Archive for: Juni 2019

Minahasa Kumantar Helat Minahasa Idol 2019

Amelia Pandelaki (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Sebuah komunitas di Minahasa merangkul generasi muda yang bertalenta dalam mengolah vokal di tanah Toar Lumimuut untuk menjadi yang terbaik di ajang spektakuler, Minahasa Idol 2019. Hal ini disampaikan perwakilan dari komunitas Minahasa Kumantar,  Amelia Pandelaki kepada media ini Sabtu (15/06/2019).

Diutarakan Pandelaki bahwa untuk mengikuti kompetisi ini, peserta harus berusia 16 tahun  hingga 35 tahun baik pria maupun wanita. Dimana peserta akan melewati tahapan seleksi mulai dari audisi yang sudah dihelat Sabtu (15/06/2019) di wilayah Minahasa Selatan.

Audisi sendiri akan berlangsung hingga 20 Juli mendatang dan lokasi audisi tidak hanya di wilayah Minahasa Selatan tapi tiap akhir pekan berpindah tempat ke wilayah lainnya. Selanjutnya, wanita cantik ini menjelaskan tahapan lain setelah audisi adalah eliminasi dan grand final.

Bagi yang beruntung bakal mendapatkan uang tunai jutaan rupiah dan tropi serta piagam. Untuk selengkapnya, calon-calon peserta yang menyakini bersuara merdu bisa memperoleh informasi pendaftaran dan lokasi audisi berikutnya dengan menghubungi Aldo di nomor 0852393615497, Ronny (081250035604) , dan Stevi (082393596590). (cat)

PMHU Sulut Tagih Janji Bupati Halmahera Utara

Pengurus PMHU Sulawesi Utara saat pertemuan dengan Bupati Halut (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Seperti itu, kira-kira terpantau sekilas bahwa janji tinggal janji yang belum mampu direalisasikan pemerintah daerah Halmahera Utara (Halut) Provinsi Maluku Utara (Malut) kepada para mahasiswa. Kali ini janji untuk membangun fasilitas Asrama mahasiswa kepada warga Halut yang studi (kuliah) di Kota Manado, atas janji yang mangkrak itu para mahasiswa Halut dan senior angkat bicara.

Organisasi Persatuan mahasiswa Halmahera Utara atau biasa di sebut PMHU Sulut, sebagaimana penuturan Budiyarto Usman, selaku Sekretaris Umum Periode 2013-2014 bahwa pada tanggal 13 Juni lalu 2017 pihaknya melaksanakan Buka Puasa Bersama bertempat di Hotel Aston Manado.

”Iya, acara tersebut di hadiri oleh Bapak Bupati Halut Ir. Frans Manery dan Wakil Bupati Muchlis Tapi Tapi, serta stekeholder lainnya. Disela-sela Buka Puasa Bersama, Pak Bupati memberikan wejangan dan sambutan, beliau menjelaskan peran mahasiswa dan kontribusi untuk daerah. Ia mengatakan bahwa pada tahun 2018 nanti saya akan memberikan Asrama mahasiswa yang berstatus kontrakan, tapi sampai saat ini dimana realisasinya,” ujar Budi sapaan akrab Usman.

Lanjut ditambahkannya, persoalan janji Pemda yang disampaikan Bupati di tahun 2017 lalu adalah mengadakan Asrama atau minimal Sekretariat yang sifatnya kontrakan untuk PMHU Sulut yaitu direalisasikan pada awal 2018 tapi kenyataannya janji itu tidak pernah direalisasikan oleh Pemda.

Sementara itu, Ketua PMHU Sulut, Stevi Punya mengatakan pihaknya menagih janji pemerintah Halut. Apa yang disampaikan Bupati merupakan hal yang harus dipertanggung jawabkan, baik kepada warga PMHU maupun kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

”Saya merasa bahwa Pemda telah melakukan pembohongan terhadap seluruh anggota PMHU- SULUT yg ada disulawesi utara dan menurut saya ini adalah tanggung jawab pemda halut yg harus direalisasikan krna persoalan asrama bkan hanya persoalan janji politik. Tapi ini merupakan tanggungjawab pemda halut dalam mewujudkan kesejahteraan pendikan dalam rangka mengembangkan SDM halut dan apapun alasan Pemda saat ini. Menurut saya hal ini harus dipertanggungjawabkan,” papar Stevi.

