Milenials dan Early Morning

Oleh : Reiner Ointoe, Fiksiwan

Sketsa refleksi milenials (Foto Ist)

Orang adalah guru utama bagi dirinya. Tak seorangpun bisa membentuk kecerdasan secerkas apapun levelnya sebagai guru (baca: dosen) tanpa harus jadi milenials. Tiap generasi adalah milenials di eranya hingga durasi “lifetime”nya berangsur surut dan akhirnya punah.

Para guru utama dari level usia manapun akan menempuh cara hidup (lifestyle) dengan kebiasaan (habitus) yang disebut Pierre Bordieu dengan modus dan arena yang diaktifkan jauh lebih awal. Karna itu, kaum cerdik pandai dan penuh kekuatan “kecerdasan spiritual” membentuk enerji kuantumnya pada dinihari. Selain keutamaan ekologis, para milenial bukan perkara yang diukur hanya melalui peringkat usianya.

Milenials adalah definisi “lifetime & lifestyle” dengan kualitas dan kualifikasi di atas rerata normalitas manusia dengan siklus makan tiga kali, tidur delapan jam, kerja delapan jam. Tapi, sejatinya lebih suka santai dan rileks lebih dari duabelas jam, termasuk jadwalnya pulas mendengkur.

Padahal, disiplin psikologi milenials yang diteliti ahli psikologi manajemen, Malcolm Gladwell, khususnya orang yang di atas rerata kebiasaan normal aktivitasnya, disebutnya: Outliers. Jika Gladwell mengamatinya pada jenis anjing, ia mirip dengan judul bukunya: mampu mencermati “what the dogs saw?”.

Atau, dari buku Gladwell yang populer dan laris manis, para milenial adalah makhluk planeter yang dengan mudah mengaktifkan potensi-potensi yang tak bisa diindrai oleh rerata makhluk manusia normal lainnya. Ibarat “mistikus”, mereka memiliki kemahiran cenayang. Menerawang dengan cerdas dan cekat apa saja yang mereka ikhtiarkan (blink). Dengan “blink”, nyaris seluruh enerji dan potensi kita akan menekan jadwal hidup yang biasa menjadi luar biasa.

Misalnya, bangun dini hari dengan memanfaat tidur malam hanya lima jam, saya bisa menikmati bioritme tubuh dan jiwa lebih lawas, lentur dan legit menelan apa saja yang berkecamuk dalam pikiran saya. Pujangga John Keats menemukan itu dalam kalimat ringkasnya: It rhymes the past. Menikmati senikmat-nikmatnya masa lalu dengan habitus dan modus masakini (milenial).

Seperti catatan ini, ia mengalirkan kembali enerji memori saya pada masa silam yang memiliki cadangan dan deposit yang melimpah. Karna itu, “sesal mana yang harus disesali” (Rendra) dan “nikmat manalagi yang mesti didustai (Quran)? Seruput dinihari berkelindan dan sebentar lagi subuh dan azan berseru: assalah tuhairun minannaum (solat itu lebih indah dan nikmat dari tidur pulas).

iklan1
iklan1