedaan pikiran. Demokrasi mengharamkan adanya pemimpin yang anti-kritik. Dari konseptualnya, demokrasi itu membanggakan kita semua karena menghargai nilai-nilai egaliter.

Semua rakyat dimata hukum setara posisi dan porsinya. Ini terdeskripsi melalui sistem Pemilu kita, satu orang satu suara. Baik dia pejabat, rakyat jelata, kaum milenial atau kaum tua, kekuatan politiknya sama, masing-masing punya satu suara dalam memilih. Realitas seperti itu mestinya mengilhami kita semua agar berfikir sejalan dengan apa yang menjadi hak kita dalam alam demokrasi, tidak ada satu makhluk di era ini yang superior dan kebal hukum.

Dalam hal supremasi hukum pun keberadaan kita sama. Hanya saja perlakuan-perlakuan spesial, standar ganda sering kita temui dari oknum yang tidak sadar mengamalkan hakikat demokrasi, sehingga menjadi congkak. Merasa dirinya lebih istimewa. Pada level interaksi sosial juga sama, dari sisi strata sosial tak ada distingsi. Dimana rakyat punya pranata sosial yang hendaknya menjadi acuan, kiblat, rujukan hidup yang diyakini benar dalam ruang keberagaman.

Tiba pada ujung cerita demokrasi tidaklah mudah, kita melewati rentetan insiden kekerasan. Aksi reaksi terjadi, bergerak melalui jalan asumsi, analisis, argumentasi lalu kemudian lahirlah akomodasi kepentingan, itulah komposisi demokrasi kita. Konteks ini membuat desain demokrasi kita tidak kaku, tidak pasif, melainkan aktif dan dialogis sifatnya. Detak jantung demokrasi yang bergerak itu tak boleh sekali-kali dihentikan dengan intimidasi atau intervensi dari siapapun.

Kecuali dinamika yang demikian melahirkan ancaman berupa tindakan makar. Demokrasi tanpa demonstrasi akan menjadi hambar, biarlah demonstrasi dihidupkan sebab itu sarana dan saluran penyampaian pendapat. Secara psikologis pendemo hanya menghendaki aspirasinya diterima, apa yang menjadi tuntutan mereka ditindaklanjuti. Tidak lebih dari itu, bukan oknum aparat malah curiga, lalu melakukan semacam blokade. Bersikap tidak sewajarnya, dengan menakut-nakuti, apalagi menembaki rakyat yang menggelar demonstrasi. Kontestasi demokrasi bukan terbatas digaris sirkulasi kepentingan elit.

Tragisnya, dari demokrasi kita mengalirlah hoax, mereduksi kebenaran. Dimana hoax merupakan berita bohong, sesuatu yang belum tentu benar dipublikasi menjadi seolah-olah benar, sehingga sering kali melahirkan provokasi. Kita akhirnya dibawa ke fase post-truth, artinya post-kebenaran atau manusia menjadi mempercayai opini. Sesuatu yang melampauan kebenaran dijadikan kebanaran, dari situasi inilah ruang relatifisme akan bangkit.

Asal-usul informasi hoax, berpotensi juga dilakukan pihak pemerintah, pihak swasta atau kelompok berkepentingan. Sukar rasanya disimpulkan secara mutlak penyebar hoax ini dilakukan satu kalangan tertentu saja, bukan murni dilakukan kelompok yang anti pemerintah secara tunggal. Kemungkinan terjadi ada peternak hoax yang dilindungi atau dipelihara pemerintah. Makanya, harus selektif mendeteksi siapa pelaku penyebar hoax baru menarik kesimpulan. Jangan menghentikan hoax, dengan memperpanjang kehidupan hoax.

Kita pasti merekam dalam memori kolektif, dari pertumbuhan percakapan-percakapan di ruang publik membuat tema-tema politik begitu tinggi marwahnya. Ragam narasi politik yang dihasilkan pula, sayangnya kedalaman narasi tersebut sering tidak sejalan dengan aktualisasinya. Narasi politik itu ada yang konstruktif, ada pula yang destruktif. Pro vs kontra dalam politik telah menjadi skema yang biasa dalam ruang-ruang kompetisi politik, tergantung bagaimana kita mengisi semua dialektika publik tersebut.

