ERA KOLABORASI

Jusuf Sunya (FOTO Suluttoday.com)

Oleh : Jusuf Sunya

(Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Ternate)

Di Tahun 1960-an, John F. Kennedy menyatakan, “kepemimpian dan pembelajaran saling memerlukan satu sama lain”. Kennedy adalah presiden Amerika ke-35 dan berkuasa pada tahun 1961, kemudian dibunuh di Dallas, Texas 22 November 1963. Dia tipologi pemimpin dengan slogan yang membangkitkan spirit revolusioner, “Jangan tanya apa yang diberikan negara padamu, tapi tanyakan apa yang kau berikan buat negaramu”. Jauh sebelumnya ungkapan ini aslinya disampaikan oleh Marcus Tullius Cicero, seorang tokoh Romawi kuno kelahiran Italia 3 Januari 106 SM yang kemudian mati terbunuh juga pada 7 Desember 43 SM.

Masa hidup antara Cicero dan Kennedy sangat jauh. Mereka berdua adalah pemimpin pada zamannya. Spirit kepemimpinan mereka menjadi cikal perubahan dan perkembangan dunia saat ini. Dunia berubah dan berkembang sejalan dengan lompatan-lompatan teknologi, jauh meninggalkan pertarungan ideologi. Teknologi melahirkan perubahan fisik dan berkembang pesat – sementara ideologi adalah matra dinamis tetapi statis sifatnya. Karenanya Peter F. Drucker, mengungkapkan, “kepemimpinan bukan soal pidato yang membuat kita disukai – kepemimpinan adalah soal mencapai hasil”.

Makna utama kepemimpinan itu bukan hanya sekedar unsur genetik seseorang, tapi kepemimpinan itu adalah kemampuan mengelolah dan mengelaborasi. Seorang pemimpin akan sepi tanpa karya, akan monoton tanpa ide dan gagasan. Kepemimpinan adalah value, menjadikan karya sebagai hasil bersama. Kepemimpinan adalah inovasi. Saat ini inovasi menjadi beragam tema diskusi. Inovasi menjadi kata kunci dalam menuju peningkatan daya saing di era ini.

Hadirnya keberagaman media literacy turut memberikan nuansa pengetahuan dan wawasan bagi pemangku kepentingan dalam memahami seperti apa Making Indonesia 4.0 atau yang dikenal sebagai pintu masuk bangsa Indonesian dalam menyongsong revolusi industri 4.0. Tentunya ini sebuah optimisme anak bangsa dalam menghadapi perubahan global dan lingkungan strategis (lingstra) tetapi tidak sekedar kecakapan dan kompetensi SDM, tetapi bagaimana meningkat daya saing dan kolaborasi.

Tujuan dari akselerasi pembangunan di zaman digital ini, diorientasikan pada kualifikasi sumber daya yang kompetetif dan inovatif. Untuk menjawab berbagai persoalan bangsa, yang setiap saat bergerak cepat dan selalu berubah – tentunya dibutuhkan lompatan-lompatan teknologi dan elaborasi gagasan anak bangsa. Tidak dinafikan bahwa kehadiran artificial intelligent (kecerdasan buatan), cryptocurrency (mata uang digital), ataupun teknologi seperti fish finder (pendeteksi sebaran ikan di laut), adalah lompatan revulusionalisasi teknologi penanda era digitalisasi yang serba cepat.

Tidaklah berlebihan bila kita perlu mendiagnosa secara spesifik apa tantangan kedepan bangsa ini dalam mengelola bonus demografi 2025 yang dihadapi nanti. Jika tidak terkelola, maka penganggguran akan menjadi bom waktu. Sebuah fakta nyata, dimana derasnya tenaga kerja asing (TKA) yang un-skill pun sudah merajalela, atas nama pembangunan infrastruktur dengan pintu masuk melalui Peraturan Presiden nomor 20 tahun 2018 tentang penggunaan tenaga kerja asing. Sebuah ironi sekaligus tantangan.

Membaca Perubahan

Derasnya perubahan yang nyata didepan kita bukan hanya dilevel global dan nasional, tetapi dilevel lokal (daerah). Para kepala daerah, bahkan calon kepala daerahpun sudah merancang dan berperang gagasan tentang jelajah gelombang ketiga internet melalui smart city, biochip dan internet of things. Sebuah inovasi yang dihadirkan untuk menjual ide dan gagasan demi keberlangsungan. Bertahan untuk hidup atau kalah dalam pertarungan. Sebagai saksi dari perubahan, kita melihat Nokia rontok dihantam smartphone.

