Archive for: Desember 2019

SEHAN dan JAMES, Dua Kepala Daerah Fenomenal di Sulawesi Utara

Sehan Landjar dan James Sumendap (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Tiap generasi punya karakter sendiri. Termasuk dalam hal model kepemimpinan yang berbeda-beda. Di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang Gubernurnya dipimpin Olly Dondokambey, SE dikenal memiliki style yang tenang. Kali ini di penghujung tahun 2019, tepatnya Selasa (31/12/2019) redaksi Suluttoday.com tertarik untuk memotret sepenggal kisah dua sosok Kepala Daerah fenomenal di Sulut. Mereka adalah Sehan Landjar, SH dan James Sumendap, SH.

Sehan adalah Bupati Bolaang Mangondouw Timur (Boltim) dan James sebagai Bupati Minahasa Tenggara (Mitra). Rekam jejak mereka sebagai politisi memang tak perlu diragukan lagi, memakan asam garam, suka duka dan gempuran gelombang yang dilewati. Sejumlah orang dekat mereka menginformasikan bahwa dua Bupati fenomenal di Sulut ini punya kesamaan yakni memiliki sikap ceplas-ceplos. Keduanya sering menggunakan satire politik, dan kritik yang pedas demi memperjuangkan nasib masyarakat.

Tidak menghamba pada kedudukan. Tidak mau menjadi pemimpin yang mengkultuskan diri sendiri, mereka meyakini pemimpin itulah pelayan. Sedikit dari banyaknya Kepala Daerah di Sulut, tidak dengan maksud mendiskreditkan yang lain, yang punya cara pandang politik seperti mereka berdua. Sehan misalnya, dikenal sehabis mengabdi di Boltim, sering meluangkan datang ke kawasan Jalan Roda Manado.

Bersilaturahmi dengan masyarakat akar rumput, di kawasan yang dikenal DPRD Tingkat 3 ini Eyang sapaan akrab Sehan sering bermain catur. Tampil secara sederhana tidak seperti pajabat publik umumnya. Eyang terlibat percakapan dan canda tawa tanpa sekat dengan masyarakat lapis bawah, makan pisang goreng bersama dan minum kopi setengah ala Jalan Roda Manado. Hampir luput dari pantauan, kalau ternyata sosok Kepala Daerah yang satu ini begitu populis. Bicara apa adanya, tak mau berbasa-basi.

Keberanian keluar dari tardisi ”gila hormat” ternyata juga dimiliki Bung James. Bupati Mitra dua periode yang dijuluki sang Gladiator ini juga tidak mau terkungkung dengan kemewahan kekuasaan. Politisi yang juga singa podium ini bicara blak-blakan soal konsepsi kerakyatan dan itu semua diwujudkannya melalui program pro rakyat. Berupa program membuka akses jalan di Mitra menjadi lebih baik, menggelontorkan anggara yang cukup fantastis untuk bantuan duka. Memberi penghargaan yang besar kepada para birokrat struktural di Mitra.

Seperti data yang dihimpun, untuk tahun 2017 dana sekitar Rp 7,6 miliar dialokasikan untuk dana duka. Dan tahun 2018 besarannya ditambah, menjadi Rp 9 miliar. Sehingga per orang yang meninggal dunia di Mitra mendapatkan 7.000.000 (tujuh juta rupiah), perhatian yang serius berpihak pada masyarakat ditunjukkan James. Dalam kontes dana duka di Sulut, Kabupaten Mitra paling teratas nomilanya.

Untuk urusan program pemerintah yang berpihak pada masyarakat sendiri juga tengah dijalankan Bupati Sehan. Bupati Boltim dua periode ini malah memecahkan mitos khususnya di Sulut. Pasalnya Bupati yang dikenal vokal ini mendesain program rumah gratis yang telah dijalankannya. Sekitar 3.000 (tiga ribu) rumah di siapkan pemerintah daerah Boltim dibawah kepemimpinan Sehan Landjar. Politisi yang murah senyum ini menyebutkan bahwa pemimpin harus menyenangkan masyarakat.

Apa rahasianya, sehingga kedua Kepala Daerah ini terlihat ”berbahaya” dalam praktek dan konsep mereka?. Ternyata apa yang dilakukan bukan tanpa alasan. Sehan Salim Lanjdar nama lengkap politisi PAN ini saat ditemui media menyebutkan, hakikat kepemimpinan yaitu kesederhanaan. Menjadi pemimpin itu abdi bagi masyarakat. Tak boleh mensakralkan jabatan, Sehat menilai kepemimpinan juga sebagai sebuah seni.

