Archive for: November 2019

Layak Pimpin Boltim, Sejumlah Tokoh Bicara Majukan Suhendro Boroma

Suhendro Boroma (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Menyongsong Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Bolmong Timur (Boltim) tahun 2020 sejumlah nama mulai digokan masyarakat. Tentu targetnya untuk maju bertarung menjadi Bupati Boltim. Suhendro Boromo salah satu diantaranya yang dirindukan memimpin Boltim.

“Kalau Suhendro Boroma layak memang. Beliau putra asli Togid Boltim. Banyak yang mendorong sosok yang satu ini maju di Pilkada Boltim,” kata Suardi Hamzah, tokoh masyarakat Muslim Sulawesi Utara.

Meski tidak sibuk mencitrakan diri seperti calon Kepala Daerah yang lain. Bahkan, beberapa nama mulai menjual janji. Yang masih belum jelas pun mengaku punya tiket di partai politik tertentu.

Untuk diketahui, PAN Boltim yang punya 4 kursi hampir pasti dikapling Amalia Landjar, putri mahkota Ketua PAN Sulut Sehan Landjar.

Selanjutnya, PDIP dengan tiga tiket kans kuat dihadiahkan ke Robby Wowor, ayah dari Rocky Wowor anggota DPRD Sulut dari PDIP.

Ada juga nama Robby Mamonto, Syachrul Mamonto dan Oscar Manoppo.

Ternyata diluar dugaan orang banyak, sosok Suhendro Boroma, putra asli Togid ini, didorong untuk besarkan Boltim.

Nama Suhendro mencuat akhir pekan lalu. Bertepatan dengan agenda Musyawarah Wilayah KAHMI Sulut di Molibagu Bolsel pekan lalu.

Om Edo sapaan akrab pimpinan media Manado Post dan Jawa Pos grup ini tidak menyangka akan ditodong sejumlah tokoh asal Bolmong.

”Sudah saatnya anda bangun daerah. Saya 100 persen dukung kamu Hendro. Kami akan bantu,” kata tokoh Bolmong Hamdi Paputungan.

Mantan anggota KPU Manado Suardi Hamzah, dan tokoh muda lainnHamzah Latif dan sepuh Muhammadiyah Anwar Sandiah serta Uten Moki saat itu juga mendesak Suhendro maju.

“Iya kami sangat mendukung figur muda yang satu ini. Hendro sosok yang paling pas melanjutkan pembangunan Boltim,” ujar mereka.

Dikatakan soal sosok Boroma yang terterima dan lebih banyak senyum itu pasti disukai masyarakat. Boromo saat ditanya menyampaikan terima kasih dan akan mempertimbangkan dorongan para tokoh itu.

“Bermunculkan dukungan memang. Tapi, Insya Allah. Kita melihat perkembangan di Boltim ada perubahan. Sudah oke lah,” ucap Hendro dengan wajah tanpa memprlihatkan opsesi politik.

Mulai meluas dukungan. Bahkan Suhendro ternyata sudah masuk incaran beberapa partai politik, sebut saja  Partai PAN, Nasdem, Golkar dan PDIP.

Ditempat terpisah, sumber resmi media ini menyebutkan bahwa partai Nasdem Boltim merespon positif. Dikatakannya Nasdem membutuhkan figur kuat seperti Boroma. Seperti diketahui, Nasdem punya tiga kursi, tinggal tambah satu seat.

“Saya siap mengawal kalau pak Hendro maju dengan Nasdem. Saya akan menunggu jika akan mendaftar,” tutur sumber Suluttoday.com, Jumat (29/11/2019). (*/Redaksi)

Potensi Isu Politik Identitas di Pilwako Manado, Ini Komentar Pengamat

Michael Mamentu (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Menguatnya sejumlah nama untuk hajatan Pilwako Manado 2020 turut meramaikan kontestasi demokrasi lima tahunan ini. Paket-paketan atau saling menjodohkan antara kandidat Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado mulai terpublikasi ke media satu persatu. Saling perang isu pun mencuat, hal itu makin membuat ramai peta politik di Manado.

