Masih Dapatkah Arus Balik Membalik Lagi?

Bung Amas dan Pram (FOTO Ist)

PERCATURAN politik, interaksi budaya dan rotasi peradaban dengan segala sumber daya bawaan sejak lama berseliweran. Bukan di era modern, bahkan post-modern baru roda pedati perubahan jaman itu bergerak. Perubahan itu keniscayaan. Tinggal perubahan seperti apa yang kita kehendaki untuk dijadikan nyata. Di atas perubahan tersebut godaan dan tantangan pun datang silih berganti.

Di kancah politik nasional pergerakan para elit kita yang begitu besar obsesinya menguasai Negara dan memperoleh kursi kekuasaan, ternyata tidak berbanding lurus dengan kontribusi pembangunan yang mereka persembahkan untuk tanah tumpah darah Indonesia. Sialnya lagi, hal tersebut bukan menjadi tamparan atau hinaan agar mereka sadar lalu memacu kerja-kerja membenahi Indonesia. Mereka malah merasa paling mentereng, paling layak, paling banyak berjasa terhadap rakyat.

Sungguh luar biasanya membuat kita terharu. Ketidaksadaran itu menjadi preseden buruk, bukan malah dibangga-banggakan. Kedunguan dipamerkan, kesombongan dianggap tontonan biasa yang mereka dengan percaya diri mementaskan dihadapan publik. Jendela, lantai, atap dan pintu perubahan selalu terus bergeser mengalami dinamika, tidak konstan. Hal itu secara tidak langsung memacu elit di Negara Indonesia tercinta agar bergegas melakukan perubahan menuju pada kemajuan.

Bumi Indonesia yang biasa kita istilahkan Nusantara pernah melewati masa-masa fluktuasi sejarah. Sebelum kemerdekaan kita pernah berada dalam ‘Desa Global’. Dimana penjajahan terhadap kaum pribumi terjadi, kolonial menunjukkan kekuatan lalu menindas kita rakyat Indonesia. Setelahnya, singkat cerita, Indonesia juga pernah mengalami ‘masa ke-emasan’ sekiranya di era kepemimpinan Soekarno. Pernah Berjaya dan disegani dunia Internasional, Malaysia pun pernah belajar pendidikan di Indonesia, kini malah mereka lebih berkembang maju.

Perkembangan dunia begitu pesat. Sebuah epos pasca kejayaan Nusantara di awal abad 16 pernah diulas Pramoedya Ananta Toer melalui karya yang populer berjudul ‘Arus Balik’. Buku Arus Balik mengisahkan tentang Nusantara yang pernah jaya. Dimana Majapahit dan banyak bangsa-bangsa beradab di bumi ini, Indonesia diantaranya. Arus bergerak dari Selatan ke Utara, segalanya kapal-kapal, manusianya, amal perbuatannya, dan cita-citanya. Semua bergerak dari Nusantara di Selatan ke ‘atas angin’ di Utara, tapi zaman berubah.

Uraian kisahnya, hingga mencapai arus balik. Dimana bukan lagi dari Selatan ke Utara, melainkan sebaliknya dari Utara ke Selatan. Utara kuasai Selatan, menguasai urat nadi kehidupan Nusantara. Lalu, perpecahan dan kekalahan demi kekalahan seakan menjadi bagian dari Jawa yang beruntun tiada hentinya. Semacam sketsa, gambar besar yang dinaskahkan Pram begitu Ananta Toer sering disapa, terulang hari ini.

Indonesia mengalami pasang surut. Di internal kini konflik bergejolak, tak bisa diabaikan begitu saja. Provokasi dan saling curiga ditengah rakyat Indonesia menjadi ancaman yang terus membayangi kita semua. Bahwa kita merindukan Indonesia adil makmur, damai sejahterah dan solid. Tak ada lagi lagi gangguang disintegrasi bangsa, tak ada lagi penjajahan manusia atas manusia dengan dalil apapun. Kita menghendaki Indonesia lebih beradab, bukan menjadi Negara otoriter, demokrasi tidak sekedar alat mencapai kekuasaan, melainkan sebagai garansi kesejahteraan. Itulah sekelumut cita-cita yang rupanya saat ini masih menggantung, mengawan-ngawan. Jika ada kesejahteraan, dapat dipastikan kesejahteraan tersebut tidak merata ditengah rakyat.

