Mematahkan Arus Pemikiran Islamofobia di Indonesia

Bung Amas (FOTO Suluttoday.com)

KADANG kala kita menjadi bid’ah dalam beragama. Kita terkungkung pada keterjebakan pikiran sendiri sehingga begitu prematurnya kita menyimpulkan sesuatu. Terutama dalam konteks pandangan agama. Istilah radikal, teroris, fanatik, bahkan kafir sering kita gunakan untuk malabelkan atau menyematkan ke orang lain. Padahal, yang kita lakukan itu fatal. Mengancam kerukunan, kebersamaan dan sikap tak beragama.

Bid’ah yaitu perbuatan yang dikerjakan tidak berdasarkan contoh sebelumnya. Dalam istilah linguistik dapat diartikan seperti adanya inovasi, pembaruan atau doktrin yang sejatinya tidak penting-penting amat dalam beragama. Hasilnya, lahirlah pemikiran seperti Islamophobia atau Kristenophobia. Istilah ini cukup mendunia, dimana Islamophobia yakni rasa takut dan kebencian seseorang atau sekelompok orang kepada Islam. Mereka yang memiliki ketakutan tak beralasan.

Ambil saja contoh soal Islamophobia. Tidak semua, tapi ada segelintir kita yang khawatir berlebihan bila muncul penganut Islam yang taat beribadah kemudian menerapkan syariat Islam. Hidup disiplin dan mengikuti anjuran-anjuran agama, padahal makin taat seseorang terhadap Tuhannya, membuat ia menjauh dari hal-hal yang membawa mudharat.

Dalam keyakinan beragama, semua umat pemeluk agama apapun yang betul-betul sholeh ‘hamba Tuhan’ meyakini bahwa pilihan beragamanya atau hubungan vertikalnya lebih baik. Kalau dalam Islam kita mengenal istilah Tauhid. Dari relasi itu mengharuskan para pemeluk agama tidak saling sibuk dengan urusan agama lain. Melainkan, fokus menjalankan perintah agamanya masing-masing. Tidak perlu takut. Bahkan, kita harus berlomba-lomba untuk berbuat baik.

Al-qur’an misalkan sudah menguraikan dan memberi tuntunan bagi umatnya bahwa ‘Lakum dinukum waliyadiin’ atau bagimu agamamu, bagikulah agamaku (Q.S Al-Kafirun : 6). Artinya, dalam konsep keyakinan, kita meyakini kebenaran atas apa yang kita sembah masing-masing. Sehingga demikian menjadi tidak penting kita saling mengusik antar pemeluk agama.

Ajaran agama lain juga setidaknya mengajarkan soal kebaikan-kebaikan. Kesolehan sosial, ketaatan beragama, menghargai keberagaman, toleran dan menyeru kepada kebaikan, melawan kemungkaran atau kemaksiatan merupakan esensi beragama. Bila umat beragama memahami domain tersebut, kerukunan kebahagiaan, ketertiban, rahmat Tuhan akan selalu mengarahkan kita dengan takdir kita masing-masing.

Pemikiran kerdil yang dipicu atas kekurangan pengetahuan, sentiment, sinisme atau salah kaprah pasti tak akan tumbuh dibenak kita. Ketika masih ada rasa dengki kita terhadap penganut agama lain yang loyal beragama, berarti kita sebetulnya belum menjadi penganut agama yang baik. Kita masih saja terganggu melihat pemeluk agama lain beribadah, berarti pola pikir kita yang perlu dikoreksi. Dalam relasi sosial, keberagaman itu harus pula kita kedepankan.

Tidaklah benar bila satu agam Berjaya lantas pemeluk agama lain diganggu, disingkirkan atau dibinasakan. Sejarah telah secara telanjang menjelaskan itu. Lihat kiprah Nabi Muhammad SAW sebagai teladan umat Islam yang saat itu memimpin kaum muhajirin dan anshar dengan Piagam Madinanya. Manakala umat beragama yang ada di Indonesia menjadi taat beribadah, yang kita dapatkan adalah ketentraman dan ketenangan.