Saat diwawancarai pengamat politik, Drs Michael Mamentu, MA terkait politik identitas memang sukar diabaikan. Kemenangan politik itu tetap ada kemungkinan-kemungkinan, hal itulah yang tak luput dari komentar dan analisis pengamat politik. Demi mendapatkan dukungan berbagai isu dikemas untuk dilempar.

”Kalau ada pasangan calon lintas identitas (agama) itu bisa terjadi. Dasarnya adalah upaya untuk mendapatkan dukungan. Maka dicarilah isu-isu “emosional” yang bisa melahirkan semangat etnosentrisme. Tujuannya adalah kemenangan dalam Pilwako,” ujar dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado ini, Kamis (28/11/2019).

Tambah Mamentu menilai flesibiltas dalam politik itu merupakan hal lumrah. Demi meraih kepentingan politik berbagai isu diramu, pertempuran isu didesain dengan satu tujuan yakni memenangkan kompetisi politik. Sehingga perkawinan politik identitas juga tidak menjadi masalah dalam dunia demokrasi.

”Kenyataannya begitu bahwa demokrasi itu menyediakan kemungkinan-kemungkinan. Biasanya setelah kemenangan diraih, acapkali pemenang lupa pada konstituennya,” kata Mamentu. (*/Redaksi)

Imba-Altje Jebakan Ataukah Penanda Kemenangan PDIP di Pilwako Manado?

Olly Dondokambey, Ketua DPD PDIP Sulut (FOTO Ist)

(Sebuah Analisis Jelang Pilwako Manado)

RAGAM prestasi politik diukir Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey. Dalam politik, prestasi sewaktu-waktu bisa berubah menjadi bencana. Artinya, tidak konstan praktek politik itu. Capaian positif, boleh beralih menjadi proses degradasi. Tidak mudah mempertahankan kekuasaan atau sesuatu yang diperoleh dalam politik. Meraih cita-cita kadang tidak sulit didapat. Namun mempertahankannya yang membutuhkan kerja ekstra.

Fakta tersebut sudah banyak kita temukan. Tumbangnya para politisi yang menjadi petahana dalam rebutan kursi kekuasaan politik. Seperti itu pula, lahirnya politisi instan. Yang ditakar dengan istilah politisi abal-abal. Mereka yang baru bergabung dalam kancah perpolitikan, politisi pemula dapat mengalahkan para politisi kawakan. Itulah realitas politik. Relatif berjarak antara imajinasi politik, ekspektasi dan aktualisasinya dilapangan.

Tentu banyak pihak berfikir optimis, sedikit merasa superior ketika membaca keberhasilan PDIP Sulawesi Utara saat ini. Tapi patut diingat, jangan menjadi euforia. Singkatnya, PDIP untuk Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado 2020 harus jernih dan inklusif membaca peta politik. Agar tidak kalah kesekian kalinya, maka teori perpaduan perlu diterapkan. Silahkan, simulasi pasangan calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota dilakukan secara kompatibel.

Menjalankan fatsune politik. Mewujudkan politik kerukunan. Kemudian yang tak kalah pentingnya, PDIP yang diketahui juga punya stratak handal dan mengetahui peta jalan berpolitik, jangan kecolongan. Mengerti kultur masyarakat Manado, kecenderungan dan minat politik, PDIP harus bergerak cepat. Evaluasi kekalahan terdahulu. Ketika berani mengambil resiko, kemudian berfikir keras meramu potensi agar menang di Pilwako 2020. Indikatornya, tentu pada penentuan pasangan calon.

PDIP juga perlu melakukan shifting paradigm atau perubahan paradigma. Dari gaya berpolitik yang terkesan tertutup, oligarki, menuju ke capaian-capaian yang lebih menantang, terbuka dan demokratis. Sejatinya harus ada progres yang perlu diambil PDIP. Mengutamakan kader untuk meningkatkan grade partai itu penting. Amat perlu juga diperhatikan ialah bagaimana mengkombinasikan kekuatan. Faktor segmentasi pemilih yang bersifat suku, agama, ras dan antar golongan jangan diabaikan.

