Archive for: Januari 2020

Gelar Dialog Politik Awal Tahun 2020, AIPI Manado Hadirkan Ketua DKPP

Raymond Pasla saat menyampaikan laporan panitia (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Kecemasan terhadap proses demokrasi yang menyimpang terus menjadi kajian dan langkah antisipasi bagi Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Cabang Manado. Ditengah kesiapan berbagai pihak menghadapi Pilkada Serentak 2020, AIPI Cabang Manado menyelenggarakan Dialog Politik Awal Tahun dengan mengusung tema: “Ujian Integritas Penyelenggaraan Pilkada 2020”. Kegiatan ini dilaksanakan, Selasa (28/1/2020) bertempat di Graha Pena Kota Manado.

Dalam sambutannya, Ketua AIPI Cabang Manado, Drs Steven Kandouw mengingatkan agar dialog tersebut melahirkan formula yang tepat guna meningkatkan kualitas mutu demokrasi di daerah Sulawesi Utara (Sulut). Upaya tersebut, lanjut Steven yang juga Wakil Gubernur Sulut ini diawali dengan pembenahan terhadap sistem rekrutmen penyelenggara Pemilu sehingga benar-benar berintegritas.

”Kerinduan kita semua adalah Pilkada Serentak 2020 yang menyedot anggaran tidak sedikit ini mengasilkan pemimpin yang berkualitas. Artinya dari berbagai aspek memang perlu menjadi pertimbangan kita. AIPI Manado akan hadir disini demi memberi kontribusi nyata, kita punya komitmen melakukan konsolidasi demokrasi. Berbagai cara kita harus lakukan, diantaranya melalui proses seleksi penyelenggara Pemilu yang berintegritas,” ujar Steven.

Sementara itu yang berlaku sebagai pembahas materi adalah Prof. Muhammad Alhamid, S.IP.,M.Si, Plt Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP),Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulut, Dr Ardiles Mewoh, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulut, Dr (C) Herwyn Malonda, SH.,M.Pd dan selaku moderator sekaligus pembahas yaitu Dr Ferry Daud Liando, Ketua Minat Tata Kelola Pemilu Pascasarjana Unsrat Manado.

Ketua AIPI Manado saat menyampaikan sambutan (Foto Suluttoday.com)

Prof Muhammad menjelaskan soal kerja penyelenggara Pemilu yang profesional. Ragam tantangan, godaan dan deviasi demokrasi akan mampu dihadapi penyelenggara Pemilu jika benar-benar konsisten menjalankan aturan. Putra Sulawesi Selatan (Sulsel) yang telah malang melintang di dunia penyelenggaraan Pemilu itu menyampaikan beberapa catatan penting terkait trik menjaga integritas.

”Tentu godaan dan tantangan penyelenggara Pemilu tidak mudah. Bukan hanya penyelenggara Pemilu yang harus dikuatkan, tapi kita memerlukan kerja bersama dari masyarakat dan para kader partai politik. Jangan usik kita yang sedang bekerja menunaikan apa perintah aturan. Kemudian dalam hal menjawab tantangan-tantangan demokrasi yang kompleks, para penyelenggara Pemilu harus memahmi kode etik. Integritas itu bukan sekedar dimengerti, melainkan dijalankan, atas kerja yang benar sesuai aturan, saya percaya Pilkada Serentak 2020 akan kita lalui dengan sangat baik dan sukses,” kata Prof Muhammad yang juga Pengurus DPP AIPI tegas.

Suasana foto bersama usai dialog (Foto Suluttoday.com)

Untuk diketahui, kegiatan ini diawali dengan doa pembuka dan laporan panitia yang disampaikan Reymond Pasla, S.IP. Sjumlah ahli dan pakar politik Sulawesi Utara ikut hadir, berkontribusi secara pemikiran. Terlihat yang memberikan tanggapan sekaligus masukan adalah Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Unsrat, Drs Ronny Gosal, Dekan FISPOL Unsrat, Dr Novie R. Pioh, Dr Goinpeace Tumbel, Dr Max Egeten, dan yang lainnya.