Politik bisa dianggap true story, dilain pihak bisa dikisahkan sebagai cerita yang tidak benar. Bermacam anggapan soal politik yang bertujuan positif merupakan jalan berfikir yang benar, walau kadang muncul pula citra buruk terhadap politik yang disepadankan hanya dengan hal-hal buruk. Praktek curang, saling tikung dan intrik politik dianggap sebagai jalan mutlak dalam berpolitik, padahal itulah kekeliruan dalam praktek politik sebetulnya. [***]

 

___________________________

Catatan Amas Mahmud, S.IP, Redpel Suluttoday.com.

BLK Bitung Gelar 15 Paket Pelatihan Berbasis Kompetensi

Pembukaan kegiatan berbasis kompetensi (FOTO Ist)

BITUNG, Suluttoday.com – Tunjang kualitas calon tenaga kerja, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Bitung menggelar pelatihan berbasis kompetensi. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Utara, Ir Erny B Tumundo MSi Kamis (16/05/2019) mewakili Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey SE tersebut menyediakan 15 paket pelatihan berbasis kompetensi.

Dalam sambutannya Tumundo menjelaskan bahwa 240 siswa nantinya akan mendapatkan sertifikat yang mempermudah dalam mendapatkan pekerjaan. Dan ini merupakan target dari program menunjang Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan.

Lebih lanjut Tumundo menegaskan bahwa pihaknya dalam masa pelatihan juga telah bekerjasama dengan sejumlah perusahaan sebagai tempat praktik kerja para siswa didik. Lebih lanjut ditambahkan Kepala BLK Bitung Rahel Ruth Rotinsulu SSTP MSi bahwa peserta dilatih di dua tempat yakni di BLK Bitung dan di BLK Tondano.

Rotinsulu juga menegaskan bahwa sebagai pendukung program pengurangan pengangguran siap menjadi wadah yang merupakan pemasok calon tenaga kerja yang handal, terampil dan kompeten.(cat)

Noortje Van Bone Diundang AHY, Kuatkan Komitmen Demi Partai Demokrat

NVB dan AHY (Foto Ist)

JAKARTA, Suluttoday.com – Sosok Noortje Van Bone atau yang akrab disapa NVB memang dikenal sebagai politisi perempuan yang mumpuni. Selain Ketua DPRD Kota Manado, Van Bone juga memegang tanggung jawab sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kota Manado.

Kali ini, NVB diundang berbuka puasa bersama AHY dan berdiskusi hasil pilcaleg 2019 Selesainya rekapitulasi hasil pilcaleg 2019 menjadi suatu momentum yang baik bagi partai Demokrat untuk tetap menjaga silahturahmi antar pengurus partai hal ini disampaikan langsung oleh ketua KOGASMA partai Demokrat Ayus Harimurti Yudhoyono (AHY).

”Pertemuan saya dengan Pak AHY membicarakan banyak hal soal kemajuan Partai Demokrat di Mando. Saya menyampaikan hasil dan strategi politik kedepan. Banyak hal yg didiskusikan berkaitan strategi partai dan rekonsiliasi partai yang dikemas secara kekeluargaan dikediaman AHY,” ucap Noortje.

AHY sangat antusias dengan kota Manado sehingga beliau berharap suatu hari nanti bisa hadir dimanado untuk berjumpa dengan kader-kader militan partai demokrat. Selain itu, AHY sendiri menerima kehadiran NVB di rumah pribadinya dan berbicara empat mata mengenai arah partai demokrat kedepan.

AHY menyampaikan agar jika ada kecurangan mari disampaikan sesuai dengan konstitusi yaitu lewat mahkamah konstitusi,sebagai seorang demokrat sejati kita harus menjaga alam demokrasi bangsa ini jadi jangan disalurkan dengan gerakan apapun yang diluar aturan ataupun konstitusi.

Menurut AHY, Partai Demokrat itu memiliki DNA sebagai partai yang mengutamakan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi maupun golongan dan Tidak pernah mau bermain dalam isu SARA karena akan menimbulkan pembelahan dan gesekan diantara rakyat indonesia.

”Terkadang kita harus siap berkorban demi bangsa ini sama seperti saya yang rela kalah di pilkada DKI daripada menggunakan isu Agama demi kemenangan krn nantinya akan justru menimbulkan keretakan dalam kehidupan bangsa ini,” kata politisi muda yang pernah menjadi calon Gubernur DKI Jakarta ini.