Isu politik identitas rasanya perlu dibaca tuntas PDIP. Sebab umumnya dalam kompetisi politik, pengaruh partai tidak terlalu dominan. Melainkan pengaruh figur, ketokohan atau personal dari politisi yang diusung. Jika isu sensitif dikelola dengan matang, melalui strategi kapitalisasi politik, maka bisa membahayakan kemenangan PDIP.

Ketika lengah, tak mampu membendung isu-isu yang menarik kepekaan dan simpati publik. konsekuensinya, partai politik atau kompetitor politik dengan mudah dikalahkan. Apalagi, efek Pilpres juga masih mewariskan kekuatan politik representatif. Pemilih Manado kalau dikategorisasi, Joko Widodo dan Prabowo Subianto akan mudah dilakukan mapping.

Varian isu dan pengelompokkan tokoh itu harus dideteksi. Maksudnya apa?, agar partai politik dapat membedah kekuatan dan kelemahannya terlebih dahulu. Lantas parpol itu dengan sedikit agak mudah mengatur kemenangan. Melalui instrument membaca peluang, dan meminimalisir datangnya ancaman. Sederhananya, PDIP perlu merefleksikan lagi keberagaman yang dinamis di Manado dengan mengikat rapat kerukunan itu dalam politik representatif.

Demokrasi kita yang menampilkan citra politik simbolik, tidak boleh abaikan. Dalam gambar besar koalisi, jika Jimmy Rimba Rogi mengambil kader muslim sebagai calon Wakil Wali Kota Manado, maka PDIP jangan kalah langkah. Mekanisme demokrasi kita mengharuskan adanya sistem paket, bukan sistem pemilihan tunggal, makanya perlu ‘perkawinan’ politik yang kuat.

Menengok sejenak perjalanan politik PDIP di Manado, sudah beberapa kali mengalami kekalahan. Kelemahannya tentu selain pada ‘amunisi perang’ yaitu pada figur yang diusung. Calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota tidak mengakomodasi kepentingan gerbong komunitas masyarakat tertentu. Pengalaman berharga itu, tentu membuat PDIP tidak mau lagi mengulangi kekalahan.

Warga Manado umumnya penasaran dan menunggu kejutan PDIP. Bagaimana pun itu, poros politik PDIP tak lain adalah pemenang di parlemen. Terbukti dengan Ketua DPRD Kota Manado dari PDIP, memiliki jumlah kursi terbanyak di DPRD Manado. Bila Olly Dondokambey terjebak bahaya laten politik dinasti, maka akan muncul antipati publik terhadapnya. Tentu itu mencaji ancaman terhadap posisinya, kerana Pilwako Manado juga bersamaan dengan Pilgub Sulut 2020.

Pada hitung-hitungan politik rasional, tentunya Olly tidak mau membuat blunder. Tak mau menggali kuburan sendiri untuk mengubur nasib politiknya. Kondisi seperti itu mengajak Olly selaku pimpinan PDIP Sulut agar selektif menjaring pasangan calon kepala daerah. Bukan sekedar mengandalkan financial sebagai amunisi politik, melainkan figuritas, program dan tokoh yang diusung. Komponen itu menjadi penentu kemenangan. Konstalasi politik di Pilwako begitu kompleks, sebelumnya telah mematahkan bahwa uang bukanlah satu-satunya faktor determinan kemenangan politik. Melainkan ada variabel lain. Ada akumulasi nilai yang berkonsekuensi.

Jangan bergembira berlebihan dengan kemenangan, karena bisa menyeret PDIP pada kekalahan. Mengutip pemikiran Sun Tzu yang mengatakan seni tertinggai perang adalah bagaimana menaklukkan musuh tanpa pertempuran. Jenderal dari Tiongkok, ahli strategi milter dan juga filosof itu berpesan bahwa jika mau menang aktor politik atau gerilyawan harus mengenali dirinya. Tau siapa musuhnya, disitulah kunci kemenangan. Selain takdir yang ditentukan Tuhan.

Bahkan Sun Tzu menyarankan harusnya para petarung itu tampak lemah ketika anda kuat dan kuat ketika anda lemah. Posisi politik PDIP untuk Kota Manado berada diatas saat ini, karena bisa mengusung calon sendiri, tanpa berkoalisi pun. Apakah PDIP Manado punya obsesi ‘mengunci’ lawan dengan memborong semua rekomendasi parpol seperti yang dilakukan James Sumendap Ketua DPC PDIP Minahasa Tenggara beberapa waktu lalu?.