Ikut hadir Dr Toar Palilingan, pakar hukum Sulut, Prof Welly Areros, Dr Welly Waworundeng yang merupakan dosen FISPOL Unsrat Manado. Kemudian, para penyelenggara Pemilu seperti KPU Kabupaten/Kota dan Bawaslu Kabupaten/Kota se-Sulut juga hadir, ada para akedmisi. Mantan penyelenggara Pemilu, pegiat demokrasi, mahasiswa, aktivis organisasi Cipayung dan kalangan jurnalis. (*/Redaksi)

Membumikan Budaya Menulis di Kalangan Mahasiswa

Rusmin Hasan (Foto Suluttoday.com)

 Oleh : Rusmin Hasan, Aktivis HMI Cabang Tondano 

Dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswa tak dapat dilepaskan dari aktivitas membaca dan menulis. Kedua aktivitas tersebut dimaksudkan untuk memperkaya khazanah pengetahuan sekaligus mengembangkan spesialisasi keilmuan mahasiswa. Dengan melakukan aktivitas membaca dan menulis, mahasiswa diharapkan akan memiliki kemampuan memahami dan mengaplikasikan bidang keilmuan yang tentu saja sangat menunjang proses akademiknya. Aktivitas membaca dan menulis pada dasarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Untuk dapat melakukan aktivitas menulis, mahasiswa dituntut membudayakan aktivitas membaca. Dengan kata lain, aktivitas menulis mahasiswa berkaitan erat dengan aktivitas membacanya. Namun demikian, aktivitas membaca yang menjadi landasan menulis ini ternyata belum begitu maksimal. Masih dijumpai mahasiswa yang kurang antusias membaca literatur-literatur terkait mata kuliahnya. Tidak jauh berbeda dengan tingkat membaca masyarakat Indonesia umumnya, rendahnya minat membaca juga terjadi di kalangan mahasiswa. Adanya kenyataan rendahnya budaya membaca di kalangan mahasiswa ini tentu berpengaruh terhadap aktivitas menulisnya.

Dalam melakukan aktivitas menulis, mahasiswa dituntut membuka berbagai literatur. Kesulitan dalam melakukan aktivitas menulis dimungkinkan terjadi jika mahasiswa tidak memiliki motivasi dan ketekunan membaca. Memang dapat dikatakan mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi tidak bisa menghindar dari aktivitas menulis. Di perguruan tinggi, khususnya S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya tulis, seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir).

Mahasiswa dituntut memiliki kemampuan menulis dalam menunjang keberhasilan studinya. Sebut saja misalnya dosen yang mengampu mata kuliah X menganjurkan mahasiswa menyusun makalah sebagai bagian dari penilaian akhir. Mahasiswa yang mendapatkan tugas menyusun makalah tentu saja harus menuliskannya secara baik, sistematis, dan mudah dipahami. Dengan penyusunan makalah yang baik dipastikan memudahkan dosen memahami kerangka berpikir mahasiswa dalam penyajian makalahnya.

Penyusunan makalah secara baik, sistematis, dan mudah dipahami jelas akan memberikan nilai positif. Tugas penyusunan makalah ini tidak saja diberikan oleh dosen yang megampu mata kuliah X, tetapi juga dosen-dosen mata kuliah lainnya. Banyaknya tugas makalah yang diberikan dosen berarti menuntut mahasiswa selalu membuka literatur dan menulis. Kebiasaan membaca dan kemampuan menuangkan pemikiran dalam tulisan yang dimiliki mahasiswa dipastikan akan berbanding lurus dengan peningkatan prestasi akademiknya. Ditinjau lebih jauh, aktivitas membaca dan menulis sebenarnya telah ditumbuhkan dosen di perguruan tinggi.