Dijelaskannya lagi, sampai saat ini mahasiswa Halmahera Utara yang berstudi di Manado masi melalang buana mulai dari berdirinya PMHU sampai saat ini belum ada gebrakan baru dari Pemda Halmahera Utara untuk mahasiswa yang ada di Manado khusus dan Sulawesi Utara pada umumnya.

Diakhir wawancara, Budyarto Usman juga menegaskan kalau mahasiswa Halut yang ada di Sulawesi Utara sangat banyak berkisar hampir 2000 secara kapasitas begitu banyak tapi sayang tidak mempunyai Fasilitas untuk membantu mahasiswa tersebut dalam proses belajar di kmpus dan smpai hari ini janji yang di uraikan secara manis Bupati hanya surga telinga belaka. (*/Redaksi)

Lawan Ancaman Integrasi Bangsa, DPM FISPOL Unsrat Gelar Bincang Ideologi

Renaldo Garedja disaat sambutan (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Dewan Perwakilan Mahasiwa (DPM) Fakultas Ilmu sosial dan ilmu politik (FISPOL) Universitas Sam Rarulangi (UNSRAT) Manado, menggelar bincang Ideologi bangsa (Diskusi) di sekretariat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) cabang Manado, Kamis, (13/6/2019).

DPM FISPOL Unsrat kali ini bekerjasama dengan Klinik Demokrasi dan Politik Himaju Pemerintahan Fispol unsrat melakukan diskusi yang bertemakan ‘Krisis Ideologi Bangsa di Era Visual’. Tema ini sengaja kami angkat karena melihat dari beberapa persoalan yang di hadapi bangsa kita Indonesia sekarang ini, sudah keluar dari of the track (tidak sesuai dengan cita-cita Pancasila).

Renaldo dalam sambutanya. Selain itu pula, maksud dari apa yang kami buat hari ini merupakan hal yang sifatnya menelaah kembali apa yang menjadi nilai-nilai dari Ideologi kita (baca Pancasila) sekaligus merefleksi kembali apa yang sudah menjadi konsesus bapak pendiri bangsa ini pada 74 tahun yang lalu (hari lahir Pancasila).

Berlangsungnya pemaparan materi (FOTO Suluttoday.com)

Lanjutnya, kegiatan tersebut difasilitasi oleh AIPI cabang Manado yang senantiasa mendorong kemajuan dan pengembangan ilmu pengetahuan baik di tingkat kemahasiswaan maupun organisasi pemuda lainya. Pada kesempatan ini, pengurus DPM Fispol Unsrat melantik pengurus Departemen Scientia.

”Perlu diketahui bahwa, departemen Scientia ini dibentuk bukan maksud untuk sekedar menjalankan apa yang sudah di amanatkan oleh Peraturan Organisasi (PO) DPM itu sendiri, melainkan kehadiran departemen Scientia ini merupakan langkah konkrit yang diambil para Dewan Mahasiswa Fispol Unsrat demi memajukan dan meningkatkan kapasitas intelektual manusia-manusia yang ada di kampus orange,” kata Ketua DPM FISPOL Unsrat, Renaldo Garedja.

Sekedar diketahui, Bincang Ideologi ini menghadirkan beberapa narasumber yang begitu expert dan secara kapasitas intelektual sangat-sangatlah memumpuni. Antara lain adalah; Dr.Valentino Lumowa, Haz Algebra, dan Amato Assagaf dari padepokan Assagaf. Kehadiran narasumber yang hebat-hebat ini sekiranya telah mampu membuka cakrawala berpikir peserta diskusi, pasalnya semua narasumber dengan lugas mengupas secara tuntas apa yang menjadi krisis ideologi kita pada saat ini.

Pelantikan Departemen Scientia oleh Ketua DPM FISPOL Unsrat (FOTO Suluttoday.com)

Pun ada beberapa rekomendasi pemikiran yang diberikan oleh para narasumber walaupun dalam diskusi kita diperhadapkan dengan pertengakaran-pikiran. Kegiatan yang dilaksanakan di sekretariat AIPI cabang manado, dan telah menghadirkan pemikiran-pemikiran yang kritis ini nyatanya di respon positif oleh bapak Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Dr.Steven O.E Kandouw.

“Luar biasa, berikut saya hadir,” ujar Ketua AIPI Cabang Manado singkat.