Semua tergantung strategi. Dalam perespektif politik itu sah-sah saja, tapi mengganggu nafas dan pertumbuhan demokrasi. Karena akan melanggengkan kesewenang-wenangan dan sentralistik. Kebebasan disatu sisi akhirnya tersandera. Demokrasi kita dibajak kelompok elit berduit, kelompok yang mengendalikan kekuasaan, dan realitas tersebut kebanyakan tidak disukai masyarakat. Hindarilah praktek ‘memborong’ rekomendasi dukungan seperti itu.

Akan menjadi paradoks ditengah masyarakat. Hal itu tidak menyuburkan budaya demokrasi kita. Pilwako yang sepatutnya membangkitkan kebersamaan, memamerkan kegembiraan, malah tereduksi dengan arogansi sektoral. Alur itu akan membuat partai politik dijauhi masyarakat. Tumbuhkan edukasi dan literasi politik seharusnya, banyak merangkul, bukan memukul. Watak berpolitik anti kritik dihindari.

Apapun argumennya, kita tidak lagi menerapkan politik pintu terbuka. Seperti politik yang diterapkan kaum kolonial liberal di Indonesia. Karena Indonesia saat ini pemerintahannya mengurusi soal pemerintahan yang mencakup universal. Termasuk penataan logistik atau urusan ekonomi. Sehingga semua partai habis-habisan bertarung di Pilkada tentunya. PDIP harus keluar dari tumpuannya yang biasa, ia harus menjadi lebih luar biasa dan hebat.

Langkah menuju itu adalah dengan mengambil Wakil Wali Kota yang punya basis massa jelas. Dapat mewakili etnis, agama, kekuatan politik dan kelompok masyarakat tertentu. Ketika itu yang dilakukan, maka PDIP Manado akan mudah meraih kemenangan di Pilwako Manado 2020. Karena posisi Olly dengan beban politik yang tidak sedikit juga sedikit riskan bila tak serius mengatur strategi.

Terbangunnya citra bahwa Olly yang juga Gubernur Sulut ini begitu melekat dengan label penganut politik dinasti. Stigma ini juga dapat menjadi penanda yang bisa melemahkan Olly. Eksistensi keluarga Dondokambey secara nyata mulai tersebar diposisi-posisi inti pemerintahan. Ada Dondokambey yang menjadi aanggota DPR RI, Wakil Bupati, ada Ketua DPRD, dan posisi lain yang belum terlacak. Secara konstitusional tidak masalah sebetulnya. Hanya saja sering dikait-kaitkan dengan etika politik.

Lalu isu yang kurang merugikan lainnya ialah PDIP dianggap sebagai partai politik yang anti Islam. Kemudian dianggap mengutamakan politik pragmatis. Intervensi kekuasaan dan politik transaksional menjadi sampah yang merusak tatanan praktek politik kita akhirnya. Masih ada waktu merubahnya. Jangan giring masyarakat pada cara berpolitik yang pragmatis. Itu sangatlah destruktif terhadap demokrasi.

Upaya membuat framing Imba-Altje Dondokambey untuk paslon Pilwako Manado 2020 sebetulnya patut dicurigai. Skeptisisme berpolitik kadang diperlukan. Karena tidak semua pujian menguatkan, dan tidak semua hinaan atau kritik dilandasi kebencian. Jika benar paket Imba-Altje dipatenkan, maka potensi kekalahan PDIP di Manado akan terulang. Harusnya Olly jeli membaca ini, menata ulang situasi dan ritme politik. Jangan sampai Olly terjaring skenario penjebakan nantinya. [**]

 

——————————————

Penulis : Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado

Sumendap Tegaskan di Mitra Cuma Ada Satu KNPI

Bupati James bersama pengurus KNPI Mitra (FOTO Suluttdoay.com)

RATAHAN, Suluttoday.com – Bupati James Sumendap SH, menyatakan kepengurusan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) hanya ada satu. Yaitu kepengurusan dibawah kepemimpinan Ruland Sandag. Hal ini ditegaskan Sumendap disela-sela rapat bersama dengan seluruh insan pers yang ada di Mitra, Selasa (26/11/2019) kemarin.