Tugas penyusunan makalah, misalnya, mengajak mahasiswa tekun membaca dan meningkatkan kualitas tulisan. Lomba kepenulisan karya ilmiah pun sering kali diselenggarakan di perguruan tinggi, seperti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) dan Program Penulisan Kritis Mahasiswa (PPKM). Dari pemberian tugas makalah dan lomba kepenulisan tersebut mahasiswa diarahkan untuk membiasakan membaca dan menulis sebagai tradisi intelektual di perguruan tinggi. Pertanyaannya, apakah mahasiswa memberikan respons positif terhadap stimulus menulis tersebut? Aktivitas menulis di kalangan mahasiswa bisa dikatakan belum berjalan baik.

Rangsangan menulis yang dilakukan dosen atau pun melalui lomba penulisan menunjukkan beragam perilaku di kalangan mahasiswa. Diakui atau tidak, mahasiswa sering kali merasa terbebani dengan tugas-tugas penyusunan makalah. Setiap dosen memberi tugas menyusun makalah selalu ditanggapi negatif oleh sebagian mahasiswa. Bahkan, mahasiswa tidak jarang memberikan stigma buruk terhadap dosen yang memberi tugas menyusun makalah karena dianggap memberatkan.

Berbagai lomba kepenulisan pun hanya diikuti oleh segelintir mahasiswa. Adanya respons kurang baik dari mahasiswa ini tentu disebabkan berbagai faktor yang tidaklah sederhana. Harus diakui jika karakter sebagian mahasiswa saat ini lebih menyukai pekerjaan yang tidak terlalu berat. Setiap tugas kuliah—tidak hanya penyusunan karya tulis—selalu dianggap membebani mahasiswa. Budaya instan memang disadari telah menjangkiti kepribadian sebagian mahasiswa di perguruan tinggi.

Perilaku menyontek saat ujian pertengahan semester dan ujian akhir semester tidak dimungkiri merupakan penyakit akut yang menunjukkan budaya instan tersebut. Mahasiswa dengan karakter seperti ini (baca : mahasiswa Z) dalam mengerjakan tugas kuliah termasuk menyusun makalah sering kali asal cepat jadi. Dalam penyusunan makalah atau karya tulis lainnya, mahasiswa Z ini sering kali hanya memindahkan tulisan orang lain atau mencomot berbagai referensi tanpa memerhatikan kaidah penulisan yang baik dan benar. Misal, mahasiswa Z dalam menyusun tugas makalah memiliki tema ”Keluarga dan Penanaman Moral”.

Melihat potret demokrasi kita dekade ini, yang masih mencari jati diri demokrasi sejati, kian hari makin menurun dengan tindakan orogansi pemimpin serta tindakan represif militerisme sehingga narasi sederhana ini, penulis persembahkan sebagai alternatif gerakan progresif untuk kawan-kawan mahasiswa, aktivis serta semua elemen untuk kembali membumikan tradisi menulis sebagai wahana menghidupkan diskursus dalam ruang publik untuk penguatan demokrasi kita.

Kegiatan menulis adalah hal yang sangat unik dan menarik, dikarenakan kita menghidupkan paradigma imajinasi nalar kritis serta sebagai titik balik menghiasi sejarah diri kita serta kita persembahkan buat generasi. Meminjam istilah Prof. Dr. T. Jacob dalam Kata Pengantar buku Menulis Karya Ilmiah karangan Etty Indriati, Ph.D (2003), mahasiswa yang menulis karya-karya ilmiah disebut sebagai karyawan ilmiah. Bagi karyawan ilmiah, menulis seharusnya telah menjadi budaya dan panggilan hidup untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat luas.

Dengan menulis, mahasiswa tentu akan dapat mentransformasikan pengetahuan dan wawasannya. Di pihak mahasiswa, motivasi internal dalam diri mahasiswa sendiri untuk giat menulis tentu saja sangat diharapkan. Diakhir tulisan sederhana ini, saya meminjam bahasanya sang sastrawan indonesia terkenal yakni Pramoedya Ananta Toer, Beliau mengatakan bahwa “ Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan sejarah”.