Pengurus DPM berharap, kiranya dari diskusi pada kamis kemarin ada outputnya bagi para kalangangan mahasiswa yang selaku agent of change dan agent of control social. Karena, mahasiswa adalah patron ketika dia duduk bersama-sama masyarakat nanti. (*/Redaksi)

Ketua DPW PAN Sulut Beri Sinyal Dukung Bang Toyib untuk Pilwako Manado

Eyang dan Bang Toyib (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak untuk 2020 mulai dekat. Hal tersebut membuat sejumlah politisi mulai masuk radar, terjaring dan digadang-gadang untuk maju dalam kontestasi Pilkada. Salah satunya, Faisal Salim Ketua BM PAN Kota Manado ini mulai terdengar namanya diorbitkan para generasi muda di Manado.

Faisal yang akrab disapa Bang Toyib ini juga mendapat restu dari Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) H. Sehan Landjar. Saat ditemui di Jalan Roda (Jarod) belum lama ini, Eyang sapaan akrab Landjar bersama Bang Toyib menyampaikan dukungannya pada kader PAN yang mendapatkan dukungan masyarakat untuk maju dalam hajatan Pilkada Kota Manado.

”Alhamdulillah saya mendukung penuh kader-kader PAN untuk maju bertarung di Pilkada Manado 2020. Salah satunya Faisal Salim yang saya dengar dielukkan warga untuk maju, ini menandakan bahwa kaderisasi di PAN berjalan dengan baik. Kita telah mampu mencetak kader-kader yang layak ditampilkan, bahkan masyarakat yang mengharapkan mereka ini maju dalam laga Pilwako Manado,” ujar Eyang tegas yang juga Bupati Boltim dua periode ini.

Bang Toyib usai mengisi ceramah bersama Bikers Subuhan (FOTO Suluttoday.com)

Untuk diketui posisi Partai, Partai Amanat Nasional Kota Manado memperoleh 4 Kursi di Legislatif di DPRD Manado. Berarti punya kekuatan politik yang kuat untuk diperhitungkan, hal itulah yang menurut Eyang patut mendorong kader PAN untuk berkompetisi secara sportif agar mendapat simpati masyarakat.

Ditempat terpisah, Bang Toyib ketika diwawancarai menyampaikan niatnya untuk maju bila dipercaya masyarakat. Pria yang dikenal sukses sebagai pengusaha properti itu mengaku akan terus memberikan solusi bagi warga Kota Manado dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta usaha keras mewujudkan keadilan.

”Cita-cita besar saya adalah bagaimana masyarakat Manado disejahteraan, diberikan keadilan, mereka hidup aman dan nyaman. Soal dukungan masyarakat ya?, bagi saya bila kehadiran saya untuk bertarung di Pilwako Manado sebagai Calon Wakil Wali Kota Manado diminta masyarakat, maka saya tidak akan menolaknya. Tentu tujuan mulianya ialah mengabdi kepada masyarakat. Itu akan saya emban, dan laksanakan secara tulus,” tutur Bang Toyib pada Suluttoday.com, Sabtu (15/6/201). (*/Redaksi)

CANTIK itu CANDU

Asterlita T Raha (FOTO Ist)

SEPERTI zat adiktif perempuan candu terhadap kecantikan, runduk sujud pada standar barat dan timur yang menjadi kiblat; tinggi, putih, mancung, kurus, rambut lurus, berbokong dan berpayudara besar sampai berbusana dengan aturan-aturan teologis. Semua itu merujuk pada perilaku yang dapat membangkitkan gairah seksual serta berlandaskan selera dan kepentinggan laki-laki.

Lalu perempuan menukarnya dengan mendapatkan sumber daya yang disediakan laki-laki, yaitu kesetiaan, pengakuan, pujian dan keterpesonaan bahkan uang. Sehingga menurut Naomi Wolf (penulis) bahwa kecantikan tidak lebih hanyalah mitos yang menindas perempuan.

Cantik sejak peradaban dini telah menjadi rebutan. Seperti arena tanding hampir seluruh perempuan dunia menjadi peserta, bertanding dengan sesamanya dan berlomba untuk memenangkan pujian laki-laki. Tak kala berbagai cara digunakan agar tidak menjadi keriput dan tua. Ketakutan terus menghantui sampai rela menggunakan berbagai treatment kecantikan yang meraih kocek fantastik hingga menahan sakit karena bagian tubuh tertentu dibedah dengan pisau.

Betapa perempuan kehilanggan subjektifitas diri dan menjadi liyan, misalnya dalam dunia industry fahsion, tubuh perempuan dijadikan objek strategi pemasaran. Di berbagai ruang publik, beberapa institusi mensyaratkan kecantikan bagi perempuan untuk menduduki posisi-posisi tertentu, konteks kecantikan dunia digelar serta turut melegitimasikan mitos. Perempuan terobsesi mengamalkan esesnsi kecantikan hingga melupakan bagaimana cara beriksistensi sebagai manusia. Kecantikan tidak lebih dari suatu system politik dan system pertukaran berdasarkan pada teretorial geografis.

