Imba-Altje Jebakan Ataukah Penanda Kemenangan PDIP di Pilwako Manado?

Olly Dondokambey, Ketua DPD PDIP Sulut (FOTO Ist)

(Sebuah Analisis Jelang Pilwako Manado)

RAGAM prestasi politik diukir Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey. Dalam politik, prestasi sewaktu-waktu bisa berubah menjadi bencana. Artinya, tidak konstan praktek politik itu. Capaian positif, boleh beralih menjadi proses degradasi. Tidak mudah mempertahankan kekuasaan atau sesuatu yang diperoleh dalam politik. Meraih cita-cita kadang tidak sulit didapat. Namun mempertahankannya yang membutuhkan kerja ekstra.

Fakta tersebut sudah banyak kita temukan. Tumbangnya para politisi yang menjadi petahana dalam rebutan kursi kekuasaan politik. Seperti itu pula, lahirnya politisi instan. Yang ditakar dengan istilah politisi abal-abal. Mereka yang baru bergabung dalam kancah perpolitikan, politisi pemula dapat mengalahkan para politisi kawakan. Itulah realitas politik. Relatif berjarak antara imajinasi politik, ekspektasi dan aktualisasinya dilapangan.

Tentu banyak pihak berfikir optimis, sedikit merasa superior ketika membaca keberhasilan PDIP Sulawesi Utara saat ini. Tapi patut diingat, jangan menjadi euforia. Singkatnya, PDIP untuk Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado 2020 harus jernih dan inklusif membaca peta politik. Agar tidak kalah kesekian kalinya, maka teori perpaduan perlu diterapkan. Silahkan, simulasi pasangan calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota dilakukan secara kompatibel.

Menjalankan fatsune politik. Mewujudkan politik kerukunan. Kemudian yang tak kalah pentingnya, PDIP yang diketahui juga punya stratak handal dan mengetahui peta jalan berpolitik, jangan kecolongan. Mengerti kultur masyarakat Manado, kecenderungan dan minat politik, PDIP harus bergerak cepat. Evaluasi kekalahan terdahulu. Ketika berani mengambil resiko, kemudian berfikir keras meramu potensi agar menang di Pilwako 2020. Indikatornya, tentu pada penentuan pasangan calon.

PDIP juga perlu melakukan shifting paradigm atau perubahan paradigma. Dari gaya berpolitik yang terkesan tertutup, oligarki, menuju ke capaian-capaian yang lebih menantang, terbuka dan demokratis. Sejatinya harus ada progres yang perlu diambil PDIP. Mengutamakan kader untuk meningkatkan grade partai itu penting. Amat perlu juga diperhatikan ialah bagaimana mengkombinasikan kekuatan. Faktor segmentasi pemilih yang bersifat suku, agama, ras dan antar golongan jangan diabaikan.

Isu politik identitas rasanya perlu dibaca tuntas PDIP. Sebab umumnya dalam kompetisi politik, pengaruh partai tidak terlalu dominan. Melainkan pengaruh figur, ketokohan atau personal dari politisi yang diusung. Jika isu sensitif dikelola dengan matang, melalui strategi kapitalisasi politik, maka bisa membahayakan kemenangan PDIP.

Ketika lengah, tak mampu membendung isu-isu yang menarik kepekaan dan simpati publik. konsekuensinya, partai politik atau kompetitor politik dengan mudah dikalahkan. Apalagi, efek Pilpres juga masih mewariskan kekuatan politik representatif. Pemilih Manado kalau dikategorisasi, Joko Widodo dan Prabowo Subianto akan mudah dilakukan mapping.

Varian isu dan pengelompokkan tokoh itu harus dideteksi. Maksudnya apa?, agar partai politik dapat membedah kekuatan dan kelemahannya terlebih dahulu. Lantas parpol itu dengan sedikit agak mudah mengatur kemenangan. Melalui instrument membaca peluang, dan meminimalisir datangnya ancaman. Sederhananya, PDIP perlu merefleksikan lagi keberagaman yang dinamis di Manado dengan mengikat rapat kerukunan itu dalam politik representatif.

Demokrasi kita yang menampilkan citra politik simbolik, tidak boleh abaikan. Dalam gambar besar koalisi, jika Jimmy Rimba Rogi mengambil kader muslim sebagai calon Wakil Wali Kota Manado, maka PDIP jangan kalah langkah. Mekanisme demokrasi kita mengharuskan adanya sistem paket, bukan sistem pemilihan tunggal, makanya perlu ‘perkawinan’ politik yang kuat.

Menengok sejenak perjalanan politik PDIP di Manado, sudah beberapa kali mengalami kekalahan. Kelemahannya tentu selain pada ‘amunisi perang’ yaitu pada figur yang diusung. Calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota tidak mengakomodasi kepentingan gerbong komunitas masyarakat tertentu. Pengalaman berharga itu, tentu membuat PDIP tidak mau lagi mengulangi kekalahan.

Warga Manado umumnya penasaran dan menunggu kejutan PDIP. Bagaimana pun itu, poros politik PDIP tak lain adalah pemenang di parlemen. Terbukti dengan Ketua DPRD Kota Manado dari PDIP, memiliki jumlah kursi terbanyak di DPRD Manado. Bila Olly Dondokambey terjebak bahaya laten politik dinasti, maka akan muncul antipati publik terhadapnya. Tentu itu mencaji ancaman terhadap posisinya, kerana Pilwako Manado juga bersamaan dengan Pilgub Sulut 2020.