GERAK Sulut Siap Laporkan Pelaksana Proyek Pembangunan Tambatan Perahu di Talaud

Jim R. Tindi (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Berdasarkan hasil tinjauan lapangan dan investigasi yang dilakukan Tim dari Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GERAK) Sulawesi Utara (Sulut) belum lama ini. Akhirnya, ditemukan sejumlah kejanggalan yang akan dibeberkan Direktur Eksekutif GERAK Sulut, Jim R. Tindi terkait proyek Pembangunan Tambatan Perahu di Desa Karatung Kecamatan Nanusa Kebupaten Kepulauan Talaud Sulut. Tindi menemukan sejumlah indikasi ketidakberesan kerja kontraktor dan stakeholder terkait dalam proyek bernilai Rp. 1,5 Miliar tersebut.

Menurut Tindi ada dugaan kuat kerugian negara terjadi dari pelaksanaan proyek yang terlambat penyelesaiannya itu. Tindi yang juga putra Talaud, kini menjabat Ketua PRD Sulut telah menyiapkan bukti-bukti untuk dilaporkan ke pihak berwajib. Aktivis vokal itu menyebutkan bahwa tak ada kompromi bagi pihak-pihak yang disinyalir menyalahgunakan uang rakyat.

”Sekedar diketahui, Proyek Tambatan Perahu berbandrol 1,5 Miliar ini di duga asal jadi. Proyek yang berlokasi di Pulau Karatung Kecamatan Nanusa Kabupaten Kepulauan Talaud itu, pengerjaannya sudah lewat waktu. Di tambah dengan pengrusakan terumbuh karang dan rumput laut. Serta menggunakan material hasil urukan laut sebagai timbunan pada proyek. Terindikasi kuat penuh kejanggalan,” tutur Tindi tegas, Rabu (27/1/2020).

Kondisi proyek yang belum rampung (Foto Suluttoday.com)

Proyek yang menggunakan anggara 2019 diambil dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Pemda Talaud sampai saat ini belum juga rampung. Berdasarkan Surat Perjanjian Nomor: 10/SP/PPK/PTPDK-KT/DISHUB/-DAK/2010 tertanggal 18 Juli 2019, dikerjakan oleh CV Anugerah Putra Pratama sebagai pelaksana. Kejanggalan lain kata Tindi adalah proyek tersebut tanpa menggunakan papan informasi.

”Proyek juga tidak memiliki Papan informasi kepada masyarakat. pihak pekerja hanya menjalankan instruksi via telephone. GERAK akan segera membawa kasus ini di Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut. Proyek Pembangunan Tambatan Perahu Desa Karatung, Kecamatan Nanusa Kabupaten Kepulauan Talaud harusnya sudah selesai, karena masa kerjanya sudah lewat,” kata Tindi.

Lanjut Tindi, dalam Pasal 35 (i) UU Nomor 27 Tahun 2007 menjelaskan tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tegas menyatakan bahwa, “Dalam pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, setiap Orang secara langsung atau tidak langsung dilarang melakukan penambangan pasir pada wilayah yang apabila secara teknis, ekologis, sosial, dan/atau budaya menimbulkan kerusakan lingkungan dan/atau pencemaran lingkungan dan/atau merugikan Masyarakat sekitarnya”. Namun sayangnya, hal tersebut seperti diabaika.

Sampai berita ini diterbitkan, pihak terkait seperti pelaksana proyek belum juga terkonfirmasi. Beberapa pihak yang terlibat yang ikut menjadi pekerja proyek pun tak mau memberikan komentar perihal apa yang ditanyakan wartawan. (*/Am)

Pertama di Sulut, Vanly Pongulu Gagas Layanan Publik Berbasis Aplikasi

Hukum Tua Desa Kali Oki, Vanly Pongulu (kanan)

Tombatu, Suluttoday.com – Dalam rangka peningkatan layanan masyarakat sembari menuju desa mandiri, Hukum Tua Desa Kali Oki, Vanly Pongulu membuat gebrakan melalui inovasi pelayanan publik berbasis aplikasi atau online.