Pemerintah diharamkan meninggalkan sejengkal pun area kosong tentang kesejahteraan. Pengalaman berdemokrasi sudah cukuplah memberi keyakinan pada kita bahwa perubahan revolusioner atau perubahan total, itu hanya terjadi dalam kata-kata. Kehendak kita ialah menjadikan itu bukti nyata. Garis perjuangan rakyat untuk mencapai cita-cita sudah jelas yaitu lepas dari penjajahan, merdeka lalu aman damai dan sejahterah.

Peristiwa penggantian kepala pemerintahan harusnya menjadi momentum lompatan dan tipping point (titik perubahan). Kita terlalu banyak mengadopsi budaya donor, yang memberi imbas pada terganggunya budaya lokal. Ketahanan budaya menjadi perlu, sembari kita juga diingatkan berfikir inklusif. Berpikiran terbuka bukan berarti melahap semua konsep dan diskursus dari sajian literature import, tapi membuat kita lebih matang serta tau memilih, memilah konsep mana yang tepat, sesuai dengan budaya kita.

Membaca sinopsis buku Arus Balik karya Pram itu, saya seperti diberi kekuatan untuk belajar lagi menulis. Dengan corak dan metode penulisan yang ringan, mengalir, mudah dipahami pembaca Pram memberi rangsangan pada nalar kita. Usaha itu sedang saya lakukan sekarang (bertransformasi), walau saya menyadari adaptasi tidaklah mudah. Saya membutuhkan waktu cukup untuk ‘memodifikasi’, ‘melengkapi’, ‘mengokohkan’, dan ‘menyesuaikan’ cara-cara saya menulis atau menguraikan pandangan. Banyak inspirasi dari buku yang tebalnya kurang lebih 760-an halaman tersebut. Bahkan, saya menyimpulkan Pram sebagai ‘Tuhan Baru’ bagi saya.

Agresi budaya luar yang menarik mundur peradaban kita, relatif meninggalkan jejak. Hasilnya, kearifan lokal lambat laun mulai meredup. Terkikir dan bahkan berlahan hilang, kita tumbuh menjadi generasi yang kehilangan identitas. Menjadi bagian dari lost generation, dampaknya terjadi penurunan kualitas sumber daya manusia pada satu generasi.

Kerukunan sosial kita mulai renggang dengan adanya akulturasi budaya. Pemerintah pun tanpa sadar, memaksa rakyat agar berfikir dan berperilaku terbuka atas nama perubahan serta kemajuan. Tengok saja salah satu bagian penting yakni wacana Rektor Import, dimana pemerintah Indonesia sedang menyiapkan aturan bagi Rektor yang memimpin Universitas di Indonesia boleh orang Luar (WNA). Disatu sisi, hal itu memicu kompetisi ditengah para akademisi, semua akademisi yang sesuai kualifikasi tertentu diberikan ruang dan peluang yang sama.

Lahirnya Generasi Serampangan

Tentu ada harapan arus balik akan membalik lagi, kita harus merebut kejayaan. Bila perubahan itu serius dijalankan pemerintah kita, dibarengi dengan dukungan rakyat sudah otomatis sukses besar menyertai. Karena prinsip perubahan dan kemajuan itu sederhana minimal pemerintah punya political will, hentikan basa-basi, kemudian bekerja sungguh-sungguh dan bekerja yang benar. Arus balik membalik, tanpa lagi ada yang mampu membajaknya untuk menarik balik lagi ditengah proses ia membalik, jika seluruh energi rakyat disatukan. Jangan memposisikan rakyat sebagai bagian yang pasif dalam pembangunan, berikan ruang kemuliaan, tempat istimewa bagi rakyat, karena kedaulatan itu milik rakyat secara utuh. Kunci perubahan itu harus benar-benar pemerintah bersama rakyat.

Kini pemerintah mengajak rakyatnya pada rumah besar destinasi kerukunan dan kesejahteraan. Peta jalan sudah dibuatkan dengan mantap, banyak model dikorbankan untuk urusan itu, tapi selama perjalanan masih cukup banyak godaan dan rintangan ditengah-tengah perjalanan. Kondisi riil tersebut turut mempengaruhi rakyat, akibatnya rakyat menjadi curiga, jenuh dan ragu-ragu karena jalan yang dilalui belum mencapai tujuan akhirnya.

Tujuan akhir dari perjalanan sosial itu adalah diperolehlah keadilan, kesejahteraan, keamanan, kemerdekaan, dan kepastian hukum. Melalui pengamatan keseharian kita, dimana generasi saat ini menemui kondisi yang serampangan akibat hantaman arus globalisasi. Kita seperti terus berada di persimpangan jalan, kapan peradaban kita kuat dan keluar dari harapan yang samar-samar?. Generasi yang serampangan itu lahir, karena tatanan nilai di eranya tidak lagi kokoh, rapuh, mereka mengalami transisi, sehingga kehilangan jati diri.

