DEMOKRASI ITU MEMBERI HARAPAN, BUKAN KERAGUAN

Bung Amas Mahmud (FOTO Suluttoday.com)

TETAP saja berlaku bagi mereka yang umumnya kalah bersaing, psikologis dan bawaannya adalah merasa tidak puas. Berbeda untuk para pemenang dalam konteks apapun, selalu merasa terbaik, superior, handal, dan teruji. Lalu euforia, bahkan lebihnya merasa berperan disegala bidang. Bergembira berlebihan juga bisa membawa dampak jumawa, menganggap seakan memiliki kekuatan absolut.

Hal serupa juga bila diterapkan dalam konteks berdemokrasi, sama nuansanya. Pemenang karena batinnya tenang, bahagia, nyaman, tidak sensi, akhirnya lebih teduh berfikir, lebih bijaksana bersikap. Jangan dibolak-balik, sudah seperti itu rumus klasiknya. Jadi akan aneh kelihatannya, bila pemenang dan pihak kalah ‘bertukar posisi’. Yang menang jangan riya, yang kalah tak boleh larut dalam kesedihan, atau menumbuhkan sentimen negatif.

Demokrasi yang kita gunaan ini merupakan alat. Sudah menjadi konsensus bernegara bahwa fondasi, ‘jalan’ dan kompas yang kita gunakana dalam menggapai cita-cita nasional Indonesia sudah didesain. Kadang dalam hal tafsir demokrasi memicu elemen rakyat berbeda pandangan dan akhirnya cara melaksanakannya juga berbeda, semangat demokrasi yang diwujudkan pun akhirnya melenceng.

Sebetulnya itulah kekayaan kita dalam berdemokrasi, melalui perspektif yang lain. Demokrasi tidak mengenal satu warna, keseragaman, hal-hal tunggal dalam konteks membangun memberi pandangan. Kita juga punya ruang berdiskursus. Peranan demokrasi yaitu membuka ruang bagi semua komponen rakyat secara luas agar mereka dapat mengekspresikan hak-haknya sebagaimana diatur dalam sistem regulasi kita. Kita dituntun berlomba-lomba untuk menerapkan sistem demokrasi yang baik.

Apakah demokrasi bisa menjadi La raiba fihi? ‘Tidak ada keraguan pada-Nya’ ketika kita menggunakan?. Ternyata, tidak juga. Malah demokrasi yang kita anggap sebagai jaminan kesejahteraan masih layak diragukan. Masih ada keraguan dalam kita mengadopsi demokrasi yang adalah konsepsi Barat. Berbeda dengan anjuran pengambilan keputusan dalam beragama, di Islam misalkan kita diajarkan untuk bermusyawarah.

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S Ali-Imran 159 yang artinya; ”Dan bermusyawarahlan dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan telad, maka bertawakal kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. Perintah bermusyawarah dalam Islam juga tegas tercantum dalam Qur’an Surat Asy-Syuura ayat 38.

Sekedar menarik-hubungkan makna, cara pengambilan keputusan, efektifnya mengambil solusi, diperlukan komparasi. Elit pemerintah yang notabenenya orang-orang beragama kita harapkan tetap patut terhadap konstitusi Negara, lalu punya rujukan kuat dalam pengambilan keputusan agar tidak salah arah. Demokrasi idealnya menjadi rumah besar kita semua. Rumah besar bagi pemenang dan bagi mereka yang kalah dalam Pemilu.

Demokrasi tak boleh dikapling, dibonsai, direduksi, dibajak, apalagi diamputasi secara paksa. Posisikan demokrasi sebagai benar-benar alat yang membawa masyarakat pada solusi kebutuhan bernegara, bukan pada kondisi mengambang dan disorientasi. Demokrasi harus dapat memberi makna, pelajaran, pendewasaan dan progress dalam tiap periode.

Itu baru namanya demokrasi sehat dan membahagiakan. Bukan radar yang kabur dan tanpa arah jelas, melainkan keakuratan orientasi dari demokrasi itu membuat rakyat tersenyum tenang, mengetahui kepastian pada jalan menuju cita-citanya. Demokrasi tidak harus menampilkan keraguan missal, atau keraguan yang bertahap guncangannya makin kuat. Kalau rakyat masih ragu selama kita menganut demokrasi, rasanya konsep ini perlu dipikir ulang.

Ketika demokrasi kita saat ini didesain menuju jalan sesat, jurang atau diarahkan menabrak gunung es. Maka tugas kita membunyikan alarm, meledakkan bom molotov sebagai penanda bahawa Negara kita sedang darurat. Jangan kita diam secara berjamaah sementara demokrasi kita sedang sakit, dan dibuat sakit. Pemerintah harus bergerak sungguh-sungguh menyembuhkan sakit kambuh dan penyakit akut yang diderita demokrasi kita.

Terlihat postur demokrasi kita sedang sehat walafiat. Namun didalam tubuhnya ada penderitaan, akibat tekanan, ada kanker dan penyakit yang bisa berjangkit. Penyakit demokrasi yang akan mengancam kehidupan kita semua, itu artinya paradoks demokrasi harus diberikan obat yang tepat. Tidak tepat lagi kita mendiamkan, mengalihkan perhatian, atau mencari kambing hitam disaat demokrasi kita sedang sakit menular.

Marwah demokrasi kita harapkan makin meningkat. Dari tiap waktu ke waktu demokrasi wajib menyajikan fakta tentang harapan masa depan rakyat. Demokrasi bukan lagi menawarkan potret buram, jangan lagi ada keraguan menyelimuti rakyat penganut demokrasi. Bila itu terpatri, lantas meluas menjadi semacam keraguan universal, maka bahaya kelumpuhan dan rapuhnya sendi-sendiri demokrasi makin nyata. Rakyat mudah dibuat pudar dan diretas loyalitasnya pada Negara, hal itu karena sistem demokrasi gagal menawarkan harapan. [***]

 

______________________

Penulis : Bung Amas, Sekretaris DPD KNPI Manado
iklan1
iklan1