Selanjutnya, putra SBY ini menegaskan bahwa ditengah cobaan yang melanda ibundanya tercinta tak membuat dirinya gentar untuk mengurusi persoalan-persoalan dan agenda kebangsaan. Demokrat dikatakannya harus menjadi partai Nasionalis-Religius yang menjadi wadah berkumpulnya manusia-manusia Indonesia yang toleran dan humanis.

”Jadi sampai hari ini saya dan keluarga walaupun ditengah sakitnya ibu ani masih tetap memikirkan nasib rakyat kita makanya saya harap hasil pemilu ini dapat diterima semua pihak termasuk kader2 demokrat dan jika ada ketidakpuasan salurkan melalui mekanisme aturan yang ada,cintailah bangsa ini dan berdirilah diatas semua golongan,” ujar Calon pemimpin masa depan Indonesia tersebut.

Pertemuan selama hampir dua jam yang ditemani kue khas manado panada ini dirumah Ahy benar benar penuh keakraban dan di akhir pertemuaan Ketua kogasma ini berjanji akan berkunjung ke kota manado dan menyampaikan salam ke semua kader demokrat di Sulawesi Utara. (*/Redaksi)

Bersatu Tangkal Hoax, Ini yang Dilakukan Kaum Milenial di Sulut

Risat Sanger saat memaparkan materi (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Kepedulian yang tinggi dari kaum milenial di Sulawesi Utara (Sulut) untuk tujuan pembangunan patut diapresiasi. Kali ini bertempat di Hotel Ibis Manado City Center Boulevard, Kamis (9/5/2019) kaum milenial ini berdiskusi mengenai cara memberantas hoax, mereka sepakat hoax harus ditangkal dan diberantas.

Melaluikegiatan yang dirangkaikan dengan buka puasa tersebut menghadirkan dua narasumber berkompeten yaitu Stenly Karouw, Dosen Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado, dan Jaringan Aktivis Mahasiswa Sulut. Stenly Karouw mengatakan cara yang paling ampuh melawan hoax adalah perbanyak konten kebaikan.

”Harus diperbanyak konten kebaikannya, tapi bukan konten pencitraan ya,” ujar Stenly.

Stenly memuji keaktifan sosial media dari Humas Polri yang memberikan konten kebaikan dengan cepat. Salah satu sosial media yang sering digunakan oleh Humas Polri yakni twitter. “Twitter itu bagusnya tidak ada sistem terkunci sehingga lebih cepat menginformasikan sesuatu hal yang baik,” ujarnya. 

Kaum milenian Sulut ketika mengikuti materi (FOTO Suluttoday.com)

Tidak hanya itu, Stenly menyarankan agar institusi-institusi jangan hanya memberi informasi sebatas pencitraan saja. Narasumber kedua dalam kesempatan itu, Risat Sanger juga mengimbau agar kaum milenial cermat dalam menerima informasi dan menyampaikan informasi.

”Kami menghimbau agar generasi muda Sulut tidak gegabah saat dapat informasi ini dan itu. Cari kebenaran informasinya dahulu supaya diri sendiri tidak jadi pembuat masalah, karena telah menyebar sesuatu yang salah,” kata Risat jebolan FISPOL Unsrat Manado ini.

Stenly Karouw memaparkan materi (FOTO Suluttoday.com)

Lanjut Bung Icad sapaan akrab Sanger, bahwa kaum milenial harus jadi motor perubahan, salah satunya adalah memberantas hoax. Di akhir acara, semua yang hadir mendeklarasikan tiga poin penting. Tiga poin itu ialah pertama mendukung sikap profesional KPU dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum 2019. Poin kedua sepakat menjaga bangsa Indonesia dari bahaya hoax. Dan yang terakhir yakni meminta TNI dan Polri menindak tegas sesuai aturan hukum kepada semua orang yang menyebar hoax.

Untuk diketahui, kegiatan ini digagas berkat kerja sama Komunitas kaum milenial yang berkumpul yakni Djakarta Community Generation, Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan, Komunitas Cyber Manado, Garda Tipikor Indonesia, dan Gerakan Anti Korupsi Perguruan Tinggi Sulawesi Utara. (*/Redaksi)

iklan1