KUDA TUNGGANG dan Steping Stone

Ilustrasi, elit vs massa (Foto Ist)

Oleh : Reiner Ointoe, Fiksiwan

Masih pagi. Sebuah undangan daring WA datang. Undangan itu berasal dari dua orang elit politik. Mengusung tema: silaturahmi dan dialog keumatan. Sebuah tema klise jika ada hajatan politik atau sekadar ikhtiar untuk menguji berulang-ulang (dan terus kalah dan terpuruk) ihwal politik identitas yang selalu kehilangan “darah” segar menghadapi “virus” akut massa politis(political mass).

Politik identitas atas nama “SARA” selalu ditumbuhkan oleh “sentimen pasar” Pilkada hingga Pilpres. Seolah bagai orang linglung atas sejarah kekalahan seperti dalam perang Uhud. Bahkan lebih dahsyat dalam kekalahan telak dlm perang “6 Hari”, politik identitas kerumunan itu sejatinya tak bisa dipakai sebagai amunisi baru dalam kompetisi di medan manapun.

Entah ekonomi, politik, sains hingga sekedar jihad kecil melawan rasa lupa atas hasrat kuasa sebagai “subyek radikal” dalam perspektif Slavov Zizek. Hanya karna kata “silaturahmi” itu lebih di depan dibanding “dialog keumatan” dlm undangan tersebut, saya pun berbesar hati mengapresiasinya.

Meski sebetulnya, pikiran dan sedikit semangat yang tersisa, dialog ini nantinya akan meretas pelan-pelan teori usang tentang politik identitas yang selalu kehilangan darah akibat tiga faktor: 1. “The Faith of Loss”(baca: lemahnya syahwat akidah), 2. “Lost of Agendas”(baca: kehilangan daya hidup), 3. “The Nerve of Failure” (baca: Virus syaraf kegagalan).

Ketiga faktor ini diambil dari relasi teoritik “faithful masses” dan subyek radikal dalam setiap urusan komunitas politis manapun. Seringkasnya, kesenjangan antara elit dan massa pendukungannya selalu akan jadi ibarat “kuda tunggang” yang menjadikan para elitnya harus mencari “batu lompatan (steping stone) lewat yang terbujuk secara tidak sadar. Walhasil, mengusung politik identitas dengan tema keumatan selalu akan berakhir dengan siapa jadi “korban & musuh” politik sekaligus.

iklan1
iklan1