Pada hitung-hitungan politik rasional, tentunya Olly tidak mau membuat blunder. Tak mau menggali kuburan sendiri untuk mengubur nasib politiknya. Kondisi seperti itu mengajak Olly selaku pimpinan PDIP Sulut agar selektif menjaring pasangan calon kepala daerah. Bukan sekedar mengandalkan financial sebagai amunisi politik, melainkan figuritas, program dan tokoh yang diusung. Komponen itu menjadi penentu kemenangan. Konstalasi politik di Pilwako begitu kompleks, sebelumnya telah mematahkan bahwa uang bukanlah satu-satunya faktor determinan kemenangan politik. Melainkan ada variabel lain. Ada akumulasi nilai yang berkonsekuensi.

Jangan bergembira berlebihan dengan kemenangan, karena bisa menyeret PDIP pada kekalahan. Mengutip pemikiran Sun Tzu yang mengatakan seni tertinggai perang adalah bagaimana menaklukkan musuh tanpa pertempuran. Jenderal dari Tiongkok, ahli strategi milter dan juga filosof itu berpesan bahwa jika mau menang aktor politik atau gerilyawan harus mengenali dirinya. Tau siapa musuhnya, disitulah kunci kemenangan. Selain takdir yang ditentukan Tuhan.

Bahkan Sun Tzu menyarankan harusnya para petarung itu tampak lemah ketika anda kuat dan kuat ketika anda lemah. Posisi politik PDIP untuk Kota Manado berada diatas saat ini, karena bisa mengusung calon sendiri, tanpa berkoalisi pun. Apakah PDIP Manado punya obsesi ‘mengunci’ lawan dengan memborong semua rekomendasi parpol seperti yang dilakukan James Sumendap Ketua DPC PDIP Minahasa Tenggara beberapa waktu lalu?.

Semua tergantung strategi. Dalam perespektif politik itu sah-sah saja, tapi mengganggu nafas dan pertumbuhan demokrasi. Karena akan melanggengkan kesewenang-wenangan dan sentralistik. Kebebasan disatu sisi akhirnya tersandera. Demokrasi kita dibajak kelompok elit berduit, kelompok yang mengendalikan kekuasaan, dan realitas tersebut kebanyakan tidak disukai masyarakat. Hindarilah praktek ‘memborong’ rekomendasi dukungan seperti itu.

Akan menjadi paradoks ditengah masyarakat. Hal itu tidak menyuburkan budaya demokrasi kita. Pilwako yang sepatutnya membangkitkan kebersamaan, memamerkan kegembiraan, malah tereduksi dengan arogansi sektoral. Alur itu akan membuat partai politik dijauhi masyarakat. Tumbuhkan edukasi dan literasi politik seharusnya, banyak merangkul, bukan memukul. Watak berpolitik anti kritik dihindari.

Apapun argumennya, kita tidak lagi menerapkan politik pintu terbuka. Seperti politik yang diterapkan kaum kolonial liberal di Indonesia. Karena Indonesia saat ini pemerintahannya mengurusi soal pemerintahan yang mencakup universal. Termasuk penataan logistik atau urusan ekonomi. Sehingga semua partai habis-habisan bertarung di Pilkada tentunya. PDIP harus keluar dari tumpuannya yang biasa, ia harus menjadi lebih luar biasa dan hebat.

Langkah menuju itu adalah dengan mengambil Wakil Wali Kota yang punya basis massa jelas. Dapat mewakili etnis, agama, kekuatan politik dan kelompok masyarakat tertentu. Ketika itu yang dilakukan, maka PDIP Manado akan mudah meraih kemenangan di Pilwako Manado 2020. Karena posisi Olly dengan beban politik yang tidak sedikit juga sedikit riskan bila tak serius mengatur strategi.

Terbangunnya citra bahwa Olly yang juga Gubernur Sulut ini begitu melekat dengan label penganut politik dinasti. Stigma ini juga dapat menjadi penanda yang bisa melemahkan Olly. Eksistensi keluarga Dondokambey secara nyata mulai tersebar diposisi-posisi inti pemerintahan. Ada Dondokambey yang menjadi aanggota DPR RI, Wakil Bupati, ada Ketua DPRD, dan posisi lain yang belum terlacak. Secara konstitusional tidak masalah sebetulnya. Hanya saja sering dikait-kaitkan dengan etika politik.

Lalu isu yang kurang merugikan lainnya ialah PDIP dianggap sebagai partai politik yang anti Islam. Kemudian dianggap mengutamakan politik pragmatis. Intervensi kekuasaan dan politik transaksional menjadi sampah yang merusak tatanan praktek politik kita akhirnya. Masih ada waktu merubahnya. Jangan giring masyarakat pada cara berpolitik yang pragmatis. Itu sangatlah destruktif terhadap demokrasi.

Upaya membuat framing Imba-Altje Dondokambey untuk paslon Pilwako Manado 2020 sebetulnya patut dicurigai. Skeptisisme berpolitik kadang diperlukan. Karena tidak semua pujian menguatkan, dan tidak semua hinaan atau kritik dilandasi kebencian. Jika benar paket Imba-Altje dipatenkan, maka potensi kekalahan PDIP di Manado akan terulang. Harusnya Olly jeli membaca ini, menata ulang situasi dan ritme politik. Jangan sampai Olly terjaring skenario penjebakan nantinya. [**]

 

——————————————

Penulis : Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado

iklan1
iklan1