Gagasan dari Vanly Pongulu ini diberi nama Develope System Manajemen Surat berbasis web. Saat ini pengembangan inovasi tersebut baru mencapai 20 persen, lantaran masih harus melalui beberapa proses terlebih dahulu.

“Inovasi berbasis aplikasi ini sedang kita godok melalui perencanaan yang matang supaya bisa kita implementasikan di tengah masyarakat Desa Kali Oki. Program ini juga masih harus melewati evaluasi APBDes oleh Pemkab Minahasa Tenggara. Usai evaluasi, maka inovasi tersebut kita kembangkan lagi agar ready 100 persen saat digunakan warga,” terang Pongulu, Senin (27/01/2020).

Menurut Pongulu, lewat aplikasi ini akan memudahkan masyarakat dalam pengurusan berkas-berkas berkaitan dengan kepentingan warga itu sendiri. Karena, seluruh data-data warga Desa Kali Oki mulai dari nama maupun nomor induk kependudukan akan di input kedalam aplikasi ini.

“Jadi, apabila ada masyarakat yang memerlukan surat keterangan, baik itu keterangan usaha, domisili bahkan juga kelengkapan dokumen lainnya bisa langsung mengakses aplikasi Develope System Manajemen Surat berbasis web ini. Disamping itu pula, apabila memerlukan tanda tangan dari kumtua namun bersangkutan sedang ada tugas luar, aplikasi ini bisa memfasilitasi tanda tangan elektronik dari pejabat yang berwenang,” jelasnya.

Lagi menurut Pongulu, aplikasi ini akan terintegrasi dengan website desa serta Sideka atau Sistem Informasi Desa dan Kawasan. Pula kedepan akan di kembangkan agar bisa terkoneksi juga dengan Dinas Capil berkaitan dengan kependudukan. Selain itu, akan ada admin khusus yang mengoperasikan aplikasi tersebut, namun tidak membatasi warga untuk mengaksesnya.

“Bila sudah ready, rencananya aplikasi ini akan kita launching pada bulan Mei atau Juni tahun ini. Selain itu, setelah saya cek, Develope System Manajemen Surat berbasis web atau elayanan publik berbasis online ini adalah yang pertama di Sulawesi Utara,” tutup Pongulu. (Egi)

Sarana Prasarana Wisata Jadi Program Prioritas Desa Kali Oki

Tombatu, Suluttoday.com – Dalam rangka pengembangan pembangunan desa serta meningkatkan sumber daya manusia, berbagai program tengah dicanangkan Pemerintah Desa Kali Oki, Kecamatan Tombatu, Minahasa Tenggara (Mitra).

Dituangkan lewat Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) untuk tahun anggaran 2021 mendatang, beberapa program menjadi skala prioritas. Seperti, sarana prasarana wisata, pembersihan eceng gondok di pinggiran danau Bulilin serta pembangunan lanjutan pembuatan turap dengan total mencapai 800 meter.

“Selain itu, ada juga peningkatan jalan perkebunan sepanjang 1.5 kilo meter dan sarana olah raga desa yakni penataan lapangan. Kemudian, program pemberdayaan masyarakat masuk pada pelatihan kelompok-kelompok usaha yang ada di Desa Kali Oki,” ungkap Hukum Tua Vanly Pongulu, disela-sela Musrenbangdes, Senin (27/01/2020).

Vanly pun menerangkan dalam Musrenbangdes yang dihadiri tokoh agama, tokoh masyarakat, BPD serta warga yang pula disaksikan utusan dari kecamatan, terdapat 70 sampai 80 usulan. Dalam proses musyawarah pun diputuskan beberapa program tersebut menjadi skala prioritas pembangunan Desa Kali Oki kedepan. (Egi)

iklan1