Eksodus budaya ikut melemahkan posisi rakyat. Tumbuhlah generasi serampangan, kepercayaan diri yang minim. Tanpa kita sadari itu terjadi, mereka yang memiliki kultur kuat sulit terpengaruh. Selain itu, mereka yang kaya raya dan punya modal melimpah ruah pasti enteng-enteng saja mengakses perkembangan globalisasi (dunia virtual). Sayangnya, keadilan ekonomi itu tidak turut dirasakan rakyat yang berprofesi sebagai petani, nelayan, peternak yang modal usahanya pas-pasan. Upaya Negara mewujudkan keadilan, membahagiakan rakyat malah akhirnya hanya menjadi ‘lip service’.

Berpikiran global, matang dan berpandangan multikultural sudah menjadi corak berfikir generasi kontemporer. Bedanya, generasi terdahulu punya nilai lebih karena mempunyai ketahanan, spirit juang tinggi, punya rasa solidaritas. Mereka tau memberi filter juga terhadap pengaruh paham asing, anti-virus dan punya daya imun yang cukup kuat. Mereka generasi sebelumnya sudah tau merancang bangun pikiran, bahkan di era Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka mereka merupakan kaum intelek, ideolog, arsitek, eksekutor serta panutan. Mempunya spesialisasi sendiri-sendiri, sehingga ketika mereka berkolaborasi kekuatan maka kejayaan perjuangan dengan mudah diraih.

Mereka memiliki keberanian tarung konseptual karena menjadi ‘kutu buku’. Punya kemampuan ideologis, bukan sekedar menjadi generasi ‘pengikut’. Tidak pasif dalam diplomasi politik, dialektika intelektual, mereka produktif, revolusioner, kemudian memiliki harapan serta mimpi-mimpi besar tentang kemajuan peradaban. Di fase modern peluang mencari, mengumpulkan, mengakselerasi dan membumikan pikiran malah lebih mudah karena ditunjang sarana (instrument) yang memadai.

Kemalasan berusahalah yang membedakan kita. Loyalitas, etos kerja dan kesungguhan berusaha yang rupanya masih dibawa rata-rata yang membuat kita terus bermental inlander. Kaku dalam hal menjadi mentor perubahan. Padahal kita punya segudang potensi, investiasi, power, stok dan amunisi pikiran kritis yang kuat. Kurang percaya diri itulah yang menjadi faktor terlemah dalam posisi kita mengejar ketertinggalan.

Arus balik akan membalik kalau pemerintah kita tetap fokus dan konsentrasi pada pembangunan. Tidak terlalu pusing berlebihan dengan pemindahan Ibu Kota Negara. Membangun dengan segenap kekuatan sumber daya yang ada, maka dipastikan kemajuan Indonesia tercinta akan kita raih dengan senyuman kebanggaan. Disemua bagian dan level pembangunan yang telah dilakukan Presiden Jokowi, harus terus dimaksimalkan, dilanjutkan dan dituntaskan. Jangan menjadi pemimpin penganut paham pembangunan ‘setengah hati’.

Melainkan menjadi pemimpin yang punya nafas pembangunan yang utuh. Pemerintah juga kita minta dapat menetralkan situasi gejolak konflik yang terjadi di Papua akibat isu SARA yang dibentur-benturkan, lalu diberitakan terus media massa. Kemudian, titik tolak pemerintahan saat ini telah dibuka sebelumnya di periode pertama yaitu pembangunan infrastruktur yang cukup menonjol. Bagaimana pembangunan itu diperluas, dibuat pemerataan pembangunan.

Setelahnya lini kebijakan juga diarahkan pada kemakmuran rakyat. Pernah dalam satu momentum, Tan Malaka berujar bahwa selama masih ada satu musuh di tanah air, satu kapal musuh di pantai, kita harus tetap lawan. Itu tandanya, musuh kita dalam pembangunan sekarang telah dideteksi para pendahulu kita, dan mereka adalah kaum penjajah asset dan investasi kita. Agresi kepentingan asing segera dihentikan, terserah bagaimana caranya. [***]

 

 

__________________________

Penulis : Bung Amas, Alumnus FISPOL Unsrat dan Sekretaris DPD KNPI Manado
iklan1
iklan1