Generasi Y, Subjek Objek Atau Komoditi dalam Momentum Politik?

Boy Paparang, S.IP (FOTO Suluttoday.com)

GENERASI Y atau lebih akrab sering disebut sebagai Generasi Milenial, akhir-akhir ini sudah tidak menjadi sesuatu yang asing lagi ditelinga. Generasi yang Y adalah generasi yang lahir di era tahun 90-an. Disebutkan juga sebagai generasi milenial karena generasi ini adalah satu-satunya generasi di era modern yang melewati Milenium kedua tahun masehi.

Sejak teori generasi ini dihembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923, generasi Y secara psikologis adalah generasi yang memiliki pola pikir dan karakter yang terbuka dan penuh dengan ide-ide yang visioner hal ini di sebabkan tumbuh dan kembang generasi ini ada disaat Gadget, Smartphone dan semua fasilitas berbasis computer di tunjang denga perkembangan fasilitas Internet yang serba canggih mengakibatkan generasi ini dengan sangat mudah mendaptkan segala jenis informasi.

Pada Pemilihan Umum tahun 2019 yang telah berlangsung pada medio bulan April yang lalu, Penyematan kata ‘Milenial’ menjadi sesuatu yang sangat bersifat Politis untuk di bahas dan di perbincangkan bahkan hal ini sudah terjadi sejak di gulirkannya Tahapan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Anggota Legislatif jalur perseorangan.

Partai Politik dari tingkat Pusat, Provinsi dan daerah kabupaten/kota tahun 2018, bahkan yang terbaru Presiden Terpilih untuk periode 2019-2024 sekaligus Presiden Petahana mengatakan kepada Awak media bahwa beliau akan mengakat mentri-mentri yang bersal dari kalangan Milenial. Jargon-jargon milenial yang dibawa dalam ranah politik praktis ini menjadi santapan yang ditelan secara langsung oleh masyarakat awam yang terhipnotis dengan jargon Milenial dari pada para Politisi yang berkontestasi di Perhelatan Pemilihan Umum Tahun 2019.

Jargon ‘Milenial’ seolah menjadi sesuatu yang layak di agung-agungkan. Sebagai generasi yang menurut Karl Mannheim termasuk dalam Generasi Milenial atau Generasi Y, saya merasa tergelitik dan terdorong berpikir secara kritis untuk mencoba memetakan posisi Kaum ‘Milenial’ sebenarnya Berada Pada posisi yang Mana.? Apakah Milenial sebagai subjek atau objek dalam Momentum Politik? Atau bakhan kemungkinan ‘Milenial’ hanya di jadikan komoditas dalam momentum Politik?.

Tampilnya para politisi muda yang tentunya masuk dalam kelompok Generasi Milenial dalam berbagai kesempatan baik debat maupun pada kampanye-kampanye terbatas bahkan Rapat-rapat Umum yang di tampilkan baik itu melalui Media Mainstream maupun media-media Online menjadi sebuah Fenomena yang Multi tafsir apakah Milenial sudah mampu tampil dan merebut panggung politik dari Generasi Baby Boomers.

Dimana generasi ini adalah Generasi yang memiliki tipikal Feodal dan Anti kritik yang terjadi akibat Faktor lingkungan di mana mereka tumbuh dalam keadaan peralihan Pasca Perang Dunia ke II yang Penuh tekanan, atau malah sebaliknya generasi Milenial malah hanya menjadi objek, atau hal pelengkap utama yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada campur tangan Generasi ‘Tua’ Babby Bomers dalam Momentum Politik.

Dan Lebih Parahnya Lagi Jika Generasi Milenial Hanya di Jadikan sebagai Komoditas atau bahan untuk Jualan pada Momentum politik demi untuk mendapatkan keuntungan secara elektoral mengingat kelompok manusia Milenial memiliki jumlah yang cukup signifikan yaitu berada pada angka 27% dari keseluruhan masyarakat Indonesia yang terdaftar pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu Serentak 2019.

Angka tersebut tentunya jika mengacu pada sifat Milenial dari batasan usia yaitu dari 20-30 tahun, jumlah tersebut masih belum termasuk dengan dengan sifat Milenial dalam Batasan Pola pikir dan gaya hidup, karna perlu kita ketahui Milenial sudah menjelma bukan hanya menjadi kelompok berdasarkan batasan usia melainkan kelompok masyarakat dengan pola pikir dan gaya hidup yang modern.

Tulisan ini saya buat, untuk berbagi dan mengajak Kawan-kawan Generasi Milenial untuk bijak memposisikan diri, mengingat dalam waktu yang tidak terlalu lama yaitu tahun 2020 Kita akan di perhadapkan lagi dengan Suatu momentum politik Pilkada Serentak yang tentunya. Kita harus Menentukan pilihan secara bijak, dimana kepentingan generasi Milenial menjadi suatu keharusan dalam visi setiap Calon Pemimpin yang mengingat.

Apa yang akan di Programkan pemerintah pada periode 5 tahun kedepan memiliki dampak bagi periode berpuluh puluh Tahun kedepan, dan pada periode yang akan datang itu generasi Y memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan konstruksi berpolitik pada momentum politik bagi generasi Z bahkan Generasi Alpha. Untuk tercapainya keutuhan dan kesejahtraan bangsa Indonesia, karna sesungguhnya tujuan dari Politik adalah mulia yaitu kesejahtraan suatu bangsa secara seutuhnya. Bukan Kesejahtraan Segelintir atau Sekelompok Orang Saja. [***]

 

————————————————-

Boy Paparang, SIP, Alumnus FISIP Unsrat dan Pengurus DPD KNPI Sulawesi Utara

iklan1
iklan1