PRABOWO-PUAN DI 2024

Tulisan, DR Ferry Daud Liando dimuat Koran Harian Manado (FOTO Suluttoday.com)

DR Ferry Daud Liando

(Dosen FISPOL Unsrat)

Beragam spekulasi banyak pengamat terkait pertemuan Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri dan Parabowo Subianto pekan lalu. Ada yang menyambut positif karena berkaitan dengan rekonsiliasi lanjutan pasca pertemuan Prabowo dengan Joko Widodo yang belum berdampak pada keikhlasan menerima hasil Pilpres oleh sebagian kelompok. Sehingga polarisasi belum sepenuhnya teratasi. Ada juga yang berpandangan bahwa pertemuan dua sosok yang pernah berpasangan sebagai capres dan cawapres pada pemilu 2004 itu sebagai upaya penjajakan Gerindra untuk bergabung dengan gerbong pemerintahan.

Spekulasi itu dikait-kaitkan dengan deklarasi Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh terhadap Gubernur DKI Jakarta Anis Bawedan sebagai calon Presiden tahun 2024 nanti. Deklarasi itu dinilai sebagai bentuk reaksi atas kekecewaan karena jika Gerindra bergabung maka jatah menteri akan berkurang. Ada juga spekulasi pertemuan itu sebagai upaya PDIP mencari sekutu baru akibat memburuknya hubungan PDIP dengan tim koalisinya seperti PKB, Golkar, PPP dan Nasdem.

Selama ini elit-elit 4 parpol ini sering bertemu tanpa dihadiri perwakilan dari PDIP. Bisa saja semua anggapan itu benar, namun saya memiliki pandangan lain. Partai politik itu selalu dicirikan dengan kekuasaan. Mulai dari cita-cita kekuasan bagi para pendirinya, cara untuk mendapatkan, bagaimana kekuasaan itu dijalankan dan kemudian akhirnya ingin merebut kekuasaan itu kembali.

PDIP memang pernah berkuasa, ketika Megawati sebagai Wakil Presiden menggantikan Presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur yang diberhentikan MPR. Tentu target Megawati bersama PDIP tidak sekedar merebut kembali kekuasaan itu namun ada potensi Megawati ingin mengukir sejarah baru. Jika seorang presiden kemudian anaknya juga menjadi Presiden, tentu bukan peristiwa yang langka. Karena kondisi demikian sudah terjadi di sejumlah negara.

Seperti keluarga Bush di Amerika Serikat dan keluarga Gandhi di India. Namun jika Presiden turun ke anaknya lalu Kemudian sampai ke cucunya, tentu merupakan sebuah pristiwa langka di dunia. Jika asumsi ini benar, tentu di 2024 belum waktunya PDIP dan Megawati memaksakan anakannya Puan Maharani tampil sebagai calon Presiden. Hingga kini, Puan belum melekat nama besar sehebat ibunya yang pernah disimbolkan sebagai sosok pro demokrasi di penghujung kekuasaan orde baru.

Sehingga kekuatan elektoralnya masih perlu diasah dan masih membutuhkan waktu yang panjang. Tentu Megawati dan PDIP perlu mempersiapkan strategi sebelum pertandingan itu benar-benar dimulai. Peluang yang paling memungkinkan bagi Puan adalah menjajaki posisi wakil Presiden pada Pilpres mendatang. Tahun 2024, PDIP masih akan menjadi partai yang paling diincar para elit yang hendak berkompetisi. Syarat pencalonan kala itu akan menggunakan hasil pemilu tahun 2019 jika pemilu masih menggunakan UU pemilu yang digunakan tahun ini.

Pemilu tahun ini menempatkan PDIP sebagai pemenang dan tinggal butuh sejumlah kursi sebagai syarat parpol untuk bisa mengusung capres dan cawapres yakni 20 persen kursi jumlah anggota DPR hasil pemilu. Nama-nama elit parpol lain yang tergabung dalam koalisi pendukung Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, belum ada satupun yang dianggap menonjol dalam percakapan publik.

Maka tak ada pilihan lain bagi Megawati untuk kemungkinan akan melirik Prabowo Subianto sebagai capres PDIP pada 2024 nanti. Benar kata orang bijak bahwa dalam politik tidak kawan dan juga tidak ada lawan. Sekalipun pihak lain adalah musuh, namun sepanjang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri maka kelak musuh itu bisa dipandang sebagai kawan sejati. Dalam teori perang, Musuh dari musuh adalah kawan. Jika berkalkulasi, pasca Joko Widodo, belum ada satu elitpun yang bisa disetarakan dengannya selain Prabowo Subianto.

Pada pemilu 2019, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat 44,50 persen total suara sah nasional, atau 68.650.239 suara, sebuah pencapaian yang sangat bagus. Satu-satunya yang bisa menghambat Prabowo pada kompetisi Pilpres 2024 adalah soal usia. Saat itu Prabowo sudah memasuki usia 72 tahun, tentu bukan muda lagi. Namun di sejumlah negara, menjadi pemimipin negara, usia tidak menjadi hambatan.

Di negeri tetangga Malaysia, Mahathir Muhamad terpilih sebagai perdana menteri lewat pemilu pada usia 92 tahun. Pemilu 2020 di Amerika Serikat, Donald Trump sepertinya akan berhadapan dengan lawan berat. Trump akan ditantang Joe Biden, mantan Wapresnya Barack Obama. Jika terpilih Joe akan berusia 77 tahun. Selain itu ada juga Robert Gabriel Mugabe Presiden Zimbabwe yang berusia 94 tahun.

Belajar pengalaman dari negara lain, tentu bisa mendukung pencalonan Prabowo. Jika paket Prabowo dan Puan ternyata benar akan terjadi, maka pada Pilpres tahun 2029, merupakan puncak kematangan Puan. Jika PDIP berhasil mengantarkan Puan sebagai Presiden, maka trah 3 generasi kekuasaan keluarga Soekarno, akan tercatat dalam sejarah, bukan hanya di Indonesia tetapi sejara di seantero dunia. [***]

iklan1
iklan1