Sebagai incumbent – pemain lama, Nokia hanya nama. Kata Stephen Elop (mantan CEO Nokia), “kami tidak melakukan kesalahan apapun, tiba-tiba kami kalah dan punah”. Jika kita membaca Disruption (2018), dari Rhenald Kasali, bahwa menghadapi perubahan tidak sekedar memiliki motivasi saja tetapi harus diikuti dengan dengan inovasi dan kreativitas. Dalam keseharian kita, disrupsi ini menjalar. Facebook misalnya, adalah perusahaan penyedia media terhebat tetapi tidak pernah membuat content, Instragram sebagai perusahaan foto yang paling top tetapi tidak pernah menjual kamera.

Alibaba perusahaan retail raksasa tetapi tidakm memiliki penyimpanan. Uber dan Grab misalnya, sebagai saat ini berkembang sebagai perusahaan taxi tetapi tidak mempunyai armada taxi. Airbnb, perusahaan penyedia akomodasi terbesar tapi tidak punya property; atau Netflix, perusahaan jaringan televis dengan pertumbuhan terbesar tetapi tidak memiliki kabel. Begitu juga kita melihat Traveloka, dengan kemampuan digital mampu merontokan agen-agen travel.

Apa pelajaran penting dari hal diatas. Bahwa inovasi menjadi kunci. Tidaklah berlebihan bila Theodore Levitt, menyatakan, creativity is thinking up new things, innovation is doing new things – kreativitas memikirkan sesuatu yang baru, sedangkan inovasi adalah melakukan sesuatu hal baru. Karena itu seorang pemimpin harus mampu membuat sesuatu menjadi baru, unik atau berpikir kreatif yaitu out of the box, sehingga selalu memberi nilai tambah.

Dibutuhkan Pemimpin Kolaboratif

Bukan sesuatu yang asing dimasyarakat saat ini, bahwa kehidupan mereka sudah terkoneksi dengan digitalisasi. Dari media sosial hingga jejaring akses internet sudah menjadi domain kehidupan dan interaksi sosial masyarakat. Perubahan pola hidup dari human to human, sudah bergeser ke kehidupan berbasis wall to wall atau machine to machine, sebagai sebuah kebudyaan masyarakat baru yaitu hyper-koneksi. Artinya sistem masyarakat kita sudah mengalami transformasi pola hidup yang berbeda dengan sebelumnya.

Dengan realitas tersebut, maka diperlukan pemimpin yang bisa hadir dan mampu mengadopsi pola kepemimpian yang merangkul orang-orang berbakat di luar organisasi. Pemimpin yang memiliki kompetensi yang mampu menggabungkan orang dari berbagai latar belakang, disiplin ilmu, budaya dan generasi. Di era ini dibutuhkan pemimpin yang memiliki semangat untuk menyelami kehidupan komunitas masyarakat dengan tidak terlalu formal, mampu bergerak cepat keseluruh lapisan organisasi berbasis jaringan, serta mendorong partisipasi untuk meningkatan potensi dan mampu mengelaborasi keadaan masyarakat.

Tentunya bahwa sebagian masyarakat terutama kaum muda, khususnya generasi millenilal, mengharapkan pemimpin mereka dapat berkomunikasi baik dengan kelompok masyarakat lain melalui jejaring digital. Pemimpin kolaboratif adalah pemimpin yang memahami dan memposisikan peran dan kepentingan bersama. Kolaborasi menjadi kunci kepemimpinan kedepan. Pemimpin yang bisa menggerakan masyarakat dengan nilai yang kuat dengan melibatkan semua elemen.

Pemimpin yang menginspirasi banyak orang. Karena itu penting, seorang pemimpin harus mampu mengolabrasi semua titik potensi yang ada. Kolaborasi adalah komitmen untuk berjuang bersama, menyusun platform bersama dengan karya baru serta mampu menghasilkan inovasi baru. Ini pola kepemimpinan millenial abad ini, menyambut masa depan perubahan yang lebih baik. Semoga ke depan kita lebih siap menghadapi masa depan. [***]

iklan1
iklan1