‘’Bagi saya pemimpin itu abdi masyarakat. Tentu kita bekerja untuk kemaslahatan masyarakat, kita bukan bos, kita pelayan. Artinya apa?, ya harus mengikuti kemauan masyarakat. Seperti contoh, kita memenuhi kebutuhan masyarakat. Di Boltim saya telah menyediakan rumah gratis bagis masyarakat. Lahan disediakan Pemda, bagi masyarakat yang membutuhkan juga saya perintahkan jajaran untuk serahkan fasilitas itu kepada publik yang membutuhkan,’’ kata Sehan, Selasa (31/12/2019).

Substansinya pemimpin bagi Sehat yaitu bertanggung jawab kepada masyarakat yang dipimpinnya. Pempin harus mampu memisahkan perannya disaat berada di kantor dan di luar kantor, sehingga ia tidak terjebak dengan penghormatan-penghormatan yang bersifat tidak substansi. Sehat menyederhanakan kepemimpinan dalam sebuah bentuk ketundukan.

‘’Kan sederhana saja menjadi pemimpin ini, yakni bagaimana kita berikrar siap jiwa raga dipertaruhkan melayani publik. Sudah berkomitmen, maka konsekuensinya kita menjalankan itu. Dengan penuh kesadaran tinggi dan kecintaan, pemimpin harus bertanggung jawab terhadap masyarakatnya. Jangan jadi pemimpin yang pengecut, atau pikun dengan ikrarnya. Pemimpin bagi saya adalah ketundukan, bukan menonjolkan otoritas kekuasaan,’’ ujar Sehan.

James Sumendap dan Sehan Landjar (Foto Ist)

Di tempat terpisah, Bung James dalam beberapa kesempatan menyampaikan politik sebagai sarana pengabdian. Menurutnya nilai tertinggi kemanusiaan ialah bermanfaat bagi kepentingan banyak orang, hal itu ditunjukkan sejak menjadi mahasiswa. Sering melakukan demonstrasi membela masyarakat, sampai menjadi anggota DPRD Provinsi Sulut pun Bung James tak gentar melawan kebijakan yang pro kapitalis.

‘’Bagi saya politik punya takdirnya sendiri. Kita berpolitik ini berarti kita memilih jalan pengabdian. Politik bukanlah sarana untuk menjadi kaya raya, gagah-gagahan atau agar membuat kita dipandang terhormat. Tapi lebih dari itu yaitu kontribusi nyata kita bekerja kepada masyarakat. Kalau menjadi politisi dan tidak mau berkorban dan bersuara demi masyarakat, maka silahkan pensiun dini saja dari gelanggang politik,’’ tutur Sumendap dan membahkan bahwa pemimpin harus bersandar pada ajaran cinta kasih.

Bupati James juga menyebutkan pemimpin tidak perlu memamerkan kesombongan. Kegilaan terhadap jabatan yang membuat seorang pemimpin mabuk atas pujian, bagi James merupakan salah kapra pemimpin tersebut terhadap amanah yang diberikan Tuhan kepadanya. Politisi yang dikenal gesit ini menyebut kedaulatan rakyat yang diberikan kepada Kepala Daerah perlu diuji dan dibuktikan dengan kerja nyata.

Suluttoday.com juga menelusuri jejak dan kiprah kedua politisi ini memang diawali dari bawah. Sehan sendiri selain Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Utara, juga menjadi Koordinator Forum Komunikasi Nasional Percepatan Pembentukan Calon Daerah Otonom Baru (Fornas CDOB). Tak kalah juga, sosok James dikenal sebagai mantan aktivis jalanan yang dibesarkan dari organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manado.

Kini selain menjabat Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Mitra, juga dipercayakan sebagai Ketua Persatuan Alumni GMNI Sulut. Hal fenomenal lain dari dua pemimpin jebolan fakultas Hukum ini adalah keberaniannya mengungkap dan melawan secara terbuka atas arogansi atau cara-cara diskriminasi yang dipertontonkan. Antara Sehan dan James, pluralisme, kesantunan, nasionalisme relegius, serta kejujuran tergambar. James dan Sehan adalah singa podium, orator yang ulung di daerah Nyiur Melambai ini.

