Konstruksi Demokrasi Pancasila Mulai Rapuh

Bung Amas Mahmud (FOTO Suluttoday.com)

DEMOKRASI menjadi peta jalan bagi rakyat untuk menuju pada cita-cita kehidupannya bernegara. Banyak harapan rakyat agar demokrasi tumbuh subur, berjalan benar tidak mengalami penyesatan. Demokrasi meletakkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan yang dihormati dan dimuliakan. Itu sebabnya, Negara penganut demokrasi memang diakui lebih maju beberapa level.

Berbeda dengan sistem monarki atau sistem kerajaan yang menjepit kebebasan rakyat. Demokrasi memberi ‘ruang hijau’ yang menyehatkan rakyat, melahirkan pemimpin yang mengayomi rakyat. Dari demokrasi pula tumbuh orang-orang yang menghargai kebebasan personal. Demokrasi itu mengatur peran rakyat di ruang publik dan ruang privat, tidak membenturkan.

Melalui relasi yang setara demokrasi dilirik dan disukai berbagai kalangan. Melalui semangat itu pula, sejatinya demokrasi tidak menghamba secara total kepada mayoritas, lalu meniadakan yang minoritas. Adanya penghargaan nilai-nilai kemanusiaan pula yang menjadi alasan demokrasi dijadikan sebagai sistem yang lebih bermartabat. Postur demokrasi bukanlah ruang gelap atau hutan belantara, melainkan beranda dan rumah bagi orang-orang yang menghargai kemanusiaan.

Tapi, jika demokrasi mengabaikan kemanusiaan, apa upaya kita?. Seperti cara-cara yang selayaknya, suatu kekeliruan, kekurangan dan penyimpangan tepat untuk diperbaiki. Bukan soal mendesak atau tidak mendesak perbaikan perlu dilakukan, melainkan pada keberpihakan kita lada nilai kebenaran dan kemanusiaan. Proses perwujudannya yaitu harus ditawarkan solusi.

Mendeteksi penyakit dan kurang maksimalnya sistem demokrasi diterapkan. Lalu, diberikan penguatan. Perbaikan secara serius dan sungguh-sungguh. Kalau sistem sebagai cara kerja yang kurang akurat, maka sistem itu perlu diperbaiki. Bila penyelenggara pemerintahan yang jadi masalahnya, berarti perlu pendampingan. Karena hanya terdapat dalam dua kutup itu (sistem dan aktor) yang menjadi pemicu tidak maksimalnya demokrasi dijalankan.

Makin mudah diidentifikasi dari mana masuknya virus perusak, sehingga hadirnya permasalahan demokrasi. Karena pada dasarnya demokrasi keberhasilannya diukur dari keterlibatan kolektif melalui partisipasi publik, maka penyelesaian masalah harus lebih komprehensif. Lebih akomodatif dalam menyusun strategi penyelesaian masalah yang dihadapi rakyat.

Mengobati penyakit haruslah sesuai sakit yang diderita, seperti itu idealnya. Dengan pendekatan, bertanya kepada penderita agar akurasi dan otentiknya masalah dapat diketahui. Nah, begitu pun demokrasi, bila sakitnya karena ketidakadilan, kecurangan, kesenjangan, maka keresahan itu harus dijawab nyata. Bukan menambah sakit, apalagi bertindak salah dan mengamputasi penyakit. Demokrasi selayaknya melahirkan tatanan peradaban yang bermutu.

Untuk memperkuat dibumikannya mimpi-mimpi suci demokrasi, kita juga patut memastikan bahwa Demokrasi Pancasila itu bermuara pada kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat dengan mendampingi jalannya kebijakan pemerintah. Atas alasan demokrasi yang mulai lesu, kesejahteraan yang disorientasi, sehingga diperlukan kejujuran keberpihakan pada kepentingan rakyat. Sambil dibangunnya partisipasi dari bawah. Konsentrasi, energi, bahkan waktu kita perlu dialokasikan untuk keberhasilan demokrasi.

Jangan demokrasi menjadi alibi, lalu praktek berdemokrasi dijalankan secara serampangan dan liberal. Kedepan kondisi penerapan demokrasi yang kini mulai merosot dengan adanya praktek curang layak diperbaiki. Demokrasi konstitusional yang memiliki marwah perlu diselamatkan, bukan dibuat menjadi rapuh secara berkala. Pemerintah yang punya otoritas pun kita bermohon dan turut mengajak agar jadilah teladan yang baik dalam berdemokrasi. Turut menjadi enzim yang melancarkan jalan darah demokrasi agar melahirkan generasi yang bermutu. [***]

 

 

_________________________

Catatan Bung Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado
iklan1
iklan1