Permusuhan, saling fitnah, pelarangan dibangunnya rumah ibadah dan pembubaran ibadah agama tertentu tak akan lagi kita temui. Pemikiran tentang tiap agama mengajarkan hal-hal inklusif perlu kiranya dihidupkan, jangan dinafikkan atau disimpan itu. Islamophobia dan kristenophobia termasuk kampanye menyesatkan. Propaganda yang membuat kita saling bermusuhan antara pemeluk agama.

Berarti penting kita membangun kesadaran agar membentengi arus pemikiran itu. Karena bila kekhawatiran yang berlebihan itu menjadi bibit produktif yang dicangkokkah ke pikiran masyarakat kita, yakinlah masyarakat Indonesia dengan mudah dibenturkan. Salah satu tantangan pemerintahan Jokowi di periode keduanya ini diantaranya adalah menghentikan phobia tersebut.

Kalau ditanya satu persatu soal pemahaman kemajemukan dan pengakuan atas perbedaan, kita pasti mengaku semua paling mengagumi atau berada didepan membela keberagaman. Itu telah tuntas sebetulnya. Yang menjadi tugas kita adalah menumbuhkan kesadaran beragama. Karena jangan-jangan kriminalitas, kerusuhan dan konflik sosial yang terjadi disebabkan kita kurang taat menjalankan perintah-perintah agama?. Layak kiranya kita periksa kecurigaan atas itu.

Berdirilah menjadi generasi yang mencerahkan pikiran kita masing-masing. Sebelum menjadi lilin yang membakar dirinya guna menerangi lingkungan sekitar, kita perlu penyucikan pikiran sendiri. Bertanya pada diri sendiri bahwa kita telah rela terhadap adanya keberagaman atau belum?. Kalau merasa sudah rela, berarti tidak perlu mempolemikkan perbedaan keyakinan beragama tiap-tiap diantara kita. Tidak ada lagi Islamophobia atau Kristenophobia.

Mari kita kembali menuju area wisata beragama. Menjernihkan pikrian, mencerahkan ingatan dan menjadi pemberi kabar kebaikan. Kalau Niccolo Machiavelli dalam buku Diskursus menyuarakan tentang kebebasan ‘bila Negara dalam bahaya, warga Negara yang baik harus berbakti atas nama moralitas tertinggi’. Bermula dari ia membandingkan kebajikan masyarakat pagan (paganisme) perihal kewarganegaraan dengan standar pribadi dan religius Kristiani.

Setidaknya kita warga Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat merestorasi kesadaran melalui ketaatan beragama pula. Intisari yang luar biasa, perlu diambil dari buku Machiavelli itu. Dari taat beragama kita pasti lebih disiplin, takut korupsi, takut maker, takut berdusta, takut menyalahgunakan kekuasaan, takut berhutang, takut mengobral janji yang tak mampu ditepati dan seterusnya.

Merujuk pada pendapat Emha Ainun Najib, seorang seniman dan budayawan Indonesia bahwa agama itu diajarkan kepada manusia agar ia memiliki pengetahuan dan kesanggupan untuk menata hidup, menata diri, dan menata alam, menata sejarah, kebudayaan, sampai politik. Melalui pemahaman itu, maka kalau kita istiqomah menjadi pemeluk agama tentu segala urusan keduniaan tersebut menjadi lancar diwujudkan. Tanpa ada lagi permasalahan berarti.

Perlu direinterpretasi dimana bila ada salah satu penganut agama tertentu melakukan praktek terorisme atau maker, yang salah bukanlah agamanya. Melainkan person yang melakukan tindakan tercela tersebut. Nah, sekarang mulai bergeser, publik malah ramai-ramai menghakimi bahwa seolah-olah atas kejadian itu yang salah adalah agama tertentu. Nauzubillahi min zalik. [***]

 

_________________________

Penulis : Bung Amas
iklan1
iklan1