Atas nama masyarakat mereka siap berjuang mati-matian. Melalui track record mereka telah menjawab itu. Bahwa sebagai politisi James dan Sehan memiliki karakter tersendiri, sulit untuk ditekan. Tapi, jika bicara tentang kemanusiaan dan keadilan kepada masyarakat, mereka berdua selalu berada di beranda terdepan. Tentu masih banyak hal menonjol yang perlu diapresiasi lainnya yang belum sempat diringkas, terpotret dalam catatan akhir tahun 2019 ini. Sekiranya, kiprah dan dedikasi yang diberikan kepada masyarakat dapat terwarisi bagi Kepala Daerah lainnya di Sulut. Paling tidak, dalam hal kecil tentang kesederhanaan.

Kedua tokoh politik yang menginspirasi pembaca ini tentu punya banyak cerita, karya dan sikap yang masih tercecer, belum sempat didokumentasi dalam catatan kali ini. Kedepan, Insya Allah di tahun 2020 masih ada ulasan yang lebih multi perspektif karena didukung data komprehensif. Redaksi Suluttoday.com memproyeksikan dari gelora spirit yang dilakukan dua Kepala Daerah ini akan menginspirasi generasi yang akan datang untuk tegak lurus pada prinsip-prinsip kepemimpinan yang substansial.

Dalam hal menyederhanakan kebijakan dan mentaktisi hal yang berbelit-belit, rumit, Sehan maupun James nyaris tak ada bedanya. Mereka sama-sama kokoh, berprinsip, tegak lurus dalam pelayanan publik. Berani memangkas pelayanan birokrasi yang menyusahkan masyarakat. Bahkan, demi masyarakat mereka rela membuat kebijakan yang kontroversial. Ada resistensi publik, semua itu mereka jawab dan hadapi secara terbuka sampai masyarakat memahami. Kemudian ikut mendukung program yang diluncurkan pemerintah daerah tersebut. (*/Amas)

Sambut Tahun Baru, PHBI Manado Ajak Umat Islam Doa dan Zikir Bersama

H. Amir Liputo, dan logo PHBI Manado (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Manado dalam mengakhiri tahun 2019, mengajak umat Islam agar melakukan kegiatan religius. Sperti disampaikan Ketua PHBI Manado, H. Amir Liputo, SH bahwa lebih baik umat Islam melaksanakan Doa dan Zikir di Mesjid-Mesjid. Kegiatan kolosal atau massal tentu lebih bermanfaat, yang diharapkan berdampak positif secara luas pada warga Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), tidak hanya di Kota Manado.

”Dalam rangka menyambut Tahun Baru 2020 di Manado dan sekitarnya kami mengajak diadakan Doa dan Zikir bersama bagi umat Islam. Kegiatan dilaksanakan di Mesjid terdekat dimana umat Islam berdomisili. Dengan harapan semoga Sulawesi Utara, kemudian Manado khususnya aman terkendali. Warganya sejahtera, selalu dalam lindungan yang maha kuasa,” kata Liputo yang juga anggota DPRD Provinsi Sulut dua periode ini.

Tambah Liputo yang adalah kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengajak masyaraka agar tidak boros dalam perayaan malam Tahun Baru. Melainkan memanfaatkan waktu untuk bermunajat kepada Allah SWT. Liputo juga berharap agar di Tahun 2020, keakraban dan persaudaraan masyarakat Sulut makin terus dikuatkan. Masyarakat dihindarkan dari konflik atau perpecahan.

”Mari kita sambut tahun 2020 dengan penuh rasa syukur dan terus menjaga persaudaraan sesama umat bangsa dan Negara. Sekaligus PHBI Manado menghimbau kita semua agar menjauhi perbuatan keriminal, terutama generasi muda kiranya dapat mengikuti Doa dan Zikir Bersama di Masjid terdekat sebagaimana jadwal yang dilampirkan PHBI Manado,” ujar Liputo, Senin (30/12/2019).

