DICARI, PAHLAWAN POLITIK BANGSA

DR Ferry Daud Liando (FOTO Suluttoday.com)

Penulis : DR Ferry Liando, Dosen FISIP Unsrat Manado

Kemarin Minggu (10/11) bangsa ini kembali merayakan hari pahlawan. Ditetapkannya tanggal dan bulan ini sebagai hari pahlawan dilatarbelakangi oleh sebuah peristiwa bersejarah pertempuran di Kota Surabaya. Dipicu dikibarkannya bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Tindakan itu tentu membangkitkan amarah apalagi kemerdekaan bangsa ini baru diproklamasikan sebulan sebelumnya.

Ribaun pejuang dari Kota Surabaya bangkit melawan tindakan yang dianggap sebagai sebiah penghinaan itu sehingga pertempuran sulit dihindari. Sejarah bangsa Indonesia tidak luput dari sejumlah peperangan baik secara fisik maupun non fisik. Hal ini tidak bisa dihindari karena semangat para pejuang bangsa mempertahankan harga diri dan semangat menjadikan bangsa ini sebagai negara berdaulat dan memperoleh pengakuan dari dunia internasional.

Tidak sendikit dari mereka harus mengorbankan apa saja termasuk nyawa sekalipun hanya untuk sebuah perjuangan yakni Indonesia Merdeka. Banyak yang mati disiksa, banyak yang menderita karena harus meninggalkan keluarga. Kita harus bangga dengan pahlawan-pahlawan kita. Tak cukup dengan rasa hormat dan kagum, tak cukup hanya hening dan doa. Tapi perlu sebuah pengakuan bahwa tanpa mereka, belum tentu negara ini akan kokoh berdiri.

Kedepan perjuangan kita bukan lagi mengangkat senjata dan bambu runcing untuk mengusir para penjajah itu. Perjuangan kita kini melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Salah satu instrumen penting untuk mewujudkan cita-cita itu adalah ketulusan hati para aktor-aktor politik bangsa. Sebagus apapun sistim yang dibangun untuk usaha pencapaian cita-cita ini jika para pengelolanya tidak memiliki kepekaan untuk itu maka sistim itu akan sia-sia. Memang tak ada satu sistim yang sempurna berlaku di negara manapun. Namun sistim itu tidak selamanya harus menghalangi sebuah negara bisa berkembang dan maju, sebab yang paling menentukan adalah para aktor-aktor politik itu.

Hampir semua negara di dunia mengakui sistim demokrasi Pancasila yang dipilih Indonesia. Namun sistim itu belum linier dengan semangat nasionalisme para aktor-aktor politik kita. Arena kekuasaan yang gandrungi para aktor politik tidak dimanfaatkan sebagai ajang memperjuangkan kepentingan banyak orang. Kerap yang dipikirkan adalah kedudukan, bagaimana kedudukan itu bisa diraih dan apa manfaat ekonomi dari setiap kedudukan yang diraih.

Tidak jarang para aktor memanipulasi dukungan dengan cara menyuap pemilih (vote buying), menyogok parpol untuk pencaloan (candidate buying) serta memanipulasi popularitas lewat baliho, iklan dan survei-survei bayaran (popularitas buying). Semua tidak jadi dengan sendirinya, tapi atas sebuah proses rekayasa. Rancangan jahat dalam mencapai kedudukan jelas tergambar ketika berkuasa. Nyaris setiap bulan KPK menangkap para perampok uang negara. Kebanyakan dari mereka adalah para aktor politik.

Keputusan politik terjadi tidak atas kepentingan kebijakan publik tapi atas dasar siapa diuntungkan oleh apa. Lihat saja cara mereka mengebiri KPK karena khawatir jadi pasien selanjutnya. Jika bukan penjahat, mengapa takut polisi. Jika bukan bermental pencuri kenapa takut dengan kewenangan KPK dimasa lalu. Sehingga tidak elok jika harus melemahkan lembaga yang ditakuti itu.

Kelebihan bangsa ini sesungguhnya memiliki segala-galanya. Satu-satunya kekurangan bangsa ini adalah belum munculnya para pahlawan-pahlawan politik, dan kita harus mencari. Pahlawan politik adalah seseorang yang bisa mengorbankan ambisi dan kepentingan pribadi, untuk sebuah kepentingan mulia yakni membela kepentingan banyak orang. Darwin (2015) mengatakan bahwa Pahlawan merupakan orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara dan agama.

Mereka adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Tantangannya hari ini adalah dari mana kita harus melahirkan para pahlawan-pahlawan politik. Siapa yang melahirkannya, bagaimana cara mempersiapkannya dan siapa yang harus memilihnya. Hingga kini ketiga aspek itu masih bermasalah. Bahkan masih menjadi beban utama di bangsa ini. Maka pantaslah jika politik kita masih jauh dari gerbang pintu kemerdekaan. [*]

iklan1
iklan1