Reiner Ointoe: Barakallahu Fii Umrik Senator Djafar Alkatiri

Reiner Ointoe dan Djafar Alkatiri (Foto Ist)

Oleh : Reiner Ointoe, penulis buku

SENATOR Vita Brevis. Hidup kian surut ke depan. Ibarat banjir, ia bisa tinggal residu-residu yang baik atau berbahaya. Sejarah para senator dari zaman Kaisar Augustus dikenal sebagai Gaius Octavian pada abad ke-23 SM. Kaisar yang sangat diktator. Sebagai bekas senator, Octavian sangat paham hidup dlm negeri yang mula-mula ditemukan oleh Plato sebagai embrio republik (res public).

Tiap senator harus seorang republikan. Seorang yang merumuskan dan menata urusan atau aturan(res) publik. Meski dalam sistem republik kita, para senator sebagai wakil publik di DPD RI (dipilih langsung oleh publik), mereka tak mengatur langsung urusan publik. Mereka lebih sebagai etalase politik bagi semua kebijakan publik yg diatur oleh parlemen (DPR RI) sebagai mandat rakyat yg presidensial. Karena itu, tak ada tatanegara di dunia manapun menyerupai negara kesatuan RI kita.

Aneh. Ajib bin binongkol. Lepas dari segala kemaruk dalam tatanegara kita yang diimbuhi dengan rupa-rupa lembaga superbody yg lemah body-nys seperti KPK, Ombusman, KIP, KPI, Komnas HAM,Anak,Perempuan — sebentar lagi LGBT — dengan populasi penduduk lebih dari 200 juta jiwa di 34 propinsi dan lebih dari 400 kabupaten-kota hanya diurus oleh tak lebih 1000 orang parlemen plus senator.

Dibantu oleh kurang lebih empat juta ASN plus 600 ribu TNI & Polri. Walhasil, negara kita adalah negara gemuk dengan kekayaan alam. Namun, kerontang dalam masalah gizi (stunting nutrition), kaum papah (lebih dari 25%), pengangguran (di atas 10%) dan penuh pekerja sukarela dan sangat aktif — profesional intelektual, hackers hingga buzzer — di medsos sebagai “netizens planeter lebih dari 15% (users).

Sinopsis sebagai “khotbah jumat” ini didedikasikan pada Milad saudaraku Senator Ir. Djafar Alkatiri MPdi. Kau sudah dipilih oleh lebih dari 150.000 warga se-Sulut tanpa sepeserpun uang yang kau sangukan. Jika kau berikan sangu itu untuk memilihmu sebesar Rp. 50.000/pemilih, itu setara kau menguras kocekmu sebesar Rp.750.000.000. Jika itu berupa hutang berbunga, tiap reses berbandrol Rp. 250.000.000, baru akan ditunai bagi sepertiga pemilihmu dan itu mustahil. Karna tak satupun yang kau tahu telah memilihmu.

Itulah misteri mandat keterwakilanmu sebagai senator untuk semua orang. Sebagai yuniorku, inilah hadiah miladmu dari saya. Hanya sebuah refleksi atas amanah umat manusia se-Sulut. Sebagai seorang intelektual yang dibekali master dlm ilmu “pendidikan agama” sufistik, tentu kau tahu persis apa “hikmah & amanah” atas kehidupan fana ini.

Barakallahu fii umrik Senator Djafar Alkatiri. (**)

iklan1
iklan1