Berdasarkan list dari sejumlah Masjid yang dihimpun PHBI Manado, bahwa akan dilaksanakan kegiatan di malam tanggal 1 Januari 2020, seperti disampaikan Amir Liputo, juga diantaranya sebagai berikut:

1. Mesjid Ar Rahmah Banjer 2.Mesjid Nurul Huda Ketang Baru 3. Awwal Fathul Mubin Kampung Islam 4. Ath Thohirin Banjer 5. Mesjid Nur Almuhajirin Desa Kalasey Jaga 1 mandolang Minahasa 6.masjid Rabbani GPI 7. Mesjid Al Ikhwan Sospol Mahawu, 8. Mesjid Assolihin Kampung Merdeka 9.Mesjid Al Hijrah-Kombos 10. Mushallah Al Faiz Malendeng, 11. Masjid Al ikhlas Lanudal Mapanget, 12. Mesjid Al Amanah Malendeng, 13. Mesjid Al haq perum Permata.

14. Mesjid Al Gufron Titiwungen 15. Mesjid Al Ihsan Dendengan, 16.Mesjid Al Mufidz Ternate Tanjung 17. Mesjid Sabilal Muhtadin Buha. 18. Mesjid kyai arsyad thawil Komo Luar, 19. Mesjid Hidayatullah Aspol Sario 20. Masjid At-Taqwa perkamil 21. Mesjid Al Muhajirin Koltem Kalawat Minut 22. Mesjid Al Muhsiniin Kalawat 23.mesjid nurul yakin Sario Tumpaan depan Mantos 3, 24. Mesjid Al Munawar Tuminting 25. Al Aziz Griya 1, Desa Mapanget, Minut.

26. Masjid AlIkhlas Wonasa Karame 27.mesjid al mawaddah taas 28.Mesjid fastabiqul khaerat, Kota Bitung, Candi Bitung Barat 29. Masjid Nurut taqwa Desa Sea 30. masjid baitul makmur kel.kampung jawa. 31. Masjid alhikmah kel sumalangka 32. Mesjid Jami Ponegoro Airmadidi 33. Mesjid As-Salam Pajak Wale Manguni 34. Masjid Al Amin Dendal 35.mesjid al huda terminal Kota Bitung.

36. Mesjid Al Mujahidin warukapas 37. Mesjid Al fattah Bengkol 38. Mesjid baitul makmur katon minahasa 39. Mesjid Al falah sindulang 40. Masjid Al-Jihad Teling bawah 41. Mesjid Nurut Taqwa Sea 42. Mesjid Attaqwa Kabupaten Sangihe 43. Mesjid Al Muhajirin Jln Sea. 44. Al Muhajirin Malalayang 1, 45. Mesjid at Taubah Manembo nembo Bitung. Sampai malam ini, para pengurus Masjid masih ada yang melaporkan kegiatan yang dilaksanakan tersebut. (*/Amas)

Penambang Liar Beraksi Lagi di Bakan Bolmong, Warga Sekitar Terkejut

Tenda yang diamankan pihak keamanan (Foto Ist)

BOLMONG, Suluttoday.com – Telah nyata perbuatan melawan hukum alias ilegal Penambang Tanpa Izin (PETI) di kawasan Desa Bakan, Kabupaten Bolmong induk Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang dilakukan penambang, rupanya tidak berhenti. Seakan tidak ada kesadaran bahwa perbuatan tersebut adalah melanggar ketentuan perundang-undangan.

Pasalnya, atas perbuatan penambangan liar itu kawasan sekitar mulai kambuh lagi beberapa hari terakhir ini. Para oknum penambang ilegal datang lagi mengeruk kandungan emas di lahan yang sudah dilarang untuk dieksploitasi. Para oknum tersebut seperti tidak menghiraukan larangan pemerintah serta bahaya longsor yang akan terjadi lagi.

”Masih saja para oknum PETI ini beraksi menggali emas secara liar. Kami tidak tahu dari mana mereka masuk. Tiba-tiba saja kelihatan ada lampu dari camp di lereng bukit Busa yang pernah menimbun puluhan pekerja tambang,” ujar Khairudin warga kampung mengaku kaget.

Lanjut Khairudin mengaku menegur jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama. Aktivitas oknum-oknum itu dipantau dari kejauhan di seberang bukit Busa kelihatan kerlap kerlip lampu dan suara bunyi disel.

”Iya betul, kalau siang bisa kelihatan dari sini tenda warna hijau dan biru yang didirikan para penambang,” ucap Khairudin yang dibenarkan warga lainnya, Senin (30/12/2019).

Untuk diketahui, sampai berita ini diterbitkan belum ada konfirmasi dari Dinas ESDM Pemkab Bolmong terkait aktivitas PETI di Bakan. Informasi dari PT JRBM, pemilik konsensi di Bakan, mereka baru mengetahui ada aktivitas PETI di area camp side. Malah PETI seperti kompak masuk di Busa, Bukit Berkat dan Gunung Botak.