“Saya dengar di tingkat pusat sudah ada beberapa versi KNPI, bahkan tiga sampai empat. Tapi saya tegaskan di Kabupaten Minahasa Tenggara cuma ada satu KNPI, karena saya juga bertanggung jawab terhadap KNPI,” tegas Bupati Sumendap yang juga Ketua Pembina KNPI Mitra.

Sumendap juga mengatakan, sepenuhnya memberikan kebebasan bagi KNPI untuk menjalankan tugas-tugas keorganisasian dan program kerja. Dalam pertemuan tersebut, Sumendap pun berharap KNPI terus menjadi mitra strategis dan berkomitmen menjadikan pemuda sebagai pilar pembangunan. Ketua DPD KNPI Mitra, Ruland Sandag, berterima kasih dan mengapresiasi apa yang ditegaskan Bupati James

Sumendap dalam merespon dinamika kepemudaan yang ada, baik pusat, provinsi juga sampai di daerah khususnya di Mitra.

“Ini sesuatu yang sangat luar biasa, dimana mendapat respon tegas dari Bupati James Sumendap. Ketika terjadi dinamika pada institusi kepemudaan, pak Bupati lebih rasional melihat keabsahan soal kepengurusan yang sah. Kami berharap, pemerintah pusat dan provinsi jangan diam saja, harus arif dan bijak seperti Bung James Sumendap melihat dan menterjemahkan dalam mempersatukan institusi kepemudaan yang ada,” cetus Sandag. (Hengly Langoy)

Jebolan HMI: Untuk Sekretaris KNPI Sulut Semua Punya Peluang

Jifly Adam dan Faiz Turuis (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Keberagaman pandangan soal kualifikasi Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menjadi hal yang lumrah dalam demokrasi. Hal tersebut sebagaimana disampaikan Jifly Adam, jebolan HMI Cabang Manado. Menurutnya siapapun yang berpeluang menjadi Sekretaris DPD KNPI Sulut perlu diberi kesempatan.

”Jangan ada standar yang cenderung like and dislike. Mari kita letakkan demokrasi pada semangat ideal yakni saling menghargai. Masing-masing kita yang punya pilihan, silahkan dimaksimalkan. Tidak elok, menggunakan standar sendiri lalu berupaya mempengaruhi atau membawa kesan pemaksaan pandangan pada pihak lain,” ujar mantan Ketua Badko HMI Suluttenggo ini tegas.

Lanjut Jifly saat diwawancarai soal peluang Faiz Turuis menjadi Sekretaris DPD KNPI Sulut, ia menyebutkan perlu saling support. Alumnus Fakultas Hukum Unsrat Manado itu mengajak aktivis muslim Sulut saling menguatkan. Memeriksa dan saling meragukan eksistensi sebagai sesama aktivis merupakan hal yang kurang elok. Jifly bahkan tegas mengatakan bahwa Faiz Turuis lebih siap menjadi Sekretaris DPD KNPI Sulut.

”Mari kita identifikasi, siapa yang paling siap?. Ternyata dari sejumlah calon Sekretaris DPD KNPI Sulut, baru Faiz Turuis yang paling siap. Kemudian, biarkan forum yang memilih calon tersebut. Jangan membatasi kebebasan orang berdemokrasi. Kepada siapa saja yang berniat mewujudkan hal-hal baik bagi pemuda di KNPI perlu kita dukung. Mau maju sebagai Ketua KNPI Sulut maupun Sekretaris kita berikan ruang proporsional. Terkait pengalaman, justru KNPI sebagai wadah dan tempat mengasah diri sekaligus mengabdi. Nanti dari berproses itu akan mndptkan pengalaman kedepan. Jad siapa yang siap lahir bathin harus disupport. Dan ternayata saat ini Faiz lebih siap,” ujar Jifly, sambil menitipkan pesan agar kader-kader muda diberikan kesempatan. (*/Redaksi)

iklan1