Standar Cantik di Indonesia

Secara historis dan geografis, Indonesia punya cerita Panjang dalam memaknai arti kecantikan. Di pengaruhi oleh keberagaman budaya. Semenjak jawa kuno, kecantikan telah tergambar dalam kisah sastra Ramayana. Tokoh Sinta, istri Rama adalah wujud kecantikan perempuan. Berprilaku baik dan bercahaya laksana rembulan. Berbeda dengan keagungan perempuan dari suku Dayak yakni memiliki kuping yang Panjang, dan berbagai daerah lainnya yang memaknai atri kecantikannya.

Perempuan Halmahera tak terkecuali salah satunya suku Togale (Tobelo-Galela), zaman dulu standar kecantikan perempuan halamhera adalah melukis telapak tangan menggunakan warna merah (pewarna yang berasal dari alam) memakai konde dan sirir bermotif kura-kura serta menaruh bunga hijau di telinga, rambut Panjang dan menjaga kehalusannya menggunakan santang kelapa (galela; o jono) dan mengikatkan sabuk pinggang sebanyak 3 kali dan identik dengan saloi/palaudi atau keranjang anyaman yang terbuat dari rotan.

Standar pun berubah ketika era kolonial masuk ke Indonesia, makna kecantikanpun berubah mengikuti standar perempuan penjajah yakni perempuan Eropa. Dan pada masa inilah produk kecantikan di pedagangkan dan diiklankan melalui media. Kemudian berubah ketika fasisme jepang bercokol di atas tanah ibu pertiwi. Perempuan Nippon adalah standar sekaligus gambaran yang di muat dalam rubrik kecantikan yakni “Djawa Baroe”. Dan standar kecantikan terus berkembang hingga saat ini yaitu berkiblat pada perempuan timur dan barat.

Kala Kecantikan Menindas Perempuan

“Mengapa di negeri Mataram gadis-gadis cantik selalu bernasib malang?” tanya Jalu (tokoh dalam buku Gadis-gadis Amangkurat) kepada ibunya. Bagaimana tidak zaman kerajaan banyak perempuan cantik di jadikan selir para raja dan sampai kini industri ponografi dan prostitusi turut menjadikan kecantikan sebagai jualan. Perempuan yang dianggap cantik selalu rentan terhadap pelecahan dan misoginis.

Sampai penulis Eka Kurniawan menceritakan bawasannya “Cantik itu luka” dalam novelnya. Kini, pada revolusi 4.0 perempuan terus dirundung ketakutan terhadap penuaan dan terobsesi terus menjadi cantik. Media pun terus mengembar-gemborkan berbagai produk dan dunia fasion meraup keuntungan dan patriarki terus bernegasi, terus menempertahankan status qou dengan membuat perempuan berkutat pada urusan-urasan pakaian, make up, bentuk tubuh dll sampai lupa pada potensi dan kemampuan dirinya.

Kapitalisme terus melahirkan narasi kecantikan sebagai trend center fahsion sesuai citra produk lalu perempuan menjadi sasaran empuk pemasaran. Akhirnya, perempuan terus dipasung dan terpenjara pada mitos kecantikan. Sesungguhnya kecantikan bukanlah sesuatu yang nyata, hanya sebuah hasil imajinasi manusia. Sebab cantik di belahan bumi lain belum tentu sama “cantik” diatas pijakanmu. Kecantikan sesungguhnya adalah hasil eksistensi manusia, dengan memngembangkan seluruh potensi dalam dirinya dan disesuaikan dengan faktor geografis.

Di hadapan kecantikan laki-laki dan perempuan adalah sama-sama budak, defenisi kecantikan hanyalah mitos yang terus di ceritakan; laki-laki terus mengagumi kecantikan dan perempuan terobsesi untuk terus menjadi cantik (mengikuti selera laki-laki). Lalu sampai kapan mitos kecantikan terus membelenggu seluru aspek kehidupan, bagaimana caranya memampaui mitos tersebut? Kata Soe Hok Gie “ perempuan akan selalu berada di bawah laki-laki kalau yang di urusinya adalah baju dan kecantikan”.

 

____________________________

 Oleh : Asterlita T Raha, Aktivis GMKI Cabang Tondano 

iklan1