”Sempat, kami dua hari lalu telah mengajak dengan cara persuasif kepada warga PETI. Tapi tidak diimbau,” tutur Gito Manager Security PT JRBM. (*/Redaksi)

Tonny Rawung: 2021 Proses Seleksi Pala Harus Pemilihan Langsung

Status Facebook Gregorius Tonny Rawung (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Mulai terkuaknya intervensi dan aroma politisasi dalam seleksi calon Kepala Lingkungan (Pala) di Kota Manado menjadi perhatian masyarakat. Tidak hanya itu, elit politik di Kota Manado juga ikut memberikan pendapat, kritik serta juga menawarkan solusi perbaikan sistem seleksi Pala. Menurut Tonny Rawung, bahwa perekrutan Pala idealnya haruslah dilakuakn secara demokratis.

”Tahun 2021proses seleksi Pala hrs pemilihan langsung oleh masyarakat lingkungan.Mari berdemokrasi lebih Elegan, Manado Hebat,” ujar politisi yang bernama lengkap Gregorius Tonny Rawung, mantan calon Wakil Wali Kota Manado itu di Akun Facebooknya, Minggu (29/12/2019).

Postingan mantan anggota DPRD Kota Manado itu pun mendapat beragam tanggapan. Dukungan dan perbedaan persepsi mengalir melalui konten komentar dari status tersebut. Memperkuat argumentasinya, Tonny menuturkan skema perekrutan Pala yang terbuka lebih sesuai dengan spirit reformasi birokrasi dan keterbukaan informasi publik. Jauh dari kompromi dan politisasi.

”Harus lebih maju dan transparan untuk Manado lebih baik. Tidak butuh anggaran besar. Bahkan, konsep ini memberi ruang lahirnya partisipasi masyarakat dan swadaya. Lebih penting lagi, rentetan intervensi politik dapat dipangkas,” tegas Tonny yang juga Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Manado ini.

Foto yang disertakan dalam postingan Tonny Rawung, Arthur bersama peserta seleksi Pala (Foto Ist)

Menariknya, dalam postingan tersebut disertakan foto sejumlah Panitia Seleksi (Pansel) Pala dan anggota DPRD Kota Manado. Keberadaan Arthur Rahasia, selaku anggota DPRD dari Partai Nasdem kelihatan dominan, dari tiga foto. Dua diantaranya menampilkan wajah Arthur. Bahkan, hiruk-pikuk di sejumlah rumah kopi mengkhawatirkan jangan sampai Pala yang terpilih adalah titipan dari para anggota DPRD Nasdem Kota Manado. Sehingga dapat mengganggu netralitas, dan konsentrasi dari kerja Pala nantinya karena disibukkan beban politik di Pilwako Manado. (*/Redaksi)

 

Peran Tokoh Agama di Ajang Pilkada

Taufik Bilfaqih (Foto Ist)

Oleh : Taufik Bilfaqih, Anggota Bawaslu Kota Manado

Aroma pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak tahun 2020, baik pemilihan walikota maupun gubernur, mulai menyengat. Meski tahapan masih pada proses sosialisasi aturan main oleh penyelenggara, baik Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), desas desus pencalonan semakin hari terlihat kencang mengalir. Beberapa spekulasi yang menggambarkan sosok ini berpasangan dengan itu terus terumbar. Baik di warung kopi, terminal, pasar hingga di jagat maya.

Tak terkecuali, hari-hari besar keagamaan pun dihiasi dengan gembar-gembor informasi pilkada. Bahkan para tokoh agama mulai dilirik atau juga ikut berperan agar mendapat lirikan dari kandidat-kandidat yang sedari awal bertebaran. Meski, hingga saat ini, belum bisa dipastikan apakah nama-nama yang akan bertarung pada pilkada nanti, dimana mereka telah memajang wajah di ruas-ruas kota, akan terpilih sebagai calon tetap. Baik dari jalur independen maupun partai politik sebagai peserta pemilu.

Pada dasarnya, ajang kontestasi 5 tahunan ini akan menjadi momen berharga bagi pemuka agama. Mereka punya power untuk memengaruhi publik (umat/jamaat) dalam menentukan pilihan. Bahkan, mereka memiliki peran strategis dalam rangka mengarahkan massa untuk menjaga kualitas pemilu atau sebaliknya, menghancurkan alias mengacaukan. Singkatnya, tokoh agama punya “ayat” jitu di ajang pilkada.

