ICMI dan Kuburan Intelektualisme

Reiner Emyot Ointoe (Foto Ist)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Budayawan dan tokoh ICMI Sulut

Menjelang datangnya ajal rezim Orde Baru (1998), aktivis kampus Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang di paruh tengah tahun 90-an menggelar hajat diskusi soal peranan intelektual kampus vis a vis intelektual muslim — ketika itu pengaruh gerakan intelektual pelecut Revolusi Islam di Iran dgn tokohnya Ali Shariati (1933-1977) lagi gencar dengan gerakannya “raushanfikr” — sedang dilanda malaise yang beredar di sekitar pusat-pusat kegiatan intelektual: Kampus Perguruan Tinggi Negeri.

Terutama, berlakunya kontrol ketat dan keras rezim Orde Baru pada “kebebasan mimbar akademis” dan berlakunya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kehidupan Kampus) era Mendikbud Daud Jusuf dan berlanjut pada Nugroho Notosusanto dengan “Wawasan Almamater”. Walhasil, kampus sebagai pusat aktivitas kecendekiawanan dipaku dlm kotak birokrasi kampus. Karna itu, inisiatif aktivis cendekiawan kampus Unibraw mengundang Menristek Prof. Dr. Ir. B.J. Habibie (kelak, Presiden RI ketiga) ke kampus untuk bicara “kebebasan kaum cendekiawan.”

Ringkas cerita, sejak itu tercetus pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia(ICMI) yg kelak akan memberi ruang “formal” bagi ide-ide cendekiawan untuk bisa diwujudnyatakan. Akhirnya, ICMI awal setelah memilih BJ. Habibie menjadi ketuanya yg pertama, justru mempercepat runtuhnya rezim pengendali cendekiawan. Dengan demikian, refleksi atas bangkitnya kembali ICMI secara organisasional seperti merehabilitasi “kuburan intelektual” yg nyaris lebih dari 20 tahun tenggelam dlm gempita politik sejak Ketuanya menjadi Presiden RI ketiga tidak lebih dari 543 hari kekuasaannya.

Meski dia telah meletakkan fondasi bagi kebebasan cendekiawan dan demokrasi, ICMI sebagai organ yg pernah dipimpinnya tenggelam bersama “kejatuhannya.” Karna itu, membangkitkan kembali gerakan cendekiawan muslim seperti ICMI bisa dianggap sebagai klenengan yang mengenaskan. Meski demikian, saya masih menaruh harapan agar “kuburan” ini yg harus diaktifkan adalah spiritnya, ruh intelektualnya yg tidak fana.

Sejatinya, organ intelektual ini menghidupkan kembali cadangan imunnya: ide-ide/gagasan dan daya kritis. Tanpa ini, kebangkitan kaum cendekiawan apapun dan dari manapun hanya akan dipandang sebagai artefak kencana atau pualam bagi semangatnya yg luput dari jatiwahananya: rasionalitas. [**]

iklan1
iklan1