Di Manado, meski masyarakatnya begitu terbuka, kebanyakan sangat “religius”. Masih kental dengan penghormatan kepada pemuka agama, baik pendeta maupun sebutan lain pada agama-agama yang ada. Ketokohan pemuka agama sering mengalahkan posisi elit politik. Jika toh ada figur politisi yang disanjung, ujung-ujungnya ia berafiliasi dengan para pemuka agama yang mengarahkan pilihan politiknya kepada Sang Politisi. Dengan kata lain, ketokohan seseorang harus ditempeli oleh figur agamawan. Jika tidak, maka secara perlahan akan mengalami penyusutan popularitas.

Kenyataan ini, sebut saja tidak hanya terjadi di Manado. Hampir semua daerah mengalami hal yang sama. Namun, ada hal yang penting dibahas terhadap penokohan agamawan, apalagi di ajang pilkada, di Kota Manado. Berikut beberapa diantaranya;

1. Menjadi Tim Doa. Ini unik. Ternyata, berkaca dari pilkada sebelumnya, atau diajang pemilu 2019 baru-baru ini. Tidak sedikit pemuka agama yang masuk dalam sebuah tim pemenangan khusus bagian pen-doa. Ini menandakan, betapa para kandidat masih meyakini bahwa kekuatan non-teknis dibutuhkan dalam kerja-kerja meraup suara.

2. Menjadi juru kampanye. Di rumah-rumah ibadah, tempat kegiatan keagamaan dan atau pada pagelaran tahapan kampanye itu sendiri, tidak sedikit para pembawa risalah ketuhanan itu langsung menjadi juru kampanye. Mereka dengan lantang berseru agar rakyat memilih calon yang diusung. Bahkan, sesekali, dalam kampanye mereka, mengutip firman-firman Tuhan untuk meyakinkan bahwa calon mereka adalah pantas dipilih.

3. Mediator. Tokoh agama, biasanya berafiliasi dengan tokoh-tokoh lainnya. Sehingga jasa mereka juga dipakai untuk mempertemukan Sang Kandidat dengan publik figur lain untuk meraup dukungan.

Selain ketiga hal yang mencolok itu, tentu masih banyak lagi peran mereka di ajang pilkada, yang kaitannya dalam dukung mendukung. Oleh karena itu, keberadaan tokoh agama harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh semua pihak. Karena, mereka memiliki basis masa, faith-full followers, serta perangkat pendukung lainnya.

Menyadari bahwa peranan tokoh agama sangatlah penting, maka, sebelum “ditempeli” para kandidat, penting kiranya keberadaan mereka untuk “ditarik” oleh penyelenggara pilkada, KPU & Bawaslu, untuk memberikan edukasi regulasi serta informasi tentang kepemiluan dan serba serbinya. Agar, pesan utama pagelaran pilkada ini bisa menohok untuk masuk ke batin rakyat sebagai penganut agama.

Pemanfaatan tokoh agama oleh para kandidat, baik sebagai tim doa, juru kampanye hingga mediator harus lebih awal “direkrut” Bawaslu, misalnya, agar kuasa mengajak publik untuk senantiasa menjaga kualitas pilkada. Dari doa mereka, melahirkan keberkatan dan kebaikan. Dari kampanye mereka, terlontar pesan perdamaian dan kedewasaan dan dari gerakan mediasi mereka telahirlah kesepakatan positif yang menjunjung tinggi sportivitas. Artinya, tokoh agama, meski ia berafiliasi dengan kandidat, harus terus menerus melakukan tindakan yang positif bagi proses tahapan pilkada.

Tokoh agama adalah (harus menjadi) tauladan. Kita butuh mereka untuk mengawal proses demokrasi di ajang pilkada. Kita harus mengajak mereka terlibat dalam menjaga semangat sportivitas. Menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan. Sehingga selama prosesi pilkada, semua kalangan mendapat pencerahan. Sebaliknya, jika para tokoh justru menjadi benalu, maka ramai-ramai Kita menjauh meski dari mulutnya keluar ayat-ayat suci sekalipun. (**)

Kita butuh kesejukan. Agamawan paling tahu hal itu.

iklan1